Oleh Kepri Marudur Hutagalung | Senior Consultant Spire Research and Consulting

Spire Insight ● Perkembangan trend digitalisasi membawa dampak besar terhadap banyak industry di Indonesia termasuk industry periklanan. Berdasarkan berbagai kajian dan Analisa yang dilakukan banyak Lembaga, media TV-FTA / Teresterial saat ini masih mendominasi sebagai media placement yang paling banyak digunakan untuk publikasi iklan atau promosi produk dan layanan dari sebuah brand, disusul media placement digital seperti Daring Online/Over-The-Top (OTT), Mobile Ads, DOOH, dsb.

Baca Juga: Spire Research and Consulting Memiliki Empat Divisi Riset

Lalu bagaimana dengan posisi ads media placement PayTV?

Berdasarkan layanan PayTv yang beredar di pasar Indonesia, terdapat 2 jenis model utama perusahaan PayTV yaitu melalui media satelit seperti MNC Vision, Transvision, NinMedia dan TV Cable berbayar seperti IndiHome, First Media dll.

PayTV saat ini masih memiliki market sizing yang kecil jika dibandingkan dengan media ads placement TV-FTA dimana berdasarkan kajian internal Spire Research Indonesia menunjukkan ads placement pada industry PayTV diprediksi mencapai 5,8% pada tahun 2022, jauh berbeda dengan ‘’kue’’ di TV Tradisional yang lebih dari 60%. Sementara dari sisi potensi dan pertumbuhan subscriber PayTV di Indonesia diyakini akan terus bertumbuh dengan estimasi total pelanggan PayTV mencapai 11-12 juta subscriber pada tahun 2023.

Baca Juga: Efektivitas Iklan Menggunakan Media Lift 


Kompetisi aktual dalam industry PayTV di Indonesia saat ini sudah mulai mengalami ‘Pengerucutan’ dimana MNC Group lewat strategi akuisisi perusahaan PayTV lainnya diprediksi akan membuat peta persaingan semakin kompleks dan sempit dikarenakan dominasi ekosistem MNC Vision bukan hanya akan me-monopoli revenue dari biaya berlangganan (subscriber) namun juga dari sisi jasa periklanan di PayTV.

Dewan Periklanan Indonesia (DPI) melalui Bapak Sadikin Masli selaku Executive Director DPI menyebutkan bahwa trend digitalisasi saat ini sangat erat kaitannya dengan milenial yang secara behaviour lebih open minded dan up to date dengan teknology digital. Bahkan rencana adopsi jaringan 5G kedepan dinilai sangat matching dengan prospek behaviour milenial sehingga diyakini akan turut menggerus pasar ads PayTV untuk beralih pada ads mobile.

[nextpage]

Faktor penting dalam pengembangan ads placement PayTV kedepan :

  1. Agensi periklanan sebagai ‘’important partner’’.

Tidak dapat dipungkiri bahwa adopsi ads placement di PayTV sangat di pengaruhi oleh peranan agency periklanan seperi Dentsu Indonesia, WPP, MCM (SAC), Fortune Indonesia dll. Ketergantungan perusahaan PayTV pada Agency disebabkan oleh behaviour Brand Owner Product yang lebih banyak menggunakan agency periklanan untuk project awareness dan promosi produk.

Baca Juga: Kondisi Produk Aromatik Milik Industri Petrokimia Indonesia

Semakin luas relasi perusahaan PayTV dengan Agency periklanan maka akan semakin besar pula potensi sebuah perusahaan PayTV untuk mendapatkan project. Alternative lain yang dapat menjadi pertimbangan adalah melalui program recruiting terhadap SDM Agency Periklanan dengan level terntentu sebagai solusi untuk membuka akses / soft approach pada brand owner product, Agreement Formal antara Agency Periklanan dan Perusahaan PayTV untuk kerjasama jangka Panjang dengan benefit ‘special price’ untuk setiap publikasi ads di PayTV.

  1. Penawaran multi-channel dalam publikasi iklan

Perusahaan PayTV harus memperluas penawaran platform atau fitur ads placement misalnya adanya opsi beragam dalam Ads Navigasi seperti Booth up screen, channel list, volume bar, Bar QR Code, Squeezed frame. Ads Navigasi yang diawarkan nantinya dapat juga ditambah dengan multi channel integrated sebagai additional benefit seperti publikasi ads pada aplikasi layanan PayTV, Mobile Ads, OTT, Media News Online, Majalah Offline dll.

Baca Juga: Menganalisis Nasib Industri Baja Nasional

  1. Inovasi Content Pada Post-Buy Report

Penyediaan Post-Buy Report tidak hanya berupa viewer info namun juga tersedianya content prediksi / analysis recommendation terhadap sebuah product yang sudah dipublikasi. Layanan Post-Buy juga dapat dikembangkan melalui garansi pencapaian viewer / return of invest dengan persentase tertentu (penalty).

Berdasarkan penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa ads placement pada PayTV tidak memiliki prospek yang besar namun masih layak untuk dipertahankan dan dikembangkan karena:

Baca Juga: Instagram “Down”. Berapa yang Terimbas? 

  1. Ads placement pada PayTV dapat lebih segmented untuk pangsa pasar mid-up
  2. Meskipun ads placement bukan merupakan target Main-Source revenue bagi Perusahaan PayTV namun ads placement dapat meningkatkan awareness portfolio sebuah perusahaan PayTV khususnya perusahaan PayTV yang tidak memiliki induk perusahaan TV Free To Air (FTA-MNC Vision & Transvision)
  3. Ads placement pada PayTV terkadang masih menjadi alternative bagi Agency dan Brand Owner Product untuk mengejar target viewer atas sebuah publikasi product.
  4. Potensi perluasan coverage perusahaan PayTV berbasis cable saat ini semakin meluas dengan adanya Palapa Ring sehingga kedepan berpotensi menjadi media placement bagi promosi produk UKM dengan biaya publikasi khusus.● SPONSORED CONTENT 

Catatan: Artikel ini dibuat dan menjadi tanggung jawab sepenuhnya oleh Spire Research and Consulting. 

 

Spire Research and Consulting merupakan perusahaan riset pasar dan konsultasi bisnis global, terutama di negara-negara berkembang. Perusahaan yang didirikan pada 2000 di Singapura ini kini memiliki kantor perwakilan di semua negara Asia Pasifik dan berkantor pusat di Tokyo, Jepang.

PT Spire Indonesia | Wisma BNI Lt. 25 Unit 8-10, Jalan Jend. Sudirman Kav. 1, Jakarta 10220, Telp/Faks: (021) 57945800 www.spireresearch.com


 

LEAVE A REPLY

Masukkan komentar Anda di sini!
Please enter your name here