Gambaran zonasi untuk peringatan dan larangan bepergian

Oleh Reza Arfirstyo | Konsultan Spire Research and Consulting

Spire Insight ● Virus Corona yang pertama kali ditemukan di Wuhan, China pada akhir Tahun 2019 kini sudah menyebar ke penjuru dunia. Pada tanggal 13 Maret 2020, Virus Corona telah ditetapkan oleh World Health Organization (WHO) sebagai pandemik.

Peningkatan jumlah kasus dan jumlah negara yang terkena dampak COVID-19

Pada tanggal 3 April 2020, Situs Worldometers.info telah mencatat terdapat 1.030.181 kasus dan 54.194 diantaranya merenggut korban jiwa.  Jumlah kasus terbanyak ditemukan di Negara Amerika Serikat, Spanyol, dan Italia. Berdasarkan kondisi tersebut, terdapat beberapa skenario dalam pemulihan ekonomi yang didasarkan pada cepatnya penyebaran dan cara penanganan wabah. Dalam skenario terburuknya, efek dari pandemik ini dapat menyebabkan resesi ekonomi secara global. Tidak hanya mengancam dan merenggut korban jiwa, Virus yang dinyatakan sebagai pandemic ini juga ikut menghambat operasional bisnis dan pertumbuhan industri. Salah satu industri yang cukup terkena dampaknya adalah industri aviasi.

Baca Juga: Spire Research and Consulting Memiliki Empat Divisi Riset 

Sejak menyebar ke mancanegara, jumlah pendapatan dan penumpang terus menurun

Beberapa infomasi yang berasal dari Airport Council International (ACI) dan International Air Transport Association (IATA) menyebutkan bahwa terhitung sejak Bulan Maret 2020, terdapat penurunan jumlah pendapatan dan penumpang secara drastis. Hal ini membuat pemain industri aviasi kesulitan dalam memenuhi kewajibannya untuk membayar biaya operasional dan biaya modal. Pada Bulan April 2020, diperkirakan jumlah larangan untuk bepergian ke suatu Negara dengan jalur udara akan semakin luas. Airport Council International (ACI) menyebutkan bahwa setidaknya 2 dari 5 penumpang akan hilang sepanjang tahun 2020 dan pendapatan Bandara akan berkurang setidaknya sekitar 50 persen. Hal ini menunjukan bahwa kondisi saat ini dianggap lebih parah dibandingkan dengan perkiraan Business as Usual (BaU) untuk Q1 2020. Kendala lain yang yang juga dirasakan adalah potensi untuk kehilangan pendapatan dikarenakan ketidakpastian tanggal untuk reschedule dan banyaknya pemintaan refund yang diajukan, diikuti dengan jumlah biaya operasional yang masih besar dan sulit ditekan karena sebesar 49 persen biaya merupakan fixed costs.


Komposisi biaya Airlines. 49% biaya operasional merupakan fixed/semi-fixed costs

Dampak pandemik Covid-19 untuk Industri Aviasi akan setidaknya dirasakan sampai kuarter 3 atau kuarter 4 Tahun 2020. Setelah itu, proses pemulihan memakan waktu setidaknya 2 kuarter untuk penerbangan domestik dan 3 sampai 4 kuarter untuk penerbangan jangka panjang dan penerbangan international.

Baca Juga: Efektivitas Iklan Menggunakan Media Lift 

Gambaran terkini Industri Aviasi

Untuk saat ini, Airlines dan Bandara di seluruh dunia secara umum masih tetap beroperasi walaupun sudah terjadi banyak pembatasan. Berikut adalah sedikit gambaran untuk saat ini

  1. Sebagian bandara lokal sudah membatasi penerbangan untuk tujuan komersil.
  2. Pengurangan biaya parkir pesawat di area bandara.
  3. Pesawat yang sudah diberikan status “Grounded” sudah diamankan di area bandara, menyebabkan adanya keterbatasan area parkir bagi pesawat.
  4. Tambahan biaya operasional yang terkait dengan pengadaan peralatan dan perlengkapan untuk sanitasi dan pembersihan ekstra dalam mencegah penyebaran virus.
  5. Airlines di seluruh dunia per akhir Maret 2020 telah memberikan refund untuk tiket terjual sebesar 35 Milyar USD, bagi penumpang yang tidak bisa berangkat berdasarkan catatan IATA. Perhitungan ini diluar dari permintaan refund secara mandiri dari penumpang
  6. Airlines telah melakukan pembatasan atau pembatalan jadwal penerbangan. Berikut adalah contoh update regulasi untuk wilayah Asia Pasifik:

Update penjadwalan penerbangan Dari dan Ke wilayah Asia Pasifik sampai 24 April 2020. Tercatat 3,983 dari 4,653 atau sekitar 85% jadwal untuk 72 rute perjalanan mengalami pembatasan maupun pembatalan. Update per 1 April 2020

Airlines Action
Japan Air lines (JAL) Pengurangan pelayanan penerbangan international hingga 85%
Air New Zealand Akibat Lockdown, sebanyak 95% penerbangan domestik berkurang. Hanya pekerja di sektor penting dan transportasi kargo yang diizinkan untuk terbang
Japan All Nippon Airways Mengurangi pelayanan penerbangan International untuk rut e ke Frankfurt, Chicago, New York, Los Angeles, Bnagkok, Ho Chi Minh City, dan Hong Kong
Korean Airlines Membatasi penerbangan Intenational ke London dan Paris

 

Meminimalisir dampak dari COVID-19 terhadap operasional. Mengantisipasi skenario terburuk: Penutupan/gangguan selama lebih dari 18 bulan.

Industri aviasi memiliki peranan yang cukup penting untuk pertumbuhan ekonomi suatu Negara, mulai dari menyediakan lapangan kerja, mendukung perkembangan industri lainnya, dan memfasilitasi perdagangan ekspor-impor dan pariwisata. Oleh karena itu, terdapat beberapa langkah yang telah dilakukan untuk memastikan agar Industri Aviasi dapat bertahan untuk skenario terburuk.

Untuk memastikan kestabilan keuangan, pihak Airlines dan Bandara sudah mulai bekerja sama dengan pemerintah tempat mereka beroperasi untuk menurunkan hingga menghapus sementara pajak bandara dan biaya konsensus. Pemberlakuan ini diaplikasikan kepada seluruh pemain di Industri ini. Selain itu, baik Airlines maupun bandara telah memberlakukan kebijakan untuk menekan arus kas keluar, seperti menahan pembagian dividen sebelum mendapatkan subsidi atau dukungan finansial, melakukan layoff untuk menekan biaya payroll kepada pegawai, dan menekan biaya variable lainnya. Dalam rangka memperkuat stabilitas keuangan, langkah-langkah seperti memastikan kemudahan akses terhadap lembaga keuangan juga kedepannya bisa dilakukan supaya pemain di industri aviasi dapat membayar liabilitas jangka pendek. Selain itu, Airlines yang beroperasi secara global juga disarankan untuk melakukan penyesuaian terhadap rasio kas untuk memastikan pembayaran liabiitas jangka pendek dan juga melakukan “Deep Pocketing” kepada induk perusahaan sebagai media untuk pinjaman atau modal tambahan selama pandemik berlangsung.

Pemain Industri Aviasi telah mengambil langkah dari sisi operasional. International Air Transport Association (IATA) mulai mengumpulkan data per bulan dari bandara yang masih beroperasi untuk memantau jumlah penumpang, tujuan bepergian, dan pergerakan lalu lintas udara, yang dapat digunakan untuk pembaharuan kebijakan. Kemudian, pihak bandara sudah memberlakukan aturan global suspension sebesar 80/20 untuk penggunaan slot bandara kepada pihak Airlines sampai Bulan Juni 2020 atau opsi untuk membiarkan slot mereka diambil alih oleh kompetitor dan kedepannya sedang diusahakan untuk mewujudkan penghapusan kebijakan slot usage requirement. Pihak bandara juga sudah memberlakukan kebijakan Crowd management untuk mengurangi penyebaran virus dan menerapkan penggunaan peralatan pelindung, praktek kebersihan dan sterilisasi, serta pengadaan perlengkapan pendukung. Demikian juga bagi Airlines, selain memprioritaskan keamanan, kenyamanan, dan respon terhadap Corona, mereka juga tetap mempertahankan rute serta jadwal penerbangan yang dianggap masih cukup aman dan membatasi lingkup operasi untuk sementara.

Penanganan reschedule dan refund akibat Covid-19

Adanya pandemik ini tentu saja menimbulkan kekecewaan dan kekhawatiran terhadap orang yang akan bepergian menggunakan jalur udara. Dikarenakan kejadian ini merupakan kejadian luar biasa atau force majeure, pihak Airlines telah memperbaharui terms and condition mereka untuk memberikan kemudahan bagi penumpang. Diantaranya meliputi:

  1. Pembaharuan policy terkait reschedule dan refund. Penerapannya berbeda-beda antar Airlines.
  2. Memprioritaskan penanganan penumpang dalam waktu 72 jam sebelum keberangkatan. Hal ini dikarenakan melonjaknya jumlah permintaan reschedule dan refund yang masuk.
  3. Menghilangkan sementara biaya tambahan, menerapkan free reschedule, dan memberikan credit account yang nantinya dapat digunakan untuk membeli tiket di kemudian hari sesuai dengan jumlah yang dibayarkan.
  4. Memfokuskan penerbangan international hanya untuk tujuan repatriasi dan urgensi lainnya. Hal ini berlangsung hingga Bulan Juli 2020 dan masih memungkinkan untuk diperpanjang. Penumpang yang terkena dampaknya, dapat mengajukan reschedule dan
  5. Mengurangi jumlah penerbangan secara signifikan, pembatalan, dan penggabungan jadwal keberangkatan. Penumpang yang terkena dampaknya, dapat mengajukan reschedule dan
  6. Memperbaharui regulasi dan penggunaan loyalty programs seperti Big Points, Kris Flyer, dll. Hal ini untuk mengurangi retensi setelah pandemik berakhir.

Strategi untuk memenuhi permintaan pasar setelah pandemik selesai

Tentunya, baik para pelaku usaha, pemerintah, maupun warga negara di seluruh dunia menginginkan agar pandemik ini segera selesai bersamaan dengan hilangnya kekhawatiran dan kendala yang ada. Setelah masa pemulihan, pemain di industri aviasi dapat kembali menjalani tugas untuk melayani orang yang ingin bepergian khususnya untuk jalur udara.

Selagi menunggu saat tersebut datang, langkah yang dapat dilakukan adalah dengan mengadopsi business process dan teknologi baru, seperti pengadaan teknologi yang mampu memonitor kegiatan cross-border, dapat tersaji secara real-time, tanpa adanya maintenance, dan dapat diakses dimanapun dan dengan device apapun. Kedua, membangun reverse loyalty programs terhadap pengguna jasa, karyawan, dan partner bisnis untuk mendapatkan dan memperkuat kepercayaan mereka. Ketiga, adalah untuk mempersiapkan kapasitas sebagai upaya preventif dalam menghadapi lonjakan permintaan. Terakhir, meskipun kondisi sudah pulih, kepercayaan diri masyarakat global untuk kembali bepergian belum tentu segera pulih. Oleh karena itu, perlu adanya upaya untuk menaikkan kepercayaan diri masyarakat global misalnya dengan penghapusan sementara pajak bandara, pajak penumpang, dan biaya lainnya yang terkait.● SPONSORED CONTENT

Catatan: Artikel ini dibuat dan menjadi tanggung jawab sepenuhnya oleh Spire Research and Consulting. 

 

Spire Research and Consulting merupakan perusahaan riset pasar dan konsultasi bisnis global, terutama di negara-negara berkembang. Perusahaan yang didirikan pada 2000 di Singapura ini kini memiliki kantor perwakilan di semua negara Asia Pasifik dan berkantor pusat di Tokyo, Jepang.

PT Spire Indonesia | Wisma BNI Lt. 25 Unit 8-10, Jalan Jend. Sudirman Kav. 1, Jakarta 10220, Telp/Faks: (021) 57945800 www.spireresearch.com


LEAVE A REPLY

Masukkan komentar Anda di sini!
Please enter your name here