Sedikitnya 13% perusahaan di dunia melaporkan telah kehilangan lebih dari US$50 juta karena kasus kejahatan terhadap perusahaan.

London dan Jakarta, TechnoBusiness ● Seperti kita ketahui, kasus penipuan kepada pelanggan sudah biasa, tapi bagaimana dengan kasus kejahatan terhadap perusahaan?

Baca Juga: Teknologi Berkeley Lights Digunakan untuk Ciptakan Obat Virus Corona

Ternyata jumlahnya tak kalah banyak. Berdasarkan hasil penelitian PwC yang dirilis di London, Senin (2/3), 47% perusahaan mengaku pernah mengalami korban kejahatan.

Persentase kasus kejahatan terhadap perusahaan sebesar itu terjadi dalam dua tahun dan terbesar dalam dua dekade terakhir.

Baca Juga: Produsen Kertas China Fuling Global Buka Pabrik di Semarang

39% responden mengatakan pelaku eksternal adalah sumber utama kasus kejahatan terhadap perusahaan.

Menurut Kristin Rivera, Global Forensics Leader PwC, kasus kejahatan terhadap perusahaan menghantam dari semua sudut. Pelaku bisa dari internal, eksternal, atau dalam banyak kasus ada kolusi.



Selama dua tahun ini, 39% responden mengatakan pelaku eksternal adalah sumber utama kasus kejahatan terhadap perusahaan.

Satu dari lima responden mengaku vendor atau pemasok sebagai sumber kejahatan terhadap perusahaan dari eksternal yang paling mengganggu.

 

Simak berita-berita kami dalam bentuk video di kanal TechnoBusiness TVJangan lupa berikan atensi Anda dengan “like, comment, share, dan subscribe”.

[nextpage]

Malah, 13% responden melaporkan telah kehilangan lebih dari US$50 juta dalam dua tahun ini. Kasusnya bermacam-macam.

Rivera menjelaskan, kasus kejahatan terhadap perusahaan itu bisa berupa antitrust, perdagangan orang dalam, penipuan pajak, pencucian uang, serta penyuapan dan korupsi.

Baca Juga: Bali Terpilih Sebagai Destinasi Paling Populer 2020

Lebih dari 60% perusahaan mulai menggunakan teknologi untuk memerangi kejahatan terhadap perusahaan.

“Lima kejahatan itu yang paling mahal dalam hal [mencetak] kerugian langsung—kadang-kadang ditambah dengan biaya perbaikan yang signifikan,” ungkap Rivera.

Teknologi Sebagai Jawaban?

Untuk meminimalisasi kasus kejahatan terhadap perusahaan, banyak perusahaan yang akhirnya menggunakan teknologi mutakhir.

Baca Juga: 10 Merek Paling Bernilai di Dunia 2020

Dalam laporan PwC, lebih dari 60% perusahaan mulai menggunakan teknologi seperti Artificial Intelligence dan Machine Learning untuk memerangi penipuan, korupsi, atau kejahatan terhadap perusahaan lainnya.

Akan tetapi, proses penggunaan teknologi juga tak berjalan mulus. Besarnya biaya yang dibutuhkan dan keterbatasan tenaga ahli menjadi kendala.

 

Simak berita-berita kami dalam bentuk video di kanal TechnoBusiness TVJangan lupa berikan atensi Anda dengan “like, comment, share, dan subscribe”.

[nextpage]

”Perusahaan sering gagal melihat nilai dalam teknologi ketika mereka tidak berinvestasi pada keterampilan dan keahlian yang tepat untuk mengelolanya,” kata Rivera.

Baca Juga: Wow, Jumlah Pengguna Facebook Tembus 2,5 Miliar

Perusahaan riset lain, Spire Research and Consulting, menyatakan hal serupa dengan PwC. Perusahaan riset dan konsultasi bisnis global yang kini di bawah naungan Yamada Consulting Group itu membenarkan bahwa kasus kejahatan terhadap perusahaan tak kalah banyak dari penipuan pelanggan.

Untuk menanggulangi tindak kejahatan terhadap perusahaan, teknologi diperlukan. Tetapi, itu juga memunculkan dilema.

“Pengadaan bahan baku atau bahan jadi yang harganya di-mark up oleh orang dalamnya sendiri itu juga bagian dari kejahatan terhadap perusahaan,” kata Jeffrey Bahar, Group Deputy CEO Spire Research and Consulting.


Baca Juga: 5 Cara Optimalkan Biaya Logistik tanpa Pangkas Kualitas Layanan

Belum lagi soal korupsi keuangan perusahaan, pemanfaatan jabatan untuk kepentingan pribadi, bahkan tak memanfaatkan waktu dengan baik atau bermalas-malasan pun termasuk bagian dari kejahatan terhadap perusahaan.

Benar, untuk menanggulangi tindak kejahatan terhadap perusahaan, teknologi diperlukan. Tetapi, itu juga memunculkan dilema.


Baca Juga: Nodeflux Mulai Arahkan Teknologinya untuk Perbankan

“Untuk mendatangkan teknologi tinggi, perusahaan harus berinvestasi dengan nilai yang tidak sedikit,” kata Jeffrey kepada TechnoBusiness Indonesia di Jakarta, Selasa (3/3).

Sebenarnya banyak perusahaan yang sanggup melengkapi bisnisnya dengan teknologi, lanjutnya, tetapi teknologi tersebut harus dioperasikan oleh seorang yang profesional. “Jika tidak, ya sama saja buang-buang uang.”●

—Richard O. Kimberly (Inggris), Anwar Ibrahim (Indonesia), TechnoBusiness/PRN ● Foto: Pixabay

 

Simak berita-berita kami dalam bentuk video di kanal TechnoBusiness TVJangan lupa berikan atensi Anda dengan “like, comment, share, dan subscribe”.

LEAVE A REPLY

Masukkan komentar Anda di sini!
Please enter your name here