Dampak buruk bekerja dari rumah perlu menjadi perhatian serius perusahaan.

Tren bekerja dari rumah yang didorong oleh pandemi COVID-19 ternyata memunculkan masalah baru bagi karyawan.

California dan Jakarta, TechnoBusiness InsightsKemunculan pandemi COVID-19 memaksa siapa pun untuk tetap di rumah, termasuk bekerja dari rumah (work from home).

Baca Juga: Gokil! Harga Ethereum Naik Dua Kali Lipat Sebulan 

Tren bekerja dari rumah itu dipandang sebagai solusi yang paling tepat dan efektif mengingat karyawan tetap bisa bekerja meski tak masuk ke kantor.

Berbekal laptop dan koneksi internet, pekerjaan karyawan sudah bisa dijalankan sebagaimana mestinya tanpa perlu khawatir terpapar virus antarsesama karyawan.

Pola bekerja dari rumah pun disambut karyawan dengan sukacita. Dalam berbagai survei karyawan mengaku ogah kembali ke kantor meski pandemi telah usai.

Baca Juga: Kinerja ICS Compute Tumbuh Cepat Berkat AWS



Melihat fakta itu, akhirnya perusahaan-perusahaan memanfaatkan fitur pelacakan dan atau pemantauan untuk memastikan karyawannya bekerja dari rumah.

Masalahnya, bekerja dari rumah yang dinilai paling efektif tersebut ternyata juga memiliki dampak buruk.

Hasil studi Gartner, Inc. (NYSE: IT), firma riset pasar yang berbasis di Stamford, Connecticut, Amerika Serikat, baru-baru ini mengungkapkan hal yang mencengangkan terkait tren bekerja dari rumah.

Baca Juga: Investasi Telkomsel di Gojek Ditambah US$300 Juta

Dari studi yang melibatkan lebih dari 2.400 karyawan di seluruh dunia itu diketahui: pertama, fitur pelacakan hanya membuat karyawan hampir dua kali lipat lebih mungkin untuk berpura-pura bekerja.


Kedua, terlalu banyak rapat virtual justru menyebabkan beban mental karyawan. Mayoritas karyawan mengaku lebih banyak rapat ketimbang benar-benar mengerjakan pekerjaannya.


Akibatnya, bekerja dari rumah yang sepintas cukup efektif dan menyenangkan malah membuahkan kinerja yang lebih rendah.

Baca Juga: SpaceX Akan Luncurkan Satelit Doge-1 ke Bulan

“Ketika tingkat kelelahannya tinggi, kinerja karyawan menurun,” kata Alexia Cambon, direktur di Gartner HR Practice. “Bahkan, 54%-nya lebih memilih meninggalkan perusahaan mereka.”


Jadi, pola bekerja karyawan pun sekarang menjadi dilema perusahaan: memberlakukan kerja di kantor berisiko mengembangbiakkan virus, bekerja dari rumah tak benar-benar efektif.

Teks: TechnoBusiness Insights

Data: Gartner, Mei 2021

Foto: Pixabay

LEAVE A REPLY

Masukkan komentar Anda di sini!
Please enter your name here