Oscar Darmawan, CEO Indodax
PURJONO AGUS SUHENDRO, CEO dan Editor in Chief TechnoBusiness Indonesia

 

Oscar Darmawan, CEO PT Indodax Nasional Indonesia (Indodax), platform pertukaran aset kripto terbesar di Tanah Air, usai menjadi salah satu pembicara “CEO Breakfast Meeting” tentang Blockchain di Kadin Indonesia, Kamis (21/3), mengungkapkan secara gamblang kepada Purjono Agus Suhendro, CEO dan Editor in Chief TechnoBusiness Indonesia, mengenai perkembangan harga Bitcoin saat ini dan prediksinya ke depan.

 

Bagaimana perkembangan Bitcoin saat ini?

Pertumbuhan Bitcoin masih positif. Transaksi internasional per detiknya juga masih tumbuh dari waktu ke waktu. Permintaan dari berbagai negara terus meningkat, regulasi di berbagai negara juga semakin positif.

Saya kira (pasar) Bitcoin masih akan berkembang. Kalau soal harganya, kembali ke supply and demand masing-masing token blockchain-nya. Tapi, sampai saat ini, Bitcoin masih merajai token public blockchain.

Baca Juga: Purjono Agus Suhendro Berbincang dengan Head of Marketing Tokocrypto Adytia Raflein

Akhir 2017, harga Bitcoin mencapai hampir Rp300 juta, sedangkan sekarang hanya Rp50 jutaan. Harga yang turun berarti banyak yang keluar dari trading?

Kalau lihat kurvanya dalam setahun memang benar harganya turun dari Rp200 jutaan ke Rp50 jutaan. Tapi kalau kita lihat kurvanya dalam tiga tahun, itu harganya masih naik tiga kali lipat.

Dua tahun lalu, harga Bitcoin hanya Rp15 juta, sekarang Rp57 juta. Jadi, saya masih melihat pertumbuhan harga Bitcoin tiga kalinya dalam dua tahun. Saya kira kalau ada penurunan dari Rp200 juta ke Rp50 juta itu hal yang baik karena itu proses koreksi dari setiap perdagangan komoditas.

Konsekuensinya banyak yang rugi…

Konsekuensinya, kalau kita bicara komoditas, yang namanya harga naik pasti (akan) turun. Sama seperti saham, ada masa-masa koreksi, ada masa-masa tumbuh.

Yang bahaya justru komoditas yang tidak pernah melakukan koreksi. Karena itu berarti komoditasnya akan naik tinggi sekali kemudian jatuh sampai tidak ada harganya.

Bitcoin merupakan salah satu contoh komoditas yang koreksinya cukup sehat. Sebab, koreksinya terjadi setiap tahun dan secara, kalau kita tarik garis panjang, lima tahunan pertumbuhannya masih naik. Salah satu komoditas yang ideal, sih, kalau menurut saya sejauh ini.

Baca Juga: Purjono Agus Suhendro Berbincang dengan Chief Marketing & Sales MerahPutih.id Aning Wulandari

Apakah mungkin harganya kembali naik tinggi seperti sebelumnya?

Kenapa tidak, karena kita bisa melihat pertumbuhannya semakin positif, demand-nya semakin positif. Dan, kita harus tahu, tahun depan itu ada yang namanya pengurangan suplai atas Bitcoin yang keluar setiap tahunnya yang disebut dengan Bitcoin Halving Day.

(Bitcoin Halving Day terjadi pada empat tahun sekali atau setiap 210.000 blok.–red. TechnoBusinesss Indonesia) Jadi, itu salah satu acara yang menarik dan saya rasa akan memicu pertumbuhan harga Bitcoin tahun depan.

Sedikitnya 18 juta dari total 21 Bitcoin sudah terilis ke pasar. Nah, apakah sisanya itu akan mengangkat harga Bitcoin?

Kita harus tahu konsep dari Bitcoin. Sama seperti komoditas pada umumnya, suplainya bertambah. Cuma, dalam konsep Bitcoin, suplainya dimatikan di 21 juta. Dan, suplainya setiap tahun berkurang.

Jadi, jika awal-awal (suplainya) 50 Bitcoin per 10 menit, kemudian empat tahun berikutnya 25 Bitcoin per 10 menit, sekarang 12,5 Bitcoin per 10 menit. Tahun depan, cuma 6,25 Bitcoin per 10 menit.

Itu akan memengaruhi harga?

Akan memengaruhi harga karena permintaannya makin tinggi tapi suplainya makin berkurang. Itu membentuk potensi harga untuk naik.

Baca Juga: Purjono Agus Suhendro Berbincang dengan Presiden Direktur PT Astragraphia Xprins Indonesia Sahat Sihombing

Kalau sebelumnya harganya sampai hampir Rp300 juta, itu pengaruh apa?

Kemarin itu efek dari pemotongan suplai pada 2016. Jadi, pada 2016, terjadi pemotongan suplai dari 25 Bitcoin per 10 menit ke 12,5 Bitcoin per 10 menit.

Karena suplainya berkurang, maka terjadi lonjakan harga yang besar. Kemudian saat harganya naik tinggi sekali terjadi aksi profit taking dari para spekulan. Kurang lebih seperti itu.

Bagaimana pertumbuhan jumlah investor Bitcoin di Indonesia?

Kita bisa melihat pertumbuhan di member kami, Indodax, minimal ada 300 orang yang terdaftar setiap harinya. Kita masih menjadi bursa pertukarang aset kripto terbesar di Indonesia.

Total member Indodax saat ini?

Saat ini, lebih dari 1,6 juta orang terdaftar di sistem kami.

Tapi, itu lebih sedikit dibanding saat Bitcoin “naik daun” kemarin? Yang ideal itu kan beli pada waktu murah dan jual saat mahal. Karena setiap komoditas seperti itu cara mendapatkan uangnya. Tapi, kami melihat ada kecenderungan banyak user yang justru tertarik untuk membeli pada saat harga tinggi lalu menjualnya kala harga murah.

Karena itu, saya kira edukasi sangat diperlukan dan menerangkan kepada masyarakat agar belilah pada waktu murah dan jual pada waktu mahal. Ini yang perlu ditekankan.

TechnoBusiness TV: Exclusive Interview with Setyo Harsoyo, CEO Sprint Asia Technology

Berapa pendapatan Indodax?

Kami memungut biaya hanya 0,3% dari transaksi yang terjadi. Jadi, sangat kecil, sehingga user bisa mendapatkan potential profit yang maksimal.

Totalnya berapa?

Itu kami tidak bisa disclose. Cuma bisa dihitung berapa kira-kira pendapatan Indodax.

Terakhir, di Indonesia ada beberapa penyedia pertukaran aset kripto. Bagaimana strategi Indodax dalam menarik jumlah member agar semakin banyak?

Kami sangat percaya bahwa keamanan adalah hal yang paling penting, juga pelayanan kepada pelanggan. Jadi, kami tidak mau bersaing di level biaya, murah-murahan biaya, tapi di level keprofesionalitasan.

Kami menjadikan Indodax sebagai platform paling tepercaya, Indodax menjadi platform paling aman, dan paling melayani konsumen.

Meskipun ada Tokocrypto, Luno, dan lain-lain?

Ya, betul. Kami tidak mau menjadi yang termurah, tapi kami ingin menjadi yang terbaik, tepercaya, dan konsumen kami adalah yang terpenting. Kami juga percaya bahwa mereka (member) memilih kami bukan karena yang termurah, melainkan yang paling profesional.●

Foto: TechnoBusiness ID

 

7 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Masukkan komentar Anda di sini!
Please enter your name here