Oleh Maudy Miya Andini | Konsultan Spire Research and Consulting

Spire Insight Industri makanan dan minuman selalu menjadi sektor bisnis yang diincar oleh banyak pihak. Sebagai contoh, Industri makanan dan minuman merupakan salah satu fokus yang ingin ditingkatkan oleh Pemerintah Indonesia sejak Revolusi Industri 4.0. Sektor ini merupakan salah satu yang terbesar di Indonesia dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 2.3% dari tahun 2013 hingga 2017. Perlu diketahui bahwa di industri makanan dan minuman dibagi menjadi ke beberapa bentuk seperti food packaged, ready to drink, dan food service. Food packaged adalah makanan yang sudah dalam bentuk kemasan. Makanan seperti ini banyak ditemukan di warung dan supermarket seperti halnya makanan ringan, sereal, dan mie instan. Sedangkan ready-to-drink adalah miinuman berbentuk botol, kaleng, ataupun siap seduh yang biasa ditemukan seperti teh botol dan kopi kaleng. Sedangkan food service adalah makanan yang disediakan di tempat makan seperti restaurant, hotel, dan kafe.

Baca Juga: Tantangan Industri Advertising PayTV

Ketika kesehatan dan lingkungan sudah mulai diperhatikan

Berdasarkan studi yang dilakukan pada tahun 2017, masyarakat Indonesia masih memfokuskan pada “rasa” ketika membeli suatu makanan. Faktor pertimbangan kedua adalah “harga” dan yang ketiga adalah “kesehatan”. Namun, masyarakat Indonesia bersedia untuk membeli makanan yang enak dan sehat sejak tahun 2014. Meningkatnya popularitas makanan sehat seperti energy bar menandakan masyarakat Indonesia sudah memiliki kesadaran akan pentingnya makanan sehat. Terlebih lagi, sudah banyak restaurant atau kedai yang menawarkan paket makan sehat yang rendah kalori dan cocok untuk mereka yang sedang melakukan ‘diet’. Namun, produk-produk ini masih lebih sering dikonsumsi oleh mereka yang memiliki penghasilan menengah dan tinggi, karena pada umumnya produk ini memiliki harga satuan yang lebih tinggi daripada produk biasa.

Baca Juga: Spire Research and Consulting Memiliki Empat Divisi Riset

Kemudian, penggunaan kemasan yang ramah lingkungan juga menjadi salah satu tren di industri makanan. Banyak vendor telah mengadopsi opsi kemasan ramah lingkungan untuk mengurangi dampak lingkungan dan kesehatan. Kesadaran konsumen terhadap perlindungan dan pelestarian lingkungan mendorong permintaan untuk format kemasan ramah lingkungan. Banyak kedai seperti starbucks, KFC, dan McDonalds mulai menghilangkan sedotan plastik dan menggunakan alat makan yang terbuat dari kertas atau bahan daur ulang. Hal ini didukung oleh kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang saat ini sedang mempersiapkan sistem skema untuk sertifikasi barang ramah lingkungan yang dinamai eco-label Indonesia.


Baca Juga: Efektivitas Iklan Menggunakan Media Lift 

Teh dan Kopi masih menjadi primadona di industri minuman

Di sub-sektor minuman, industri ini masih di dominasi oleh sektor minuman non-alkohol sebesar 99.8% terhadap total nilai Rp 100 Triliun. Minuman seperti teh dan kopi adalah dua primadona di Industri minuman, berbagai jenis kafe bermunculan untuk mengambil bagian dari komoditas emas ini, bahkan perusahaan retail seperti Indomaret mulai menawarkan minuman racikan seperti kopi di Indomaret café.

Berdasarkan asosisasi minuman di Indonesia, nilai pasar untuk minuman teh mencapai Rp 50 triliun atau setara dengan dua juta liter. Berdasarkan market share, minuman the berhasil mengambil 5,7% dari total penjualan industry. Minuman teh berada di peringkat kedua setelah air mineral (70%).

Baca Juga: Kondisi Produk Aromatik Milik Industri Petrokimia Indonesia

Salah satu yang menjadi tren di Indonesia adalah MixTeaLogy. Pencampuran antara teh siap saji dan bahan-bahan lain seperti buah-buahan merupakan sektor yang mengincar usia-usia milenial. Berbagai restaurant seperti Lewis and Caroll mulai menerapkan konsep MixTeaLogy, dan hotel-hotel bintang lima juga memiliki konsep tea time yang mereka tawarkan di waktu siang hari. Selain itu, teh susu rasa seperti thai tea, green tea, dan milk tea juga populer di Indonesia. Tidak hanya dalam bentuk layanan minuman, banyak produsen sekarang memproduksi berbagai macam teh rasa siap minum.


Tren kedua di industri minuman adalah kopi. Saat ini, konsumsi pertumbuhan kopi lokal olahan meningkat dengan rata-rata lebih dari 7% per tahun dalam lima tahun terakhir. Dengan meningkatnya tren kopi di Indonesia, penjualan di toko online juga meningkat. Countryee Shopee Indonesia Manager mengatakan bahwa penjualan kopi terus meningkat dari awal 2017 hingga sekarang hingga 4 kali lebih tinggi. Tidak hanya kopi, tetapi orang juga mencari aksesori dan suvenirnya. Selain itu, banyak kopi siap minum saat ini semakin meningkat karena berbagai UKM mulai memproduksinya. Kopi seperti Toraja, Jawa, dan Aceh Gayo merupakan yang digemari oleh para pecinta kopi.

Baca Juga: Menganalisis Nasib Industri Baja Nasional

Perubahan tren layanan makanan

Terdapat tiga perubahan signifikan yang terjadi di industri layanan makanan. Pertama, dalam hal segmentasi, banyak restaurant yang sekarang tidak lagi menggunakan konsep premium tetapi beralih ke restoran kecil menengah yang menawarkan makanan yang trendi dan dapat dijangkau. Restauran seperti upnormal, bakso boedjangan, dan berbagai café trendi lainnya mengadopsi konsep tersebut. Secara harga mereka relatif terjangkau dan kemudian secara menu memiliki variasi yang banyak dan inovatif. Menu-menu tersebut juga bisa dibilang musiman, karena akan berganti sesuai tren setiap 1-2 tahun sekali.


Kedua, dalam hal outlet, mayoritas dari restoran sekarang mementingkan konsep suasana yang nyaman dan juga menarik yang memperbolehkan konsumen untuk duduk lebih lama. Restoran berlomba-lomba membuat konsep yang menarik, mulai dari tema yang spesifik seperti hutan dan rumah sakit, hingga menggunakan customer experience seperti melihat proses memasaknya, sampai pelayanan unik yang menggunakan tokoh-tokoh tertentu seperti ninja. Faktor terakhir adalah dari segi pengiriman makanan. Restaurant tidak lagi memfokuskan untuk mengantarkan makanan menggunakan in-house delivery, tetapi lebih menekankan untuk berpartner dengan pihak ketiga seperti Go-food dan Grabfood.

Baca Juga: Instagram “Down”. Berapa yang Terimbas? 

The food delivery market is heating up

Indonesia memiliki perilaku unik dalam layanannya terutama industri layanan makanan. Menurut PDBI, Indonesia memiliki terminologi khusus untuk menggambarkan perilaku konsumennya, yaitu ekonomi malas. 'Ekonomi malas' memiliki artian bahwa orang Indonesia senang dilayani. Misalnya, dalam hal layanan makanan, ada banyak kedai makanan menggunakan keliling di daerah perumahan untuk mendekati konsumen. Oleh karena itu, layanan pengiriman makanan akan selalu dibutuhkan di Indonesia untuk menangkap permintaan dari konsumen.

Go-Jek masih mendominasi layanan pengiriman makanan. Meningkatnya jumlah pengemudi secara langsung dipengaruhi pasokan Go-Jek di pasar dan mereka secara agresif berkembang di berbagai daerah dan kota di Indonesia. Selain itu, Go-Food memiliki banyak pedagang yang menawarkan pilihan makanan yang luas bagi pelanggan.

Baca Juga: Kakao, Potensi yang Belum Dimaksimalkan

Meskipun pengiriman makanan oleh pihak ketiga mendominasi industri, menurut para ahli makanan, restoran masih perlu memiliki layanan pengiriman sendiri. Ada beberapa alasan mengapa mereka masih membutuhkan layanan pengiriman sendiri seperti kualitas produk dan ketika pihak ketiga tidak dapat memenuhi permintaan seperti dalam cuaca buruk atau ketika pesanan penuh. Pihak ketiga tidak memiliki mesin untuk membuat makanan atau minuman masih dalam kondisi segar, hanya pengiriman restoran yang memilikinya.


Central kitchen, pusat pengolahan makanan untuk UMKM

Karena industri jasa makanan Indonesia didominasi terutama oleh jumlah restoran UKM, konsep kualitas makanan yang ditawarkan terkadang tidak sesuai dengan biaya yang mereka keluarkan sehingga dibutuhkan strategi efisiensi budget.

Banyak bisnis seperti rantai restoran / grup, perjamuan besar dan operator katering, serta restoran layanan lengkap di Indonesia memiliki dapur pusat. Namun, beberapa pemain sebenarnya memiliki dapur pusat skala besar dengan peralatan dapur canggih. Untuk memaksimalkan kapasitas yang ada, dapur ini disewakan untuk restoran kecil yang membutuhkan bahan baku dan peralatan dapur. Fasilitas yang ditawarkan dari dapur pusat dapat berupa alat-alat pemotongan, peracikan, boiler, oven, mixer, vacuum packaging, dan mesin pendingin. Konsep ini masih baru dan jarang diketahui oleh mereka yang ingin masuk industri ini.

Baca Juga: Industri Kelapa Sawit yang Jaya di Hilir

Dapat disimpulkan bahwa industri makanan dan minuman akan selalu menjadi barang menarik untuk mereka yang ingin terjun ke dunia bisnis. Selalu terbuka akan hal-hal dan peluang baru adalah salah satu kunci kesuksesan industri makanan dan minuman.● SPONSORED CONTENT 

Catatan: Artikel ini dibuat dan menjadi tanggung jawab sepenuhnya oleh Spire Research and Consulting. 

 

Spire Research and Consulting merupakan perusahaan riset pasar dan konsultasi bisnis global, terutama di negara-negara berkembang. Perusahaan yang didirikan pada 2000 di Singapura ini kini memiliki kantor perwakilan di semua negara Asia Pasifik dan berkantor pusat di Tokyo, Jepang.

PT Spire Indonesia | Wisma BNI Lt. 25 Unit 8-10, Jalan Jend. Sudirman Kav. 1, Jakarta 10220, Telp/Faks: (021) 57945800 www.spireresearch.com


 

 

LEAVE A REPLY

Masukkan komentar Anda di sini!
Please enter your name here