Ketidakterpaduan antara pendidikan dan keterampilan kerja menjadi masalah serius dunia.

Sebagian pemuda usia kerja di dunia merasa betapa pendidikan dan keterampilan kerja mereka tak saling terkait.

Jenewa dan London, TechnoBusiness Insights ● Bukan hanya di Indonesia, ternyata sebagian pemuda di dunia merasa pendidikan dan keterampilan kerja yang mereka miliki tidak nyambung.

Hal itu terungkap dalam jajak pendapat online yang dilakukan oleh United Nations Children’s Fund (UNICEF) terkait pendidikan dan keterampilan yang tersedia di dunia pada Februari lalu.

Baca Juga: Tantangan Penerapan Industri 4.0 di Indonesia

Survei berkaitan dengan pendidikan dan keterampilan itu melibatkan 40.000 responden muda dari 150 negara. UNICEF melaporkan hasil surveinya itu dalam U-Report.

Hasil survei UNICEF tentang pendidikan dan keterampilan anak muda di dunia memperkuat temuan PwC sebelumnya.

Dari hasil survei itu juga terungkap bahwa sepertiga (31%) pemuda di dunia merasa pendidikan dan keterampilan yang ditawarkan tidak sesuai dengan aspirasi karier mereka.

Sebanyak 39% pemuda mengatakan pekerjaan yang mereka cari tidak tersedia di komunitas mereka. Mereka bertambah bingung karena lembaga pendidikan mereka tak membekali keterampilan untuk bisa mendapatkan pekerjaan.


Baca Juga: McKinsey: Bakal Tercipta 46 Juta Pekerjaan Baru Jika…

Pendidikan dan keterampilan yang mereka inginkan saat ini, menurut survei itu, di antaranya terkait kepemimpinan (22%), pemikiran analitis dan inovasi (19%), serta pemrosesan informasi dan data (16%).

“Anak-anak muda memberi tahu kami bahwa mereka menginginkan keterampilan digital dan yang dapat dialihkan untuk berhasil di tempat kerja nantinya,” kata Executive Director UNICEF Henrietta Fore.

Hasil survei UNICEF itu mengonfirmasi sekaligus memperkuat temuan PwC, firma riset global berbasis di London, dalam penelitian yang melibatkan para pemimpin perusahaan di dunia belum lama ini.

Dibutuhkan terobosan untuk menyambungkan antara pendidikan dan keterampilan.

Hasil survei berjudul PwC’s 23rd Annual Global CEO Survey tersebut mengungkap bahwa 70% chief executive officer (CEO) di dunia merasa khawatir atas sulitnya menemukan tenaga terampil demi mengembangkan bisnis mereka.

Baca Juga: Optimisme Jokowi dan Prediksi Manpower Group

Padahal, ada 10 juta anak muda yang masuk usia kerja baru setiap bulannya, yang mereka kebanyakan berasal dari negara berpenghasilan rendah dan menengah.

70% CEO di dunia khawatir atas sulitnya menemukan tenaga terampil demi mengembangkan bisnis mereka.

Di belakang mereka ada adik-adik yang 1,5 tahun lagi segera menyusul memasuki usia kerja.

Sehingga, karena pendidikan dan keterampilan tidak nyambung, berpotensi memburuk situasi jika tidak segera ditangani.

Bahkan, PwC menyatakan, masalah itu akan semakin runyam karena 20-40% pekerjaan yang ditangani anak usia 16-24 tahun saat ini berpotensi dialihkan ke sistem otomatisasi pada 2030-an.

Baca Juga: Pertumbuhan Bisnis Cloud Mulai Dikhawatirkan, Ini Sebabnya

Lebih jauh dari itu, tiga tahun lalu firma konsultan manajemen internasional asal Amerika Serikat, McKinsey Global Institute, sudah membuat proyeksi tentang dunia pekerjaan masa depan.

McKinsey menyatakan revolusi industri 4.0 kemungkinan bakal berdampak pada 400-800 juta orang di berbagai negara kehilangan pekerjaan dalam 12 tahun ke depan sejak 2017.

Pendidikan dan keterampilan sekarang ini dinilai tidak "nyambung".

Oleh karena itu, seperti yang pernah disampaikan oleh TechnoBusiness Media, sudah saatnya semua orang untuk menggeser kategori pekerjaan dan mempelajari keterampilan baru yang potensi untuk tahun-tahun mendatang.

Baca Juga: Rata-Rata CEO di Dunia Pesimistis Terhadap Laju Perekonomian

Artinya, pemuda masa depan sejagat akan kian sulit mencari pekerjaan karena pendidikan dan keterampilan yang ada saat ini tidak nyambung, ditambah agresivitas otomatisasi di era Revolusi Industri 4.0 kian tak terbendung.

McKinsey: revolusi industri 4.0 kemungkinan bakal berdampak pada 400-800 juta orang di berbagai negara kehilangan pekerjaan dalam 12 tahun ke depan. 

Jadi, betul kata PwC, minimnya keterampilan pemuda usia kerja menjadi masalah dan risiko utama saat ini dan ke depan atas ketidakterpaduan antara pendidikan dan keterampilan yang dibutuhkan industri.

“Banyak orang yang paling membutuhkan keterampilan justru memiliki akses paling sedikit terhadap peluang,” kata Bob Moritz, Chairman PwC Network.

Baca Juga: 97% Orang Tua Setuju Teknologi Berperan Besar dalam Pendidikan

Untuk itu, fakta tersebut menjadi tanggung jawab semua lapisan, baik pemerintah maupun swasta. “Kami percaya sektor swasta juga memiliki tanggung jawab untuk membantu mengatasi tantangan itu,” ujar Moritz.

Guna menjadi bagian dari upaya penyelesaian tantangan yang ada, tiga tahun ini UNICEF dan PwC telah secara bersama-sama melakukan penelitian, mengedukasi para kaum muda, termasuk mendanai program pendidikan dan keterampilan di berbagai negara.●

Teks: TechnoBusiness Insights

Data: UNICEF, PwC, dan McKinsey Global Institute

Foto: Pixabay


 

LEAVE A REPLY

Masukkan komentar Anda di sini!
Please enter your name here