Foto: MovingWalls.com

Oleh Sarom Mahdi | Konsultan Spire Research and Consulting

Spire Insight ● Pada 31 Desember 2019, dunia dikejutkan dengan munculnya lusinan kasus pneumonia di Wuhan, China. Beberapa hari kemudian para peneliti setempat mengidentifikasi sebuah virus baru yang menyerang sistem pernapasan manusia. Tidak lama setelah itu, tepatnya 30 Januari 2020, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan darurat kesehatan dunia.

Baca Juga: Spire Research and Consulting Memiliki Empat Divisi Riset 

Sampai pertengahan April 2020, tidak kurang dari 2 juta kasus telah dilaporkan di seluruh dunia, dengan angka kematian mencapai 150.000 kasus. Tentu saja pandemi ini mempengaruhi segala lini kehidupan masyarakat, termasuk di Indonesia.

Pandemi Covid-19 menghantam hampir seluruh sektor usaha, mulai dari pariwisata, transportasi, industri, hingga pertanian. Di samping itu, pemberlakuan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang ditetapkan pemerintah sangat mempengaruhi perilaku konsumen dalam negeri.

Baca Juga: Efektivitas Iklan Menggunakan Media Lift 

Hampir seluruh sektor usaha mengalami dampak dari merebaknya virus Corona di Indonesia. Bagaimana tidak, secara serentak kita semua harus mengikuti aturan social distancing yang sebelumnya tidak pernah kita alami.


Para pelaku usaha yang ingin tetap bertahan melewati masa-masa sulit ini tentu saja harus lebih cekatan dan peka terhadap perubahan perilaku konsumen yang disebabkan oleh pandemi.

Baca Juga: Spire Insight: Dampak Corona terhadap Industri Penerbangan

Kita semua setuju, bahwa tidak ada satu pun yang siap menghadapi hal ini. Namun, bukan berarti para pelaku usaha tidak bisa melakukan sesuatu untuk bisa melewati kondisi ini.

Lalu, apa yang bisa dilakukan untuk menjaga sebuah brand dalam kondisi ini? Apakah kegiatan-kegiatan advertising masih harus dilakukan, mengingat daya beli konsumen terhadap kategori brand tertentu mungkin saja menurun? Jawabannya adalah iya.

Baca Juga: Spire Insight: Menilik Implementasi Teknologi 5G di Korea Selatan

Lantas, apa saja yang perlu diperhatikan oleh brand dalam beriklan saat kondisi saat ini? Berikut beberapa hal yang mungkin perlu diperhatikan:

  1. Channel komunikasi

Dengan diterapkannya PSBB belum lama ini, perilaku konsumen Indonesia tentu saja ikut berubah. Dengan adanya pembatasan sosial tentu saja mobilitas di luar ruang konsumen menjadi terbatas.

Oleh karena itu, kita bisa beranggapan bahwa media luar ruang seperti billboard dan videotron akan sangat menurun exposure-nya. Anggapan ini tentu saja tidak salah, namun baru-baru ini strategi iklan yang dilakukan oleh salah satu produsen air mineral di Indonesia cukup menarik perhatian publik.

Bagaimana tidak, Aqua berhasil menggeser awareness dari media luar ruang ke ranah online. Apa yang dilakukan oleh Aqua bisa dibilang merupakan komunikasi yang tepat dengan kondisi yang terjadi di masyarakat saat ini.

Sehingga melalui billboard yang rendah exposure-nya ia tetap berhasil mengomunikasikan pesan secara luas, dan penyebaran ini tidak dilakukan sendiri oleh Aqua, melainkan oleh masyarakat secara sukarela.

Baca Juga: Spire Insight: Mencari Harapan Pasca Gempa Palu

  1. Tunjukkan empati

Komunikasi yang didasari oleh empati terhadap kondisi konsumen dinilai efektif untuk tetap menjaga dan memperkuat engagement dengan konsumen. Sebuah brand harus dapat terus mendampingi konsumen dalam masa-masa krisis dan berempati pada kondisi mereka.

Strategi-strategi hard selling kemungkinan tidak cukup menarik bagi konsumen dalam kondisi ini, karena dinilai tidak memiliki sense of crisis dan tidak peka terhadap kondisi finansial konsumen yang mungkin ikut terdampak.

Baca Juga: Industri Sepatu Indonesia Potensi Besar Produk Dalam Negeri

  1. Peran pelaku brand dalam krisis

Dalam kondisi ini, konsumen mengharapkan pelaku usaha ikut mengambil peran dalam meminimalisasi dampak pandemi. Untuk sementara waktu mungkin pemilik brand bisa mengesampingkan motif-motif marketing mereka dan mengalihkan sebagian belanja iklan untuk berperan dalam penanggulangan krisis.

Contohnya seperti yang dilakukan oleh Ford. Sebagai salah satu brand otomotif dunia, Ford memproduksi 50.000 ventilator untuk membantu para pasien corona di Amerika. Walaupun tindakan ini mungkin tidak berimbas pada penjualan di masa krisis, namun konsumen akan mengingat bahwa Ford adalah salah satu brand yang “menemani” mereka melewati masa-masa krisis.

Strategi komunikasi adalah hal yang harus diperhatikan untuk meningkatkan awareness dan engagement, bahkan dalam kondisi pandemi seperti saat ini. Brand dituntut untuk peka dengan kondisi dan perubahan situasi yang begitu signifikan dan tiba-tiba.● SPONSORED CONTENT

Catatan: Artikel ini dibuat dan menjadi tanggung jawab sepenuhnya oleh Spire Research and Consulting. 

 

Spire Research and Consulting merupakan perusahaan riset pasar dan konsultasi bisnis global, terutama di negara-negara berkembang. Perusahaan yang didirikan pada 2000 di Singapura ini kini memiliki kantor perwakilan di semua negara Asia Pasifik dan berkantor pusat di Tokyo, Jepang.

PT Spire Indonesia | Wisma BNI Lt. 25 Unit 8-10, Jalan Jend. Sudirman Kav. 1, Jakarta 10220, Telp/Faks: (021) 57945800 www.spireresearch.com


LEAVE A REPLY

Masukkan komentar Anda di sini!
Please enter your name here