Penandatanganan LoI pemerintah RI dan AstraZeneca atas pembelian vaksin COVID-19 AZD1222.

Pemerintah Indonesia membeli 300 juta dosis vaksin COVID-19 AZD1222 yang dikembangkan oleh AstraZeneca.

Jakarta, TechnoBusiness ID • Pemerintah Indonesia dan AstraZeneca (Nasdaq: AZN) semakin serius membahas penyediaan vaksin COVID-19 AZD1222 yang dikembangkan oleh Universitas Oxford dan AstraZeneca.

Baca Juga: diKios Tawarkan Peluang Buka Minimarket Modal Rp25 Juta

Untuk tahap awal, pemerintah Indonesia membeli 300 juta dosis vaksin COVID-19 AZD1222 yang disediakan AstraZeneca melalui fasilitas COVAX.

Kedua belah pihak menandatangani Letter of Intent (LoI) yang menandai persetujuan Perjanjian Pembelian Awal (Advance Purchase Agreement) tersebut sebelum akhir Oktober di Kedutaan Besar Indonesia, London, Inggris pada Rabu (14/10).

Dalam penandatanganan LoI itu, pemerintah Indonesia diwakili oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan Oscar Primadi, sedangkan dari AstraZeneca oleh Presiden Direktur PT AstraZeneca Indonesia Se Whan Chon.

Baca Juga: Praktik “Scamming” Sambut Peluncuran iPhone 12


Menteri BUMN Erick Tohir, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, dan Vice President Astra Zeneca Sjoerd Hubben turut menyaksikan penandatanganan tersebut.

Vaksin COVID-19 AZD1222 menggunakan basis vektor virus simpanse yang replication-deficient pada virus penyebab flu (adenovirus) yang telah dilemahkan.

Pembahasan mengenai pembelian awal vaksin COVID-19 dengan AstraZeneca itu merupakan bukti keseriusan pemerintah Indonesia dalam mengatasi pandemi.

Seperti diketahui, AZD1222 merupakan salah satu kandidat vaksin COVID-19 menurut World Health Organization (WHO). Penandatanganan LoI untuk memastikan ketersediaan vaksin kepada masyarakat sebelum akhir bulan ini.

Baca Juga: Jumlah Kawasan Industri Bertambah 51,25% dalam 5 Tahun

“AstraZeneca berkomitmen untuk mendukung akses yang luas dan merata terhadap calon vaksin di Indonesia, sehingga kita dapat mengatasi pandemi ini bersama-sama,” ungkap Chon.

Vaksin COVID-19 AZD1222 ditemukan oleh Universitas Oxford bersama perusahaan yang dikembangkannya, Vaccitech.

Vaksin itu menggunakan basis vektor virus simpanse yang replication-deficient pada virus penyebab flu (adenovirus) yang telah dilemahkan, yang menyebabkan infeksi pada simpanse dan mengandung materi genetik dari protein spike virus SARD-CoV-2.

Baca Juga: Penjualan Ritel Online di Asia Pasifik Bernilai US$2,5 Triliun

Setelah vaksinasi, permukaan protein spike akan diproduksi, yang menghasilkan sistem kekebalan untuk menyerang virus SARS-CoV-2 ketika menginfeksi tubuh.

Meski telah mengembangkannya, AstraZeneca mengaku menyediakan vaksin COVID-19 AZD1222 itu tanpa laba dan rugi selama pandemi.•

—Anwar Ibrahim, TechnoBusiness ID • Foto: AstraZeneca

 

Simak berita-berita kami dalam bentuk video di kanal TechnoBusiness TVJangan lupa berikan atensi Anda dengan “like, comment, share, dan subscribe”.


LEAVE A REPLY

Masukkan komentar Anda di sini!
Please enter your name here