Karyanto, Founder JamuDigital

Oleh Karyanto, Founder JamuDigital

Menyoroti tentang OMAI di antara potensi sumber daya alam dan potensi pasarnya.

 

TechnoBusiness Opinion • Pandemi COVID-19 mengguncang dunia. Hingga November 2020, belum ditemukan obatnya. Kini, vaksinnya sedang diriset oleh berbagai perusahaan—dan sudah memasuki babak akhir uji klinis fase 3. Kehadirannya digadang-gadang untuk menangkal penyebaran COVID-19.

Sejak pandemi COVID-19 berembus dari Kota Wuhan, China, pada Desember 2019, kemudian menyebar ke penjuru dunia, masyarakat dunia dipaksa untuk meningkatkan sistem imunitas tubuhnya. Ini satu-satunya cara tindakan preventif karena belum ada obat dan vaksin COVID-19.

Baca Juga: Normal Baru, Peluang Baru, Persaingan Baru Oleh Andy Juniarso

Tumpuan masyarakat dunia agar terhindar dari paparan virus melalui droplet adalah memakai masker, menjaga jarak, dan gaya hidup yang bersih, sehat dan seimbang. Inilah cara yang disepakati para tenaga kesehatan dunia untuk mereda penularan virus.



Para ahli kesehatan global sepakat bahwa daya tahan tubuh yang prima adalah benteng terakhir agar manusia kuat menangkal virus ketika tubuh terpapar COVID-19. Kekebalan tubuh seseorang atau sistem imunitas tubuh adalah “senjata” andalan untuk menangkal virus tersebut.

Dari sekian banyak cara untuk mendongkrak imunitas tubuh, di antaranya adalah mengonsumsi herbal yang memiliki khasiat imunomodulator. Bersyukur, Indonesia adalah “gudangnya” tanaman obat dan banyak yang memiliki khasiat untuk meningkatkan imunitas tubuh.

Ibaratnya, a blessing in disguise, suatu hal baik atau berkah yang didapat dari suatu kejadian yang tidak kita harapkan, yaitu wabah COVID-19.

Baca Juga: Go…Go… GoUli… Oleh Hadi Kuncoro

Sumbangan jamu pada perekonomian nasional: Angka penjualan jamu sekitar Rp20 triliun, dan yang diekspor sekitar US$30 juta. Nilai ekonomi jamu Indonesia dapat berupa bahan jamu, produk jamu, dan produk jamu kosmetik.

Manfaatnya juga tak terhitung, sangat besar: untuk kesehatan, kebugaran, imunitas, kecantikan, kebanggaan warisan leluhur yang terjaga dan terus berkembang di era modern saat ini.

Pada saat pandemi COVID-19 ini, peran tanaman obat yang diracik menjadi jamu atau obat herbal sangat penting kehadirannya.

Potensi bahan alam di Indonesia—kekayaan hayati (biodiversitas) yang berkhasiat obat dapat ditinjau dari sejumlah aspek, yaitu genetic resources, traditional knowledge, herbal medicine product.

Baca Juga: Benang Kusut Pandemi COVID-19 di Industri Telekomunikasi Oleh Herfini Haryono

Dilihat dari aspek genetic resources atau merujuk pada keanekaragaman hayati di Indonesia. Dengan lebih dari 30.000 spesies tanaman, Indonesia dikenal sebagai negara megabiodiversitas kelima terbesar di dunia.

Sedangkan aspek traditional knowledgenya didasarkan pada hasil penghimpunan informasi oleh Riset Tumbuhan Obat dan Jamu (Ristoja).

Menurut data Ristoja, terdapat 25.821 ramuan dan 2.670 spesies tumbuhan obat. Data tersebut diperoleh setelah meneliti 303 etnis yang tersebar di 24 provinsi di Indonesia.

Kemudian melalui aspek herbal medicine product dapat melihat jumlah NIE (Nomor Izin Edar) obat tradisional. Data yang tersedia hingga September 2018, sebanyak 10.688 NIE (data base Badan POM). Dan kurang dari 5.000 simplisia yang digunakan untuk memproduksi obat tradisional.

Baca Juga: Soal Pelanggaran Data Pemilu Oleh Yeo Siang Tiong

Ini benar-benar potensi yang dahsyat. Jamu harusnya jadi muatan kapal ekspor non migas, juga menjadi senjata penembus pasar global di tengah era back to nature masyarakat dunia.

Tidak banyak negara dengan potensi sehebat  Indonesia. Lantas mengapa jamu Indonesia belum naik kelas menjadi bagian dari Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)?

Flagship OMAI pada Sistem JKN

Flagship artinya produk/jasa yang paling menunjukkan value, keunggulan, keahlian, dan keunikan dari produk/jasa tersebut.

Flagship OMAI (Obat Modern Asli Indonesia) adalah produk obat herbal yang sudah teruji pra-klinis atau uji klinis yang diriset oleh peneliti Indonesia dari bahan alam asli Indonesia, kemudian diproduksi oleh perusahaan nasional, sehingga memiliki value, keunggulan dan keunikan.

Baca Juga: 6 Strategi Bertahan Perusahaan dari Krisis Corona Oleh Andy Juniarso

Presiden Joko Widodo saat membuka Rakernas Ikatan Apoteker Indonesia mengajak seluruh pihak terkait untuk bersama melakukan reformasi sistem kesehatan nasional secara besar-besaran. Reformasi tersebut juga mencakup kemandirian obat dan bahan baku obat yang diharapkan dapat segera dicapai.

“Kita tahu bahwa sekitar 90% obat dan bahan baku obat masih mengandalkan impor. Padahal negara kita sangat kaya dengan keberagaman hayati baik di daratan maupun di lautan. Hal ini jelas memboroskan devisa negara, menambah defisit neraca transaksi berjalan, dan membuat industri farmasi dalam negeri tidak bisa tumbuh dengan baik,” ujarnya dalam video yang ditayangkan kanal YouTube Sekretariat Presiden pada Kamis, 5 November 2020.


Sebelumnya, tiga menteri dan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan memberikan pernyataan tentang OMAI dengan berbagai penekanan untuk: Kemandirian obat nasional, Substitusi importasi bahan baku obat, dan Nilai tambah ekonomi Indonesia.

Kemenristek Bambang Brodjonegoro mengungkapkan saat ini 90-95% alat kesehatan dan obat nasional masih menggunakan bahan baku impor. Beliau menyebut kebutuhan impor secara bertahap harus diturunkan dengan membangun kemandirian OMAI.

Baca Juga: Misleading Advertisement Oleh Andy Juniarso

Kemandirian obat nasional dapat dibangun dengan mengembangkan dan memanfaatkan biodiversitas yang dimiliki Indonesia, sehingga mengurangi ketergantungan pasokan bahan baku impor.

Jamu harusnya jadi muatan kapal ekspor non migas, juga menjadi senjata penembus pasar global di tengah era back to nature masyarakat dunia.

Pemerintah melalui Kemenristek mendukung adanya hilirisasi riset OMAI atau fitofarmaka. Oleh sebab itu, Menristek mengapresiasi produsen obat yang berhasil membuat produk OMAI yang dihasilkan dari bahan baku dalam negeri.

Tentunya ini menjadi peran pemerintah untuk membantu hilirisasi industri, agar semakin banyak dikonsumsi, dalam hal ini kami akan mengusulkan penggunaan obat-obatan fitofarmaka di program kesehatan pemerintah.

Menteri Bambang menyampaikan arahan khusus terkait pengembangan obat fitofarmaka di industri farmasi Indonesia.

Salah satunya fokus dalam pengembangan obat fitofarmaka pada penyakit yang banyak ada di Indonesia. Dengan adanya pengelompokan penyakit bisa difokuskan kebutuhan riset obat yang dibutuhkan.

Baca Juga: Bukalapak: “Nilai Transaksi Kami Tahun Ini US$6,5 Miliar”

Upaya itu merupakan langkah mendorong kemandirian bahan baku obat nasional sekaligus memberikan nilai tambah bagi perekonomian Indonesia.

Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengatakan pemerintah bersama dengan industri farmasi mengambil langkah cepat untuk melaksanakan Instruksi Presiden No.6 Tahun 2016 tentang Percepatan dan Pengembangan Industri Farmasi Alat Kesehatan.

Sejumlah langkah telah dipersiapkan oleh Kementerian Kesehatan untuk mengurangi ketergantungan impor bahan baku obat dan alat kesehatan.

Menkes Terawan mengapresiasi industri yang mendukung strategi pemerintah dalam mengurangi ketergantungan impor bahan baku obat dan alat kesehatan, melalui riset penemuan dan hilirisasi produk Obat dan Alkes.

Baca Juga: TikTok Indonesia: “3 Tahun, 30 Miliar Views per Bulan”

Kata kuncinya adalah kerja sama. Harus dilakukan kerja sama dengan berbagai pihak untuk mempercepat proses produksi OMAI. Selain itu, penting juga dilakukan penelitian dan pemasaran yang bagus.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menjelaskan industri farmasi merupakan industri strategis yang berdampak pada kebutuhan masyarakat banyak. Apalagi, saat ini terjadi wabah corona, di mana upaya kesehatan masyarakat meningkat tajam, sehingga kebutuhan obat-obatan juga naik.

Terlebih lagi industri farmasi menjadi salah satu industri yang terdampak dengan adanya wabah ini, mengingat 60% kebutuhan bahan baku berasal dari China.

Menperin kembali menegaskan bahwa industri farmasi merupakan salah satu industri nonmigas yang menjadi target pertumbuhan industri nasional. Pihaknya sangat mengapresiasi lagkah ke hilirisasi dengan OMAI.

Baca Juga: Bhinneka.com: “Semoga Target Tetap Tercapai”

Ini jelas mempunyai kandungan TKDN 100%, dan ini dapat dimaksimalkan dengan digunakannya OMAI di JKN, selain akan mendapatkan substitusi produk impor farmasi, juga akan mendorong potensi ekspor, agar terjadi multiplier effect untuk semakin mendorong pertumbuhan ekonomi.

Harus dilakukan kerja sama dengan berbagai pihak untuk mempercepat proses produksi OMAI.

Kepala BPOM Penny K. Lukito berharap pengembangan dan hilirisasi riset obat herbal memberikan peluang masuknya obat tradisional- yang dikenal dengan OMAI dapat sebagai alternatif dalam sistem Jaminan Kesehatan Nasional.

“Pengembangan OMAI dalam pelayanan kesehatan formal sangat besar. OMAI dapat mengisi kekosongan ketersediaan obat kimia, menjadi komplementer obat kimia, dan sebagai pendukung pengobatan utama,” harapnya pada Dialog Bersama Tenaga Ahli “Peran Badan POM Dalam Mengawal Inovasi Produk Obat Tradisional dan Suplemen Kesehatan yang Berdaya Saing” secara daring, pada 21 Oktober 2020.

OMAI Mendunia

Menelisik potensi pasar obat herbal Indonesia di kawasan ASEAN, tentu kita perlu melihat bagaimana caranya agar produk lokal dapat dikenal di dunia internasional. Sebenarnya, tidak sedikit perusahaan-perusahaan bidang kefarmasian yang telah sukses mengenalkan produk jamu di kawasan ASEAN.

Baca Juga: Hadi Kuncoro: E-commerce Perbanyak Barang Impor Itu Begini Hitung-Hitungannya… 

Sebut saja Dexa Medica, Kalbe Farma, Martha Tilaar Group, Sido Muncul, Deltomed, Industri Jamu Borobudur, Kino, Air Mancur, dan Jamu Jago.

Secara rumpun budaya, di antara anggota MEA sudah tidak asing lagi dengan pengobatan herbal/tradisional di negaranya masing-masing. Lantas, sudahkah para pengusaha obat herbal Indonesia membidiknya secara jitu dan tidak malu-malu?

Populasi pasar ASEAN dengan total penduduk sebesar sekitar 600 juta jiwa tentu membuat ASEAN muncul sebagai kekuatan ekonomi dunia yang akan terus bertumbuh. Terlebih dengan adanya fenomena era back to nature yang melanda dunia juga kawasan ASEAN.

Di Manila, banyak dokter baik dari rumah sakit terkenal maupun klinik-klinik seperti Puskesmas yang memberi apresiasi produk herbal Indonesia yang sudah memiliki uji klinis.

Baca Juga: “Pembersih Sampah Plastik Nirawak Inovasi Kami Meraih Penghargaan Internasional” 

Mereka meresepkan obat herbal yang sudah teruji klinis. Dalam perbincangan selanjutnya, diketahui bahwa yang menjadi pertimbangan utama adalah  dukungan uji ilmiah. Tidak mempersoalkan, dari mana asal produk itu di produksi.

Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi untuk mengembangkan product branding dari OMAI berimbas pada kebanggaan nation branding. Menariknya lagi, tidak sedikit produk herbal Indonesia “mejeng” di outlet-outlet jaringan apotik terbesar di Manila, Mercury Drug.

Sedangkan di Kamboja, menurut data dari Kementerian Perdagangan RI, neraca perdagangan bilateral Indonesia dan Kamboja pada 2018, mencapai US$558.619 juta (ekspor Indonesia: US$525.597 juta, dan impor Kamboja: US$33.022 juta).

Pada periode Januari-April 2019, neraca perdagangan kedua negara mencapai US$196.266 juta (meningkat 10,48% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2018).

Baca Juga: Tokopedia: “Hadapi Pandemi, Kami Ubah Strategi Kampanye”


Produk Indonesia yang potensial dipasarkan di Kamboja, seperti makanan dan minuman, buah segar (salak), balsam, minyak herbal, obat-obatan (termasuk obat herbal), minyak goreng, kertas dan alat tulis, kerajinan tangan, hingga batik Indonesia mendominasi komoditas ekspor Indonesia ke Kamboja.

Produk OMAI sudah beredar di Kamboja. Dokter-dokter dan juga pengelola apotik di Kamboja mengapresiasi produk-produk herbal Indonesia berbasis uji ilmiah.

Dari pemaparan di atas, untuk sukses masuk pasar global, selain memosisikan product branding yang tepat, juga ada beberapa strategi yang perlu dicermati, yaitu:

Pertama, ciptakan nilai tambah pada produk obat herbal Anda, dan bangun tim yang kuat untuk memasarkan. Inilah langkah yang harus dilakukan. Perlu juga mempertimbangkan untuk menyesuaikan “selera” konsumen lokal tempat destinasi produk Anda.

Baca Juga: Shopee, E-commerce Paling Populer di Asia Tenggara

Kedua, menetapkan taktik dan strategi promosi yang tepat dan memilih mitra bisnis yang andal, dan jika sudah mampu- maka dirikan perusahaan di setiap negara tujuan ekspor Anda.

Ketiga, jangan melupakan pasar diaspora Indonesia. Diaspora Indonesia tersebar di berbagai kawasan dunia. Berdasarkan data dari situs diasporaindonesia.org, jumlah diaspora Indonesia sekitar 8 juta orang tersebar di berbagai negara.•

 

Simak berita-berita kami dalam bentuk video di kanal TechnoBusiness TVJangan lupa berikan atensi Anda dengan “like, comment, share, dan subscribe.

LEAVE A REPLY

Masukkan komentar Anda di sini!
Please enter your name here