Kerusakan rumah warga akibat gempa Palu pada 2018 lalu. (Foto: Kementerian PUPR)

Oleh Rahdhitya Yudhistira | Konsultan Spire Research and Consulting

Spire Insight ● Peristiwa gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi yang melanda Palu dan sekitarnya pada 2018 menimbulkan banyak korban jiwa dan kerugian materi.

Diperkirakan lebih dari 4.000 orang kehilangan nyawa, kerugian materi kemungkinan mencapai lebih dari Rp100 miliar. Sampai akhir 2019, tidak sedikit orang yang terpaksa masih mengungsi, bahkan tak bisa kembali ke tempat tinggal mereka lagi karena kerusakan yang terjadi.

Baca Juga: Spire Research and Consulting Memiliki Empat Divisi Riset

Kerusakan yang terjadi di berbagai tempat di Palu, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Donggala sedikit banyak mengubah lansekap alam yang ada. Di Kabupaten Sigi, misalnya, gempa bumi yang terjadi banyak merusak tanah dan lahan masyarakat yang sebagian besar masih menggantungkan mata pencahariannya sebagai petani.

Tidak hanya itu, sistem irigasi yang menjadi tulang punggung pertanian di Kabupaten Sigi pun rusak dan mengakibatkan rusaknya tanaman-tanaman terutama padi.

Sementara di Kabupaten Donggala, terutama di Kecamatan Sirenja, gempa bumi dan tsunami mengakibatkan rusaknya tanah pertanian dan perkebunan milik warga sehingga kondisi tanah-tanah mereka tidak memungkinkan untuk kembali ditanami dalam waktu dekat.


Baca Juga: Industri Sepatu Indonesia Potensi Besar Produk Dalam Negeri

Perikanan yang juga menjadi kegiatan ekonomi utama di Kecamatan Sirenja mengalami pukulan kencang dengan rusaknya salah satu pasar ikan di daerah tersebut.

Semua hal ini tentu saja mempengaruhi kemampuan masyarakat untuk menyokong kehidupan mereka, karena mereka tidak bisa terus-menerus bergantung pada bantuan pemerintah maupun organisasi-organisasi sosial.

Sampai akhir 2019, tidak sedikit orang yang terpaksa masih mengungsi, bahkan tak bisa kembali ke tempat tinggal mereka lagi.

Seiring berjalannya waktu, pelan-pelan upaya perbaikan mulai dilakukan oleh pemerintah setempat dan pemerintah pusat.

Banyak elemen masyarakat dan organisasi kemanusiaan nonprofit yang turun langsung untuk membantu.

Bantuan sudah banyak diberikan oleh pihak-pihak tersebut, baik dalam bentuk uang, barang, maupun jasa.

Baca Juga: Tantangan Industri Advertising PayTV

Masyarakat sendiri pun tidak tinggal diam. Di balik kerusakan dan kehilangan yang timbul, banyak dari mereka tetap bersikap positif dan mencari harapan. Mereka mulai memutar otak dan pikiran untuk melakukan sesuatu untuk mengubah kondisi mereka.

Petani-petani di daerah yang terkena dampak bencana mulai beralih ke tanaman pertanian dan perkebunan lainnya yang tidak membutuhkan banyak air seperti jagung, cabai, atau bawang merah. Tanaman-tanaman ini tidak hanya dipilih karena ketidaktergantungan mereka akan air, tapi juga dari segi potensi keuangan.


Jagung dianggap sebagai salah satu makanan utama para masyarakat di Sulawesi Tengah selain beras. Tingkat konsumsi yang tinggi ini menjadikannya salah satu komoditas yang banyak dicari. Makanan lokal Sulawesi Tengah yang banyak menggunakan jagung sebagai salah satu bahan utamanya adalah binte biluhuta, yang merupakan sup berisikan jagung.

Baca Juga: Sektor Bisnis yang Selalu Seksi

Sementara cabai menjadi salah satu makanan pendamping utama bagi masyarakat Sulawesi Tengah, di mana makanan ini hampir pasti ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Produk cabai yang populer dari daerah Palu dan sekitarnya adalah sambal roa, yang merupakan produk sambal yang dicampur dengan ikan roa.

Pemerintah lokal dan pusat melihat gelagat mulai tumbuhnya ekonomi di masyarakat ini.

Sedangkan bawang merah menjadi bahan utama produk favorit dan khas dari daerah Palu, yaitu bawang goreng.

Sudah cukup banyak UMKM dan pengusaha yang memproduksi bawang goreng hingga menjadi oleh-oleh bagi mereka yang berkunjung ke Palu.

Pemerintah lokal dan pusat melihat gelagat mulai tumbuhnya ekonomi di masyarakat ini dan merespon dengan serangkaian kegiatan dan program untuk menunjang kebangkitan tersebut. Salah satunya adalah dengan program buffer zone cabai nasional yang dialokasikan di Sulawesi Tengah.

Baca Juga: Efektivitas Iklan Menggunakan Media Lift 

Program ini diharapkan akan mampu meningkatkan produksi cabai di Sulawesi Tengah, salah satunya di Kabupaten Donggala. Selain itu, pemerintah lokal melalui Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Sulawesi Tengah juga sudah menginisiasi perbaikan komoditas tanaman pangan seperti jagung di tahun 2019 kemarin.

Program ini difokuskan di Kabupaten Sigi dan menargetkan lahan seluas 2.500 hektare. Untuk mendukung perkembangan ekonomi, Pemerintah Kota Palu memberikan dana sebesar Rp100 miliar untuk pengembangan UMKM di Kota Palu.

Khusus untuk UMKM pengolahan bawang goreng, Pemerintah Kota Palu juga menyediakan bahan baku sekitar 100 kilogram. Seluruh bantuan dan dukungan ini diharapkan dapat membuat ekonomi di Palu, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Donggala, kembali pulih seperti sebelum terjadinya bencana.● SPONSORED CONTENT

Catatan: Artikel ini dibuat dan menjadi tanggung jawab sepenuhnya oleh Spire Research and Consulting. 

 

Spire Research and Consulting merupakan perusahaan riset pasar dan konsultasi bisnis global, terutama di negara-negara berkembang. Perusahaan yang didirikan pada 2000 di Singapura ini kini memiliki kantor perwakilan di semua negara Asia Pasifik dan berkantor pusat di Tokyo, Jepang.

PT Spire Indonesia | Wisma BNI Lt. 25 Unit 8-10, Jalan Jend. Sudirman Kav. 1, Jakarta 10220, Telp/Faks: (021) 57945800 www.spireresearch.com


 

LEAVE A REPLY

Masukkan komentar Anda di sini!
Please enter your name here