Economic Downturn

Oleh Andy Juniarso

CEO Quantum Leap

●●●

Tsunami…? Siapa takut! Mayoritas dari kita terus melakukan aktivitas sehari-hari walau alam telah memberi tanda-tandanya. Ingatkah ketika suatu pagi, di langit Lhokseumawe, burung-burung membentuk lingkaran besar terbang beriringan menjauhi pantai?

Di bawah ada seorang tentara yang sedang naik Jeep, melihat ke atas dan memerhatikan gerakan kelompok burung tersebut. Ia lantas bergegas memutar arah menuju pulang.

Baca Juga: Misleading Advertisement

Sesampainya di rumah, ia meminta semua anggota keluarganya untuk segera naik ke mobil. Tak satu pun yang tertinggal. Ia memacu mobil itu dengan segera ke arah pegunungan.



Banyak analis independen telah memberi peringatan bahwa ekonomi global sedang menuju resesi.

Baik burung maupun tentara, insting mereka bekerja—saat sebagian besar orang abai terhadap “tanda-tanda alam” tersebut. Yang lain baru mencoba memahami tanda-tanda setelah trauma, pascakejadian.

Nah, bukankah kita pernah dilanda krisis moneter yang dahsyat? Krisis yang membuat hampir 100 konglomerat bertekuk lutut, kolaps, karena nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mendadak naik 400%.

Baca Juga: Jurus Merayu Pelanggan Telekomunikasi Masa Kini

Akibatnya, nilai finansial, aset, dan laba bersih korporasi tidak ada harganya lagi, bahkan minus. Tentu saja langsung diikuti dengan pemangkasan tenaga kerja besar-besaran dan lain sebagainya.

Bagi pengusaha yang pernah jatuh ke jurang resesi dan berhasil bangkit lagi, jelas pengalaman 1997/1998 amat berguna, termasuk untuk menghadapi situasi yang tidak menentu akhir-akhir ini.

Banyak analis independen telah memberi peringatan bahwa ekonomi global sedang menuju resesi, kemungkinan tahun depan. Tandanya terjadi perlambatan ekonomi (economic downturn), penurunan daya beli masyarakat, dan kelesuan ekspor-impor hingga minus 15-20% di mayoritas sektor.

Baca Juga: Permata Baru di Industri Pelabuhan

Kalau pengusaha yang sudah berpengalaman menghadapi krisis ekonomi mungkin sudah mengambil langkah-langkah strategis. Jika belum? Mungkin saja ada yang bingung mengantisipasinya. Ada pula yang kaget karena tiba-tiba “terlibas” oleh resesi ekonomi.

Tapi, setidaknya berikut ini langkah-langkah yang semestinya diambil oleh para pengusaha dalam menghadapi resesi ekonomi ke depan.

 

[nextpage]


Simak berita-berita kami dalam bentuk video di kanal TechnoBusiness TVJangan lupa berikan atensi Anda dengan “like, comment, share, dan subscribe“.


 

Pertama, Cost Reduction. Penghematan biaya perusahaan besar maupun kecil mesti dilakukan. Usahakan penghematan itu diambil dari pengurangan biaya-biaya yang tidak primer, tidak mendesak, dan mempunyai manfaat paling minim bagi kinerja perusahaan.


Baca Juga: Digitisation + Digitalisation = Digital Transformation

Sebagai contoh, biaya hiburan, pariwisata, aksesori, hobi, atau segala macam bentuk kegiatan yang tak harus diutamakan.

Tanpa strategi yang cerdas dan taktis, maka perusahaan akan sulit bertahan.

Kedua, Managing Solvability. Kemampuan membayar utang harus diamati benar.

Survei mengatakan bahwa banyak perusahaan di Indonesia akan menghadapi persoalan berat karena menanggung utang yang besar.

Ketiga, Managing Liquidity. Menjaga likuiditas dan kelancaran cash flow perusahaan merupakan tantangan terbesar pada 2020. Sebab, perusahaan akan terganggung oleh minimnya penerimaan.

Baca Juga: Peran “Artificial Intelligence” bagi Akuntan Milenial

Fluktuasi cash flow akan mempersulit perencanaan finansial perusahaan, yang berdampak pada banyak hal dan mengganggu pembiayaan investasi dan modal kerja.

Keempat, Innovation. Tanpa strategi yang cerdas dan taktis, maka usaha perusahaan akan sulit bertahan—dan rugi. Untuk itu, ambillah langkah-langkah strategis dan unik.●

 

LEAVE A REPLY

Masukkan komentar Anda di sini!
Please enter your name here