TechnoBusiness Opinion
Menghadapi Turbulensi dengan Teknologi
Oleh Jip Ivan Sutanto, Director Enterprise Application Services Business PT Multipolar Technology Tbk
TechnoBusiness Opinion ● Pada pembukaan Infobank Outlook 2026 bertema “Connected Banking Architecture: Real-Time, Resilient, Revenue-Ready” yang diselenggarakan Infobank bersama PT Multipolar Technology Tbk di Pullman Thamrin, Jakarta, pertengahan Oktober 2025, Chairman Infobank Media Group Eko B. Supriyanto menyampaikan bahwa industri perbankan kini tidak lagi berada dalam era VUCA, melainkan telah memasuki era TUNA—Turbulent, Uncertain, Novel, dan Ambiguous.
TUNA mencerminkan realitas baru di mana perubahan teknologi, regulasi, kondisi ekonomi, hingga perilaku nasabah bergerak jauh lebih cepat dibanding kemampuan organisasi untuk beradaptasi. Perbankan tidak memiliki pilihan selain mengikuti kecepatan tersebut.
Hal ini sejalan dengan paparan Head of Payment System Implementation Department Bank Indonesia, Farida Peranginangin, yang menegaskan tuntutan terhadap perbankan untuk mampu mendukung real-time payment, open banking, interkoneksi lintas sistem dan lintas negara, tokenisasi aset, serta pemanfaatan data dan AI. Ditambah dominasi generasi Y, Z, dan Alpha yang diproyeksikan mencapai 60% pada 2030, kecepatan dan ketepatan layanan menjadi kunci.
Tekanan tersebut tercermin dari pertumbuhan transaksi ekonomi dan keuangan digital (EKD). Bank Indonesia mencatat transaksi EKD meningkat dari 8 miliar pada 2020 menjadi 37 miliar pada 2024, dan diproyeksikan menembus 147,3 miliar transaksi pada 2030. Lonjakan ini membawa konsekuensi serius terhadap kompleksitas dan risiko operasional.
Karena itu, transformasi digital tidak cukup dimaknai sebagai pemindahan layanan ke kanal digital. Perbankan perlu memiliki kemampuan merespons peristiwa secara real-time, mendeteksi anomali, serta mengotomatisasi pengambilan keputusan, agar tidak terjebak pada proses manual yang lambat dan berisiko.
Lonjakan transaksi berarti lonjakan event. Di era TUNA, jutaan event ini harus dipahami, dikorelasikan, dan ditindaklanjuti secara cepat dan presisi. Di sinilah pendekatan event-driven architecture menjadi relevan. Teknologi seperti IBM Event Automation memungkinkan perbankan mengelola dan merespons event secara cerdas—membangun operasi yang lebih adaptif, resilien, dan siap menghadapi turbulensi.
Bagaimana menurut Anda, tantangan apa yang paling dirasakan dalam mengelola lonjakan event dan transaksi digital di organisasi Anda saat ini?●
