Oleh Patricia Grace Veronica | Assistant Manager Spire Research and Consulting

Spire Insight ● Pandemi COVID-19 yang bersumber dari virus SARS-CoV-2 pertama kali dideteksi di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok, pada Desember 2019. Penyakit yang menyerang pernapasan ini ditetapkan sebagai pandemik oleh WHO per 11 Maret 2020.

Baca Juga: Spire Research and Consulting Memiliki Empat Divisi Riset 

Hingga 19 April 2020, sudah terjadi 2.242.359 kasus dan 152.551 kasus kematian yang telah dilaporkan secara global. Di Indonesia, per 19 April 2020 dilaporkan ada 6.575 kasus dan 582 kematian disebabkan oleh COVID-19.

Virus SARS-CoV-2 menular melalui percikan pernapasan (droplet) ketika batuk. Selain itu, virus dapat menyebar akibat menyentuh permukaan benda yang terkontaminasi dan kemudian menyentuh wajah seseorang.

Dengan pola penularan seperti ini, WHO menyarankan untuk membatasi kontak fisik dan sosial orang per orang, atau yang populer dengan Physical Distancing dan Social Distancing. Pembatasan ini dimaksudkan untuk memutus rantai penularan virus SARS-COV-2.

Baca Juga: Beriklan Saat Pandemi


Pemerintah Indonesia melakukan sejumlah upaya untuk mencegah atau setidaknya mengurangi penularan virus tersebut, melalui himbauan untuk Work from Home dan School from Home.

Tidak hanya demikian, aktivitas di tempat ibadah, rekreasi, dan belanja pun dibatasi bahkan ditutup untuk menghindari adanya keramaian.

Mau tidak mau, kita dipaksa untuk dapat beradaptasi terhadap keadaan untuk tetap produktif meskipun melakukan kegiatan-kegiatan tersebut hanya dari rumah saja.

Baca Juga: Industri Sepatu Indonesia Potensi Besar Produk Dalam Negeri

Kegiatan belajar mengajar di ruangan kelas dengan tatap muka guru dan murid, berpindah menjadi kelas daring (online)—melalui tatap muka menggunakan kamera HP dan Laptop.

Kegiatan kantor—rapat dan diskusi bersama rekan kerja dan klien, tidak lagi di dalam ruang rapat kantor—berpindah ke platform daring seperti Zoom, Microsoft Teams, ataupun Skype. Pun ibadah berpindah media menjadi ibadah daring melalui Youtube.

Banyak orang atau mungkin semua orang menginginkan keadaan kembali normal seperti beberapa bulan lalu sebelum ada COVID-19.

Baca Juga: Spire Insight: Mencari Harapan Pasca Gempa Palu

Apakah kehidupan akan kembali normal? Mungkin saja tidak. Setelah pandemi COVID-19 berakhir, kita akan hidup dalam situasi yang baru—The New Normal. Kegiatan-kegiatan seperti yang kita lakukan sekarang ini, lama-kelamaaan menjadi sesuatu yang normal.

Kita menjadi terbiasa produktif untuk bekerja dari rumah, belajar dari rumah, beribadah di rumah, dan lain sebagainya. Kebiasaan tersebut sekarang telah berubah. Kenormalan yang dulu menjadi masa lalu.

Periode physical distancing dengan berdiam di rumah, ditambah dengan aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diterapkan hingga Mei mendatang, akan membentuk perilaku dan kebiasaan yang baru. Berikut ini contohnya:

Baca Juga: Industri Sepatu Indonesia Potensi Besar Produk Dalam Negeri

  1. Lebih banyak menonton TV

Himbauan physical distancing juga memengaruhi perilaku menonton TV yang tercatat adanya peningkatan rating dari 2,6% pada 8 Maret 2020 menjadi 13,6% pada 15 Maret 2020.

Peningkatan rating paling tinggi pada segmen pemirsa berusia 5-9 tahun yang meningkat 23% dan segmen usia 15-19 tahun yang meningkat 22%.

  1. Frekuensi makan di luar menjadi berkurang signifikan/tidak sama sekali.

Setidaknya di Jakarta, sebagian besar restoran, kedai makanan, kafé, dan lain sejenisnya tutup. Beberapa yang buka pun tidak melayani makan di tempat. Jenis usaha seperti ini dituntut untuk mampu tanggap beradaptasi dengan keadaan, jika tidak mau berakhir.

Usaha kedai kopi, menjual kopinya dengan ukuran lebih besar. Sebut saja, toko Kopi Tuku, Gordon, Animo yang menjual kopi mereka dengan ukuran 1 liter untuk kebutuhan konsumsi rumah.

Restoran siap saji memfokuskan pelayanannya untuk pemesanan rumah, bahkan ada pula yang menghadirkan suasana rumah makan di rumah konsumen. Seperti yang dilakukan oleh Magal, yang menyajikan BBQ khas Korea.

Pelayanan Magal Home Service menyajikan set menu makanan ke rumah konsumennya, bukan sekadar makanan siap saji di dalam box, tapi berupa set makanan layaknya di restoran lengkap dengan peralatan memasaknya.

  1. Perubahan perilaku daring (online)

Studi yang dirilis Nielsen di awal April 2020 lalu mengatakan bahwa sejak diberlakukannya himbauan di rumah untuk mencegah penyebaran COVID 19, sekitar 30% konsumen merencanakan untuk berbelanja secara daring (online).

  1. Lebih memerhatikan kekebalan tubuh dengan mengonsumsi vitamin dan multivitamin

Direktur Eksekutif Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GP Farmasi) Daradjatun Sanusi menginformasikan bahwa penjualan vitamin C di apotek naik hingga 7 kali lipat pada awal April lalu.

PT Kalbe Farma Tbk. mencatat penjualan produk vitamin dan multivitamin Maret 2020 melonjak hingga dua kali lipat dibanding bulan sebelumnya.

Beberapa contoh tersebut, hari demi hari menjadi sesuatu yang biasa. Aktivitas-aktivitas tersebut bukan lagi sekadar rutinitas dan gaya hidup sementara, melainkan rutinitas dan gaya hidup yang baru—The New Normal.● SPONSORED CONTENT

Catatan: Artikel ini dibuat dan menjadi tanggung jawab sepenuhnya oleh Spire Research and Consulting. 

 

Spire Research and Consulting merupakan perusahaan riset pasar dan konsultasi bisnis global, terutama di negara-negara berkembang. Perusahaan yang didirikan pada 2000 di Singapura ini kini memiliki kantor perwakilan di semua negara Asia Pasifik dan berkantor pusat di Tokyo, Jepang.

PT Spire Indonesia | Wisma BNI Lt. 25 Unit 8-10, Jalan Jend. Sudirman Kav. 1, Jakarta 10220, Telp/Faks: (021) 57945800 www.spireresearch.com


LEAVE A REPLY

Masukkan komentar Anda di sini!
Please enter your name here