Mengenal Crowde, Platform untuk Permodalan Petani

Jakarta, TechnoBusiness ID ● Saat ini, minat masyarakat Indonesia dalam berinvestasi masih sangat rendah, yakni sekitar 0,4%. Penyebab utamanya karena minimnya informasi, sekalipun produk investasi yang dapat dipilih telah banyak.

Belakangan ini, produk-produk investasi berbasis teknologi, seperti peer to peer lending, pun bermunculan. Polanya amat mudah, hanya mengandalkan ponsel pintar di tangan. Satu dari sekian banyak platform teknologi finansial (fintech) itu bernama Crowde.

Crowde merupakan platform fintech berkonsep peer to peer lending untuk permodalan petani. Menggunakan model bisnis crowdlending, CEO Crowde Yohanes Sugihtononugroho menjelaskan, Crowde mengumpulkan dana investor lalu menyalurkannya kepada berbagai proyek usaha tani.

Baca Juga: Mencari Solusi Pendanaan Petani

Crowde, yang sudah terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan, hadir dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani. “Caranya, dengan memberi kemudahan dalam mengakses permodalan,” kata Yohanes. Agar calon-calon investor paham, Crowde secara aktif melakukan edukasi.

Setelah itu, Crowde mengajak masyarakat untuk mempraktikkannya dengan memberi modal investasi awal senilai Rp10.000. Itu dilakukan, “Agar masyarakat lebih mengenal konsep investasi dan tertarik untuk segera melakukannya,” ungkap Yohanes.

Platform fintech semacam Crowde diperlukan para petani di Tanah Air yang memang menghadapi bermacam kendala untuk bisa disebut sejahtera. Kendala-kendala itu, mulai dari kebutuhan selama masa tanam hingga panen dan lain sebagainya.

Baca Juga: Mengatasi Kemiskinan Petani dengan Skema Value Chain Financing

Kumbo Lasmono, periset senior dari Spire Indonesia, dalam Spire Insight yang dimuat TechnoBusiness Indonesia pada Maret lalu, menggambarkan bahwa petani yang serbasalah. “Jika masa panen tiba pun harga gabah langsung anjlok,” katanya.

Untuk menjadi petani yang lebih maju, masyarakat terkendala dana. “Memang lembaga-lembaga keuangan resmi menawarkan pinjaman, tapi mereka enggan meminjam karena syaratnya yang dianggap terlalu berbelit-belit,” lanjut Kumbo.

Kumbo berpendapat bahwa kemunculan fintech yang fokus pada pembiayaan petani bisa menjadi solusi. Sebab, petani tergolong profesi yang paling membutuhkan bantuan permodalan dalam usahanya.●

—Anwar Ibrahim, TechnoBusiness ID ● Foto: Crowde

 

Ajisatria Suleiman: “Kenapa Fintech Itu Menarik?”

PowerTalks.ID/TechnoBusiness ID ● Perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang teknologi finansial (financial technology/fintech) belakangan ini tumbuh subur bak jamur pada musim hujan.

Jika merujuk pada data Asosiasi Fintech Indonesia, per September ini ada 67 fintech lending, 3 agen reksa dana khusus berbasis teknologi informasi (TI), dan 2 pialang asuransi khusus berbasis TI yang terdaftar secara resmi di Otoritas Jasa Keuangan.

Baca Juga: Selamat Datang Selfin, Penantang Baru Facebook

Sedangkan yang terdaftar di Bank Indonesia ada 10 penyelenggara fintech, 1 penyelenggara dompet elektronik, 7 penyelenggara payment gateway, 13 penyelenggara uang elektronik, dan lain sebagainya.

Direktur Eksekutif Asosiasi Fintech Indonesia M. Ajisatria Suleiman mengungkapkan bahwa industri fintech saat ini sama seperti ketika booming e-commerce pada 4-5 tahun lalu. “Karena masih awal, maka belum ada pemenang di fintech,” katanya.

Baca Juga: Strategi AirAsia Dorong Pertumbuhan Lewat Data

Di hadapan para peserta PowerTalks.ID, talkshow bulanan yang diadakan oleh IDX Incubator, Tripal.co, dan TechnoBusiness Indonesia, pada Jumat (21/9) malam, Aji melanjutkan, “Oleh karena itu, semua orang mencurahkan pikiran, sumber daya, dan uang untuk menjadi pemenang di fintech.”

Ia menggambarkan bahwa sebelum kelihatan pemenangnya, para pemain e-commerce juga jor-joran dengan segala strategi yang dimiliki. Kondisi itu akan terjadi sampai pada satu titik muncul sang pemenang.

TechnoBusiness Star: Erick Hadi Talked About Hard Choice in His Life and Career

Saat lima besar e-commerce sudah diketahui, yang keenam dan seterusnya mulai melakukan konsolidasi. Sebab, pasarnya sudah terkonsentrasi ke yang paling besar. “Kalau di fintech belum sampai pada titik itu,” jelas Aji.

Karena belum mencapai titik itu, maka masih sulit menyebutkan siapa yang menjadi pemain terbesar di industri fintech saat ini. Tidak hanya yang bergerak di bidang payment, tapi juga lending, dan lain sebagainya. Apalagi, fintech yang fokus pada lending pun masih terpecah-pecah sesuai target pasarnya.

“Jadi, untuk terlibat di industri fintech saat ini sangat menarik karena sedang hot-hot-nya,” terang Aji. “Diprediksi 4-5 tahun mendatang akan muncul Unicorn berikutnya dan itu kemungkinan berasal dari fintech.”●

—Purjono Agus Suhendro, TechnoBusiness ID ● Foto & Video: TechnoBusiness ID

 

Baca artikel-artikel bisnis teknologi yang menarik, baik global maupun lokal, di TechnoBusiness ID; simak dan berlanggananlah konten-konten video TechnoBusiness TV di sini.#NoBusinessWithoutTechnology

 

What’s Hot about Fintech: Why Even Unicorns are Moving Into It?

PowerTalks.ID ● Financial Technology (Fintech) sebagai salah satu alternatif solusi keuangan diharapkan mampu mendongkrak inklusi keuangan di Indonesia. Melalui inovasi digital, fintech makin mampu menjangkau seluruh segmen masyarakat, bahkan yang tidak memiliki akses keuangan ke lembaga keuangan konvensional.

Fintech hadir dengan maraknya layanan e-payment, pembiayaan digital, penasihat keuangan digital, financial aggregator, dan lainnya. Bahkan, saat ini jumlahnya telah melebihi 150-an dan akan terus meningkat. Hingga akhir 2018 diprediksi mencapai 164 fintech. Saat itu, dana pinjaman yang dikucurkan pun tidak main-main besarnya, yang diyakini akan menyentuh angka Rp15 triliun.

Satu hal yang menarik untuk ditelaah yaitu:

  1. Mengapa banyak sekali startup, mulai dari yang baru tumbuh hingga startup unicorn, ramai-ramai masuk ke bisnis fintech?
  2. Apa yang membuat jumlah startup fintech tumbuh mengalahkan startup lainnya dalam waktu singkat?

Kembali hadir untuk Anda, para startup enthusiast, PowerTalks.ID Monthly Talks hasil kerja sama antara IDX Incubator, Tripal.co, dan TechnoBusiness Indonesia edisi September 2018 yang bertema:

“What’s Hot about Fintech: Why Even Unicorns are Moving into It?” dengan Ajisatria Suleiman (Direktur Eksekutif Kebijakan Publik Fintech Indonesia) sebagai pembicara dan Kevin Wu (Founder & CEO Tripal.co) sebagai host.

Hari: Jumat, 21 September 2018

Jam: 18.00 – 21.00 WIB

Tempat: IDX Incubator, Jakarta.

GRATIS.

Daftar sekarang, Tempat Terbatas.

Klik > http://exc.li/powertalksid 

 

Fintopia pun Terpikat Pasar Indonesia

Jakarta, TechnoBusiness ID ● Perusahaan-perusahaan rintisan (startup) lahir dari sebuah ironi kemajuan pasar konvensional. Kelahirannya bertopang inovasi untuk mengisi celah yang ada.

Begitu pula dengan teknologi finansial (financial technology/fintech), hadir untuk menjembatani pasar yang selama ini tidak tersentuh perbankan dan lembaga pembiayaan lainnya.

Rendahnya akses ke perbankan dari sebagian besar populasi penduduk Indonesia itulah yang kemudian dilirik pula oleh perusahaan fintech asing, salah satunya Fintopia Inc.

Baca Juga: Hadapi Kecerdasan Buatan, CEO Harus Beradaptasi!

Fintopia merupakan perusahaan fintech asal China. Di Indonesia, Fintopia masuk dengan mendirikan anak usaha bernama PT Indonesia Fintopia Technology. Layanannya dinamakan EasyCash.

Menurut co-founder dan CEO Fintopia Liu Yongyan, perusahaannya ingin berkontribusi dalam pembangunan sektor keuangan yang inklusif di seluruh dunia.

“Kami secara khusus memperhatikan upaya pembangunan platform fintech yang berorientasi pasar teknologi agar bisa memenuhi kebutuhan pendanaan yang cepat, nyaman, dan mudah dijangkau.”

Sepertinya Fintopia tidak main-main dalam menggarap pasar Indonesia. Dalam waktu singkat, perusahaan langsung mendapatkan izin resmi dari Otoritas Jasa Keuangan.

Baca Juga: Mengenal Keunggulan Teknologi Sprint Digital 360

Beroperasinya Fintopia menambah daftar pasar yang dimasukinya. Pasar-pasar itu antara lain Hong Kong, Jepang, Thailand, dan Brazil, negara-negara di luar asal muasalnya.

Gerak cepat itu memang sudah menjadi ciri khas Fintopia, bahkan sejak sebelum lahir. Menurut sejarah, Fintopia dimulai dari secangkir kopi dua insinyur Facebook dan Microsoft yang kebetulan teman kuliah.

Dua insinyur itu, satu adalah Yongyan yang pernah bekerja di Google dan Facebook, satu lagi Bo Geng—saat ini bertindak sebagai co-founder sekaligus chief technology officer—dari Microsoft.

Seiring berkembangnya teknologi, keduanya menyadari kemampuan merek untuk membangun sistem analisis kredit generasi mutakhir. Sistem itu berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan mengubah cara orang untuk mendapatkan kredit ataupun berinvestasi.

Baca Juga: Setelah ValuKlik Diakuisisi Dentsu Aegis Network

Kesadaran itu kemudian secara cepat diejawantahkan menjadi Fintopia dan mulai beroperasi di Beijing pada September 2015. Sejak itu, Fintopia berkembang pesat dan memiliki banyak karyawan.

Sampai saat ini, Fintopia mempekerjakan sebanyak 260 karyawan yang menurut mereka kebanyakan berlatar pakar keuangan dari Wall Street dan ahli teknologi informasi asal Silicon Valley, California, Amerika Serikat.

Penggunanya, berdasarkan penjelasan di situs resminya, telah mencapai 17,3 juta orang. Dari jumlah itu, Fintopia menyalurkan pendanaan hingga ¥39,1 miliar.

Dalam menjalankan operasinya, Fintopia bekerja sama dengan empat mitra, antara lain Beijing Kunlun WanWei Technologies (SZA: 300418), Huaxia Bank Co Ltd (SHA: 600015), China International Capital Corp Ltd (HKG: 3908), dan Face.●

—Intan Wulandari, TechnoBusiness ID ● Foto: Fintopia

 

Zahir Alokasikan Rp100 Miliar untuk Fintech Syariah

Jakarta, TechnoBusiness ID ● Bisnis penyaluran modal lewat teknologi finansial (financial technology) memang seksi. Itu sebabnya, perusahaan-perusahaan, baik rintisan maupun yang sudah besar, berlomba-lomba melahirkan aplikasi fintech.

Berdasarkan data dari Asosiasi Fintech Indonesia, jumlah perusahaan fintech per 2017 mencapai 235. Menginjak 2018, jumlahnya sudah bertambah cukup banyak, bahkan ada yang menyebutkan hingga 600-an perusahaan.

Hari ini, TechnoBusiness Indonesia baru saja menerima pengumuman resmi dari PT Zahir Internasional yang mengatakan bahwa perusahaan meluncurkan fintech syariah dengan nama Zahir Capital Hub.

Baca Juga: Teknologi dan Tumpuan Tiens Selanjutnya

Untuk menyediakan layanan itu, Zahir bekerja sama dengan perusahaan fintech syariah lainnya, yakni Alami, Asy-Syirkah, Ethis, dan Kapital Boost. Perusahaan yang sudah berdiri sejak lebih dari 20 tahun lalu itu tak main-main dan menyatakan siap mengucurkan modal hingga Rp100 miliar untuk bisnis barunya tersebut.

“Zahir Capital Hub hadir untuk menjawab perkembangan teknologi yang luar biasa di bidang teknologi finansial,” kata Muhamad Ismail, CEO Zahir Internasional. “Zahir punya potensi besar untuk meraih sukses di industri fintech.”

Apa yang dikatakan Muhamad sepertinya tak terlalu muluk-muluk. Sebab, sebagai pengembang aplikasi bisnis yang sebagian kliennya berskala usaha kecil menengah, Zahir akan dengan mudah menggaet pelanggan untuk bisnis barunya tersebut.

Baca Juga: Salim Group Tanamkan Investasi Strategis di Youtap

Zahir mengambil jalan penyaluran pinjaman secara syariah karena beberapa alasan. Pertama, kata Muhamad, sifatnya yang transparan atau terbuka. Kedua, menguntungkan semua pihak yang terlibat. Ketiga, menggunakan sistem bagi hasil.

“Ini menjadi layanan pintar dan mudah bagi perusahaan untuk mendapatkan investasi permodalan dari fintech syariah yang kredibel dan tepercaya,” ungkap Muhamad.

Dalam menjalankan bisnisnya, Zahir pun sudah tergabung dalam Asosiasi Fintech Syariah Indonesia dan telah mengantongi izin Otoritas Jasa Keuangan. Ketua Asosiasi Fintech Syariah Indonesia Ronald Yusuf menyatakan potensi pasar fintech syariah memang menggiurkan.

“Hal itu karena Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbanyak dan dengan jumlah pengguna internet yang sangat besar,” ujar Ronald di sela-sela Konferensi Keuangan Syariah ke-3 di Makassar, Sulawesi Selatan. “Kehadiran Zahir Capital Hub sangat positif.”●

—Ivan Darmawan, TechnoBusiness ID ● Foto: Zahir

 

IDC: Layanan Fintech di Indonesia Mesti Merger

Jakarta, TechnoBusiness ID ● Layanan teknologi finansial (financial technology/fintech) di Indonesia tumbuh bak “jamur di musim hujan”. Berdasarkan data Asosiasi Fintech Indonesia, jumlah penyedia layanan fintech nasional sampai saat ini sudah mencapai 124 startup.

Baca Juga: Uber pun Akhirnya Menyerah dari Pasar Asia

Oleh karena itu, sekalipun pasarnya besar, kolaborasi antar-fintech dan lembaga keuangan tradisional menjadi penting.

“Kolaborasi antara fintech dan lembaga tradisional [bank] menjadi wajib untuk sekarang dan di masa depan,” ungkap Handojo Triyanto, Manajer Riset Senior IDC Financial Insight, di Jakarta, Selasa (29/3).

Kolaborasi itu, baik secara operasional maupun investasi, bertujuan untuk tetap bertahan dan memenangkan persaingan. “Di masa depan, pasar fintech Indonesia akan berkonsolidasi dengan kolaborasi, merger, dan akuisisi. Itu sudah terjadi karena Go-Pay mengakuisisi Midtrans, Kartuku, dan Mapan,” ungkapnya.

Di samping itu, potensi pasar yang besar juga tengah dilirik oleh pemain-pemain global seperti Google, Alibaba, Tencent, dan lain sebagainya. Masuknya raksasa itu melalui akuisisi dan lain sebagainya membuat peta konsolidasi itu semakin nyata.●

—Intan Wulandari, TechnoBusiness ID ● Foto-Foto: IDC,  Hayes Culleton

 

Pasar Fintech Asia Pasifik Diproyeksikan Mencapai US$72 Miliar pada 2020

  • Sepanjang 2015-2020, pasar fintech di Asia Pasifik diperkirakan tumbuh 72,5%.
  • Prospek positif itu dipacu oleh suksesnya digitalisasi pembayaran, termasuk di kawasan Asia Tenggara.

 

Singapura, TechnoBusiness Inovasi dalam berbelanja, melakukan transaksi perbankan, membeli asuransi, dan lain sebagainya di kawasan Asia Pasifik diprediksi akan bergerak sangat cepat.

 

Baca Juga: INILAH 30 PERUSAHAAN INDONESIA TERBAIK 2017 VERSI FROST & SULLIVAN

 

Hal itu didorong oleh inisiatif regulator-regulator, termasuk Monetary Authority of Singapore, Bank Negara Malaysia, dan Bank Indonesia di regional Asia Tenggara, dalam mengembangkan ekosistem financial technology (fintech) secara signifikan selama 2017.

Periset pasar global Frost & Sullivan di Swissotel The Stamford Singapore, Kamis (8/2), memaparkan bahwa prospek fintech tahunan di Asia bakal tumbuh secara CAGR sebesar 72,5% sejak 2015-2020 senilai total US$72 miliar.

Menurut Frost & Sullivan, prospek positif itu dipacu oleh tumbuhnya digitalisasi pembayaran atau transaksi nontunai. Selain itu, kesadaran pembiayaan menggunakan peer to peer (P2P) semakin besar dan munculnya crowdfunding berbasis blockchain.●

—Michael A. Kheilton, TechnoBusiness ● Foto-Foto: Businessworld.in, invenicement

 

Perluas Pasar, Investree Ekspansi ke Jawa Tengah

  • Demi mendekatkan diri dengan target pasar, Investree membuka kantor perwakilan di Semarang.
  • Sampai saat ini Investree telah menyalurkan pinjaman ke UMKM dan karyawan senilai Rp237 miliar.

 

Jakarta, TechnoBusiness ID ● PT Investree Radhika Jaya, perusahaan rintisan di bidang financial technology (fintech) sekaligus peer-to-peer (P2P) lending marketplace di Tanah Air, baru saja mengumumkan ekspansi usahanya ke Jawa Tengah dan sekitarnya dengan kantor perwakilan di Semarang.

 

Baca Juga: iCIO Community: Pemerintah dan Telegram Sebaiknya “Duduk Bersama”

 

Ekspansi Investree itu merupakan yang pertama di luar Jabodetabek. Tujuannya untuk memperluas jangkauan layanan, terutama bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di provinsi tersebut. “Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Jawa Tengah, terdapat peningkatan jumlah UMKM sebanyak lebih dari 40.000 dan itu potensi yang besar untuk dieksplorasi,” ungkap Adrian Gunadi, Co-founder dan CEO Investree, Rabu (26/7).

Ekspansi tersebut dilakukan setelah Investree resmi terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan sejak 31 Mei 2017. Sebagai perusahaan fintech, Investree mengusung misi sederhana, yakni sebagai online marketplace yang mempertemukan orang yang memiliki kebutuhan pendanaan (borrower) dengan orang yang bersedia meminjamkan dananya (lender).

Seluruh aktivitas atau transaksi pinjam-meminjam di Investree dilakukan secara online, khususnya bagi lender. Setiap tahapan mulai dari registrasi, melihat daftar pinjaman di marketplace, hingga mentransfer pendanaan dijalankan melalui situs Investree.

“Untuk pengelolaan dana, kami juga telah bekerja sama dengan bank rekanan, yaitu Danamon, dalam hal sistem manajemen kas berupa fasilitas automatic payment dan automatic posting atau yang biasa disebut dengan host-to-host service, sehingga mempercepat proses pemberian pinjaman kepada borrower,” jelas Adrian.

 

Rp237 Miliar

Dana yang telah berhasil disalurkan Investree per Juli 2017.

 

Dalam pelayanannya, Investree menawarkan dua produk, antara lain Pinjaman Bisnis (Business Loan) dan Pembiayaan Karyawan (Employee Loan). Pinjaman Bisnis merupakan modal kerja untuk memperlancar arus kas (cash flow) dengan menjaminkan tagihan (invoice). Sedangkan Pembiayaan Karyawan diberikan kepada karyawan dari perusahaan yang bekerja sama dengan Investree dengan minimal gaji Rp3,1 juta per bulan.

Berdasarkan data yang disampaikan Investree, sampai saat ini perusahaan rintisan itu telah berhasil menyalurkan pinjaman sebesar Rp237 miliar. Jumlah itu sebanyak Rp187 miliar masih berupa pinjaman yang tersalurkan dan Rp144 miliar telah lunas. Yang menarik, tingkat gagal bayar (default) atau non-performing loan-nya 0%.●

 

Intan Wulandari, TechnoBusiness ID ● Foto-Foto: Investree

 

BCA Kucurkan Rp200 Miliar untuk Central Capital Ventura

  • BCA membentuk perusahaan modal ventura bernama Central Capital Ventura untuk mendukung ekosistem (financial technology) di Indonesia.
  • Sebagai tahap awal, BCA mengucurkan dana sebesar Rp200 miliar kepada CCV sebagai modal operasional.

 

DEPOK – Bisnis tidak bisa lagi dipisahkan dengan teknologi. Itu sebabnya, di era digital saat ini, inovasi teknologi amat berperan dalam menyukseskan perusahaan. Selain menjadi nilai tambah bagi masyarakat, teknologi juga menumbuhkan profesi dan karier baru, salah satunya developer aplikasi.

PT Bank Central Asia Tbk. (BCA) menyatakan amat mendukung pertumbuhan profesi dan arah bisnis baru tersebut. Sebagai langkah dukungan, bank itu belum lama ini membentuk perusahaan modal ventura yang diberi nama PT Central Capital Ventura (CCV). Wakil Presiden Direktur BCA Armand W. Hartono mengatakan CCV merupakan medium untuk berinvestasi dan berkolaborasi dengan perusahaan financial technology (fintech).

 

Baca Juga: Berbekal Teknologi API, BCA Maksimalkan Garap Pasar Ritel

 

Ia menjelaskan, pembentukan perusahaan modal ventura yang mendukung perusahaan fintech itu nantinya diharapkan akan menyokong ekosistem layanan keuangan dan anak usaha BCA. Sebagai tahap awal, BCA mengucurkan dana sebesar Rp200 miliar kepada CCV sebagai modal operasional. Suntikan dana tersebut sudah mendapatkan persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan pada 27 Desember 2016.

ARMAND W. HARTONO
Wakil Presiden Direktur BCA

Di samping membentuk perusahaan modal ventura, BCA juga aktif dalam diskusi terkait perkembangan teknologi. “Sebagai bank swasta nasional, BCA turut mendukung inovasi teknologi dalam berbagai rangkaian kegiatan dan diskusi serta aktif menggunakan berbagai inovasi teknologi terbaru yang aman dan nyaman sehingga mendukung komitmen perseroan dalam memberikan pelayanan prima dan nilai tambah bagi masyarakat,” ungkap Armand di hadapan 600 mahasiswa dan alumnus Universitas Indonesia dalam “Seminar Edukasi Fintech Indonesia” di Kampus UI, Depok, Jawa Barat, Rabu (15/3).

Selain mendirikan CCV, BCA juga mengembangkan Application Program Interface (API) yang memungkinkan pebisnis ritel terkoneksi secara langsung dengan layanan perbankan sehingga dapat menikmati beragam informasi dan transaksi secara cepat dan mudah. Juga, Website Developer API BCA yang menyediakan informasi seputar layanan API BCA seperti transfer, mutasi rekening, lokasi ATM, dan pembayaran dompet virtual Sakuku untuk mendukung bisnis peritel.**

Intan Wulandari, TechnoBusiness Indonesia • Foto-Foto: BCA