Oleh Ari Nugrahanto

Pendiri dan CEO Kelola Digital Inc.

 

“Ayo, Pak, Ibu, silakan pindah duduk ke depan, barisan ini first-class, lho! Ayo… Banyak orang yang berebut mau pindah ke first-class gratis jika naik pesawat.”

Begitu gaya saya di salah satu seminar, tapi biasanya tidak banyak yang menanggapi. Kebanyakan tetap duduk di belakang. Akhirnya, saya menyerah juga dan memulai seminar dengan sedikit orang yang berada di baris depan. Padahal, di banyak kesempatan yang lain, seperti di pesawat tadi, barisan terdepan dijual dengan harga paling mahal.

“Baik Bapak, Ibu, sebelum saya mulai, apa yang menjadi tujuan Bapak, Ibu hadir di seminar saya,” tanya saya berikutnya sambil bersiap memegang jumbo-marker di depan flipchart yang tersedia. Pengalaman ini terus saya jalankan mengingat jangan sampai di akhir acara peserta tidak mendapatkan sesuai apa yang mereka inginkan.

 

Dari jawaban mereka, seperti yang sudah diperkirakan, kebanyakan dari mereka menyatakan persis seperti yang ada di flyer acara seminar. Tidak lebih. Sangat menarik. Pertanyaannya, apakah mereka membayar dengan sejumlah uang hanya untuk mendapatkan poin-poin yang ada di flyer? Jika begitu, Anda salah! Itu berarti selama ini Anda bukan hanya berpikir di dalam kotak, melainkan juga berbisnis di dalam pola pikir fix.

Lalu, saat saya memulai seminar dan bertanya tentang, “Apa yang Anda ketahui tentang pemasaran digital?” Apa yang Anda ketahui mengenai search engine optimization (SEO), iklan di Google, iklan di Facebook, e-mail blast, dan sejenisnya?



Jika sudah menggunakannya, sejauh mana hasilnya? Kalau jawabannya sudah sangat maksimal, sebaiknya Anda tak perlu melanjutkan untuk membaca tulisan ini. Tapi, jika Anda tidak mendapatkan apa yang menjadi tujuan akhir dari bisnis Anda, silakan mencoba strategi-strategi yang akan saya tuangkan di dalam tulisan ini.

“Bapak, Ibu, sekarang buka kontak di dalam ponsel atau smartphone Anda.” Semua dengan sigap mengambil telepon genggam mereka, lantas menyebutkan jumlah nomor telepon dan nama yang ada di daftar kontak tersebut.

 

“Apa yang Anda ketahui tentang pemasaran?” Apa yang Anda ketahui mengenai search engine optimization (SEO), iklan di Google, iklan di Facebook, e-mail blast, dan sejenisnya?

 

Sadar atau tidak, jumlah yang ada di dalam kontak ponsel Anda adalah leads dari bisnis Anda. Semakin banyak semakin baik untuk menjalankan strategi pemasaran digital dengan pendekatan hubungan manusia ini. Ada yang memiliki 200 kontak, ada yang 500 kontak. Kontak-kontak itulah yang akan kita ubah menjadi prospek. Prospek adalah individu yang dianggap sebagai sumber potensial calon pembeli yang cocok untuk bisnis Anda.

“Sekarang coba tuliskan semaksimal mungkin dari nama dan nomor telepon itu maka yang sekadar kenalan, teman, dan sahabat Anda.” Ternyata banyak yang tidak bisa membedakan dengan jelas mana yang hanya kenalan, teman, atau sahabat.

Padahal, jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kenalan adalah orang yang dikenal; Teman adalah orang yang bersama-sama melakukan kegiatan; Sahabat adalah teman atau kawan.

Menurut pendekatan hubungan manusia: Kenalan adalah orang yang baru Anda tahu minimal satu kali dan sempat bertukar hanya informasi nomor telepon, alamat e-mail, akun media sosial.

Teman adalah orang yang sudah kenal dan sudah melakukan interaksi minimal lebih dari satu kali atau beberapa kali. Informasi yang Anda ketahui tidak hanya nomor telepon, alamat e-mail, dan akun media sosial, tetapi Anda mengetahui di mana alamat tinggalnya, apa hobinya, siapa saja keluarganya, dan semua hal pribadi lainnya.

Sahabat adalah teman yang sudah Anda kenal cukup dalam, interaksi Anda tidak hanya sekadar tahu tetapi sudah dalam bentuk mengalami suka dan duka. Ada pengalaman dari kedua belah pihak untuk mendukung bukan dari sisi bisnis saja tetapi dari sisi individu dan keluarga.

Seorang sahabat tidak cuma datang pada saat kita suka, tapi justru perbedaan mencolok dari kenalan dan teman adalah ketika sahabat datang pada saat Anda sangat membutuhkan pertolongan secara moriil dan materiil.

“Nah, sekarang berapa jumlah sahabat Bapak, Ibu yang ada di kontak?” tanya saya sambil tersenyum lebar melihat muka-muka yang sangat shock karena ternyata menyebutkan satu nama saja sangat sulit.

Jadi, selama ini kita berada di zona yang sangat nyaman dengan menyebut semua adalah teman atau sahabat. Di situlah letak kesalahan pertama di dalam strategi pemasaran digital. Kita menggangap semua database yang ada di media iklan online adalah prospek. Ya, Anda tidak salah, yang tidak tepat adalah ketidakpastian bahwa apa pun yang Anda tawarkan tepat menuju sasaran.

Tidak semua penawaran produk dan jasa berhasil ditawarkan di media iklan online. Produk dan jasa yang mendapatkan hasil maksimal dari media iklan digital selalui melalui proses engagement yang cukup panjang. Mendapatkan hasil maksimal dari pemasaran digital di mana pun platformnya dibutuhkan digital instant-trust yang harus dilalui digital process-trust.


 

Setelah mengetahui bahwa Anda mempunyai sedikit sahabat, malah cenderung tidak yakin apakah mereka itu teman atau sahabat, maka saran saya segeralah cari sahabat! Ya, dari sekarang bangun tangga hubungan manusia Anda, dari kenalan, teman, sampai dengan sahabat.

Cara yang paling praktis adalah memperbanyak hadir ke acara-acara yang memang terdapat calon prospek Anda. Datang ke sebuah event apa pun jangan fokus dengan isi acaranya, tetapi lihat dari sisi konteks. Manusia membutuhkan manusia lain untuk melakukan hal apa saja, termasuk di dalam bisnis. Tetapi hanya sahabat yang akan ikut ‘terbang’ bersama bisnis Anda dan merasakan naik turunnya tekanan udara di atas langit.

Kalau Anda sepakat dengan saya, sejatinya banyak orang atau bisnis yang sukses di luar sana sederhananya karena mereka punya banyak sahabat. Sebut saja dari Sandiaga Uno sampai dengan Ray Kroc, pemilik merek besar McDonald yang mempunyai teman bernama Walt Disney di masa perang dunia I. Pada akhirnya, Kroc mendapatkan banyak pengalaman dan ilmu bisnis dari teman yang kemudian menjadi sahabatnya, yaitu seorang pemilik merek Disney, Walt Disney.

Langkah praktis berikutnya, cek kembali media sosial yang Anda miliki. Mulai lakukan langkah pendekatan pemasaran digital manusia ini dengan jangan hanya memberikan ‘like’ dan ‘ comment’ di setiap ‘postingan’. Tetapi ‘share’ secara berkala untuk setiap posting-an yang menurut Anda baik.

Kemudian, apabila Anda melihat kenalan atau teman Anda ini sangat memungkinkan untuk berkomunikasi lebih lagi, sapa mereka melalui pesan pribadi atau ‘japri’ melalui private message. Ajak mereka untuk bertemu atau sekadar minum kopi atau makan siang bersama.

Jangan anggap remeh satu orang sahabat, karena manusia tidak bisa hidup sendiri. Sahabat dari sahabat Anda adalah sahabat Anda juga. Jadi, silakan lakukan perhitungan matematika sendiri.

Dunia digital seolah melupakan kita terhadap hubungan manusia yang sangat menjadi fondasi inspirasi teknologi digital. Manfaatkan teknologi bukan untuk melupakan dasar kemanusiaan Anda. Teknologi kita jadikan sebagai alat untuk mempercepat tangga sosial Anda.●

Foto-Foto: drfone.wondershare.com

 

LEAVE A REPLY

Masukkan komentar Anda di sini!
Please enter your name here