Samsung.com Shop, Strategi Samsung Dongkrak Penjualan

Jakarta, TechnoBusiness ID · Orang boleh berpikir daya beli menurun. Tapi, sebetulnya, yang terjadi adalah peralihan (shifting) dari pembelian konvensional (offline) ke digital (online).

Buktinya, merujuk pada data PricewaterhouseCoopers, jumlah konsumen belanja online dalam dua tahun terakhir meningkat pesat. Pada Oktober 2017 saja, sudah ada 36% konsumen yang membeli produk secara online setiap bulannya.

Yang terbaru, per November 2018, periset pasar IPSOS Indonesia melaporkan bahwa sebanyak 41% orang menghabiskan waktu untuk membeli barang elektronik dan gadget di platform online.

Baca Juga: Mengapa Pendapatan Acer 2018 Seret?

Semua merasakan berkah dari perubahan pola belanja konsumen dari offline ke online, salah satunya raja ponsel pintar Samsung. Vendor ponsel pintar asal Korea Selatan itu menyatakan penjualan melalui online-nya di Indonesia pada 2018 tumbuh 62% dibanding tahun sebelumnya.

Penjualan Samsung melalui ranah online di Indonesia pada 2018 tumbuh 62% dibanding tahun sebelumnya.

Menurut penjelasan Samsung Electronics Indonesia, pangsa pasar (market share) online-nya pada November 2018 mencapai 60,2%. Sudah lebih besar daripada penjualan offline mereka.

“Samsung memahami bahwa konsumen Indonesia sudah fasih berbelanja secara online, tidak terkecuali dalam membeli perangkat gadget seperti ponsel dan barang elektronik lainnya,” ungkap Elvira Jakub, Corporate Marketing Director Samsung Electronics Indonesia, di Jakarta, Selasa (15/1).

Untuk itu, Samsung merasa perlu memperkuat platform online-nya. Strateginya, yaitu dengan meluncurkan Samsung.com Shop. Dengan begitu, konsumen bisa langsung membeli produk-produk Samsung langsung ke vendornya.

Baca Juga: 27 Juta Orang Amerika Memulai Bisnis Baru

Di platform itu, tidak hanya ponsel pintar, konsumen juga bisa membeli televisi, lemari es, mesin cuci, home appliances, dan aksesori-aksesorinya. Samsung menawarkan pengalaman berbelanja yang nyaman dan pengiriman barang yang cepat.

“Sekarang semua orang beralih berbelanja secara online. Sayang jika peluang itu tidak ditangkap.”

Strategi Samsung itu bagus, walau saat ini sudah menjadi hal yang biasa.

Menurut pengamat e-commerce yang juga CEO TechnoBusiness Indonesia Purjono Agus Suhendro, justru aneh jika perusahaan sebesar Samsung tidak membuka toko online di laman web-nya.

“Sebab, sekarang semua orang beralih berbelanja secara online. Sayang jika peluang itu tidak ditangkap,” ungkap Purjono. “Rival bebuyutannya, LG, sudah melakukannya sejak lama.”

Tidak hanya itu, merek-merek ponsel pintar baru, terutama second brand dari China seperti Honor dari Huawei, Pocophone dan Redmi dari Xiaomi, dan Realme dari Oppo, bahkan sengaja dihadirkan untuk menggarap pasar online.

Baca Juga: Tingkat Kepercayaan CEO-CEO Global Menurun

“Mereka menyebutnya sebagai e-brand dan menjadi kategori baru di pasar ponsel pintar global,” jelas mantan Managing Editor Bloomberg Businessweek Indonesia itu.

Merek-merek itu tidak sekadar menawarkan produk melalui website mereka sendiri, tapi juga menyemarakkan hampir semua e-commerce sejagat, termasuk di Indonesia.

Pengaruh e-commerce terhadap penjualan merek-merek itu pun tidak bisa dipandang remeh.

Pengaruh e-commerce terhadap penjualan merek-merek itu pun tidak bisa dipandang remeh.

Lihat saja, berita-berita yang mengabarkan bahwa ponsel merek A atau B habis terjual dalam sekian detik di e-commerce C sering kali kita dengar.

“Itu menandakan bahwa konsumen sudah mulai terbiasa dengan berbelanja online, dan merek apa pun harus serius menggarap budaya baru dalam berbelanja tersebut,” jelas Purjono.

Samsung, dengan merilis Samsung.com Shop, sudah melakukan langkah yang benar. Kata Purjono, tinggal bagaimana vendor elektronik terkemuka itu mengemas strategi pemasarannya agar konsumen mau berbelanja melalui website mereka.·

—Intan Wulandari, TechnoBusiness ID · Foto: Samsung Electronics

 

Inspiratif! “Live Shopping”, Inovasi Ala Shoclef

San Francisco, TechnoBusiness Shoclef, platform belanja mobile (mobile shopping) yang dikembangkan oleh Shoclef Corporation Limited, San Francisco, memberi warna tersendiri bagi dunia e-commerce global.

Platform yang beroperasi di 150.000 kota di Amerika Serikat, Hong Kong, Prancis, Australia, Chile, dan Meksiko, itu menawarkan cara berbelanja yang unik, yakni live shopping.

Baca Juga: DIVA dan Tetra X Change Luncurkan Pesan Singkat AI

Para pembeli dan penjual dapat melakukan tawar-menawar secara langsung melalui livestream yang disediakan Shoclef. Itu amat berbeda dengan pola membeli dengan mengeklik di platform e-commerce pada umumnya.

Shoclef telah digunakan oleh 80 juta pengguna aktif di Asia.

Shoclef menerangkan bahwa cara itu amat disenangi karena pembeli bisa melihat barang yang akan mereka beli secara interaktif. Alhasil, rasa kecewa pun dapat diminimalisasi.

Fitur Go Live Shoclef juga semakin menarik karena pembeli bisa berkunjung ke gerai-gerai yang tersedia. Tidak suka dengan warna sebuah jaket? Ingin mencocokkan sepatu boot dengan jaket itu? Semua bisa.

Baca Juga: Ekonomi Digital Asia Tenggara Menuju US$240 Miliar

Manajemen Shoclef meyakini bahwa model berbelanja semacam itu memberi pengalaman yang unik dan menarik bagi konsumen, tentu saja juga penjual.

Sejak diperkenalkan pertama kali pada 2017, berdasarkan penjelasan resminya, Shoclef telah digunakan oleh 80 juta pengguna aktif di Asia.

Setelah Go Live, saat ini Shoclef sedang mengembangkan beberapa aplikasi lainnya yang menurut rencana akan diluncurkan tahun depan.●

—Philips C. Rubin, TechnoBusiness/PRN ● Foto: Shoclef

 

Transaksi 12.12 Jet Commerce Dua Kali Lipat 11.11

Jakarta, TechnoBusiness ID ● Nilai transaksi Jet Commerce, penyedia solusi e-commerce terpadu di Asia Tenggara, pada Hari Belanja Online 12.12 mencapai dua kali lipat dibanding 11.11.

Tapi, perusahaan yang didirikan pada 2017 sebagai authorized channel commerce Alibaba.com di Indonesia itu menolak menyebutkan secara rinci nilai nominalnya.

Perusahaan tersebut hanya menyebutkan gadget masih tetap mendominasi penjualan selama periode promosi.

Baca Juga: Strategi Jet Commerce Taklukkan Pasar E-commerce 

Kategori berikutnya yaitu produk kecantikan dan kesehatan serta perawatan bayi. Shiseido, produk kecantikan keluaran Shiseido Company Limited (OTCQC: SSDOY) asal Jepang, bahkan meraup kenaikan nilai transaksi hingga 38 kali dibanding harı biasa.

Saat promo Harbolnas, trafik official online store yang dikelola Jet Commerce naik sekitar 4,5 kali lipat.

Untuk kategori makanan hewan peliharaan (pet food) naik 2,5 kali lipat dibanding pesta belanja pada 11.11.

“Tingginya antusiasme masyarakat dalam berbelanja online menjadi motivasi kami untuk memastikan pengalaman belanja terbaik pelanggan,” ungkap Oliver Yang, CEO Jet Commerce, di Jakarta, Senin (17/12).

Baca Juga: Promo Histeria Blibli Dongkrak Jumlah Konsumen 35 Kali Lipat

Saat promo Harbolnas, trafik official online store yang dikelola Jet Commerce naik sekitar 4,5 kali lipat. Para konsumen kebanyakan berasal dari Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Mereka kebanyakan memilih berbelanja ketika jam istirahat kerja (11-1 siang) dan jam pulang kerja (jam 5-7 sore).

Menindaklanjuti respons konsumen yang cukup baik, Yang mengatakan, “Persiapan hulu hilir akan terus kami tingkatkan, mulai dari strategi pemasaran digital, performa official online store mitra merek, layanan pelanggan, hingga fulfillment.”●

—Vino Darmawan, TechnoBusiness ID ● Foto: Jet Commerce

 

Promo Histeria Blibli Dongkrak Jumlah Konsumen 35 Kali Lipat

Jakarta, TechnoBusiness ID ● Program promo belanja online akhir tahun 2018 bertajuk “Blibli Histeria Jerat Jerit 10.10, 11.11, 12.12” Blibli.com disambut antusias oleh masyarakat.

Dalam pengumuman resmi Blibli, promo tahunan kali ini berhasil mendongkrak jumlah konsumen yang bertransaksi hingga 35 kali lipat dibanding hari biasa.

Baca Juga: IPO Tencent Music Ditargetkan Raup US$1,07 Miliar

Banyaknya konsumen tersebut juga meningkatkan angka pesanan dan Gross Merchandise Value (GMV) masing-masing 11 kali lipat dibanding hari biasa. Sayangnya, Blibli tak menyebutkan secara rinci angkanya.

70% pembelian selama promosi masih berasal dari konsumen Jabodetabek.

Perusahaan e-commerce berkonsep business to business to customer (B2B2C) yang diluncurkan PT Global Digital Niaga, anak perusahaan Grup Djarum, pada 2011 itu hanya menerangkan bahwa ponsel, groseri, dan produk-produk digitallah yang paling laris selama promosi.

Baca Juga: Akibat Perang Dagang, GoPro Tinggalkan China

Menurut Chief Executive Officer Blibli Kusumo Martanto, 70% pembelian masih berasal dari Jabodetabek. Pembayaran terbanyak masih didominasi oleh sistem transfer bank.

“Kami mengapresiasi merek maupun mitra merchant dan mitra perbankan yang telah berpartisipasi, demikian pula konsumen yang telah memilih Blibli sebagai tempat belanja online,” ungkap Kusumo.●

—Anwar Ibrahim, TechnoBusiness ID ● Foto: Blibli.com

 

IPO Tencent Music Ditargetkan Raup US$1,07 Miliar

New York, TechnoBusiness ● Tencent Music Entertainment Group (NYSE: TME), platform hiburan musik online terkemuka di China, kemarin mengumumkan harga awal penawaran umum atas 82 juta saham senilai US$13 per saham.

Pengumuman itu menandai masuknya Tencent Music sebagai emiten di New York Stock Exchange (NYSE) per hari ini dengan simbol TME. Penawaran harga saham perdana dibuka hingga Jumat (14/12).

Baca Juga: Akibat Perang Dagang, GoPro Tinggalkan China

Dari 82 juta saham atau American Depository Shares (ADS) yang ditawarkan itu, 41.029.829-nya ditawarkan oleh perusahaan, sisanya ditawarkan oleh pemegang saham yang menjual.

Tencent Music menargetkan meraup US$1,07 miliar jika underwriter tidak menggunakan opsi over-allotment mereka dan US$1,23 miliar jika opsi itu digunakan secara penuh.

Morgan Stanley & CO. LLC, Goldman Sachs (Asia) LLC, JP Morgan Securities LLC, Deutsche Bank Securities Inc., dan Merrill Lynch, Pierce, Fenner & Smith Incorporated bertindak sebagai penunjuk buku bersama atas penawaran tersebut.

Untuk diketahui, Tencent Music merupakan anak perusahaan Tencent Holding Limited hasil akuisisi dari China Music Corporation pada Juli 2016. Keberadaannya menjadi kompetitor utama bagi Spotify yang telah populer di Amerika Serikat, Eropa Barat, dan Oceania.

Baca Juga: Bulan Madu Baim-Paula Disponsori Booking.com

Perusahaan mengoperasikan aneka aplikasi, antara lain aplikasi musik streaming QQ Music, Kugou Music, Kuwo Music, dan aplikasi karaoke WeSing. Aplikasi-aplikasi itu digunakan oleh lebih dari 800 juta pengguna aktif bulanan per kuartal kedua 2018.

Berdasarkan data periset pasar Statista, pendapatan Tencent Music tumbuh sangat pesat. Pada 2017, Tencent Music meraup pendapatan sebesar 10,98 miliar yuan, naik lebih dari dua kali lipat dibanding 4,36 miliar yuan pada 2016.

Pendapatan tahun ini pun diperkirakan bakal kembali naik berlipat karena pada kuartal pertama 2018 saja sudah menghasilkan 8,61 miliar yuan. Pendapatan sebesar itu berarti pula dua kali lipat hasil setahun selama 2016.●

—David T. William, TechnoBusiness/PRN ● Foto: Tencent Music  

Membaca Strategi “Rebranding” MatahariMall.com

Jakarta, TechnoBusiness ID ● Kabar mengejutkan datang dari dunia e-commerce Tanah Air. Pada Rabu (21/11) lalu, MatahariMall.com tiba-tiba mengumumkan akan mengubah namanya menjadi Matahari.com.

Kabar itu sudah mulai tersiar sehari sebelumnya ketika beberapa merchant yang menjadi mitra MatahariMall.com mengabarkan keputusan Lippo Group tersebut.

Baca Juga: Valuasi Tokopedia Diprediksi Mencapai US$7 Miliar

Perubahan itu tentu memantik pertanyaan publik: Apa yang terjadi dengan MatahariMall? Mungkinkah itu berarti MatahariMall kalah bersaing dengan pemain-pemain e-commerce lainnya seperti Tokopedia, Bukalapak, dan Lazada?

Pertanyaan itu wajar muncul mengingat betapa hebohnya saat-saat MatahariMall akan lahir pada 9 September 2015 lalu. Rencana kelahirannya saja sudah tersiar sejak 25 Februari sebelumnya.

Rebrand ini akan membuat Matahari lebih cepat mencapai tujuannya dalam menyediakan pengalaman omni-channel sejati.” 

Yang semakin membuat gemerlap MatahariMall adalah alokasi dana awalnya yang sudah cukup besar, yakni US$500 juta.

Itu belum termasuk kucuran dana dari Mitsui & Co asal Jepang senilai US$100 juta pada Oktober 2016, setahun setelah beroperasi.

Talenta-talenta top pun direkrut, seperti CEO Zalora Hadi Wenas didapuk menjadi CEO MatahariMall, mantan Presiden Direktur Garuda Indonesia Emirsyah Satar ditunjuk sebagai chairman, dan mantan Country Director Google Indonesia Rudy Ramawy sebagai vice chairman.

Sayangnya, kinerja MatahariMall tak segelamor kabar awalnya. Merujuk pada daftar lima besar e-commerce di Tanah Air yang dirilis situs agregator iPrice Group berbasis di Malaysia, MatahariMall tidak termasuk.

Baca Juga: Pesanan Harian Shopee Indonesia Mencapai 0,7 Juta

Tahu-tahu MatahariMall mengumumkan strategi barunya dengan menjadi versi online-nya Matahari. Langkah itu, menurut CEO MatahariMall Hadi Wenas, semata-mata untuk mempercepat penerapan omni-channel bagi Matahari.

Rebrand ini akan membuat Matahari lebih cepat mencapai tujuannya dalam menyediakan pengalaman omni-channel sejati kepada pelanggannya di Indonesia,” kata Wenas dalam pernyataan tertulisnya.

Perusahaan mengembangkan kapabilitas omni-channel untuk memberi pilihan belanja bebas hambatan.

Yang dimaksud omni-channel adalah strategi lintas saluran (cross channel strategy) yang semua lini terintegrasi satu sama lain yang memungkinkan meningkatkan pengalaman pelanggan (customer experience) secara lebih baik, cepat, dan efisien.

Itu berarti, perubahan merek dari MatahariMall menjadi Matahari.com mengubah konsep yang semula sebagai perusahaan e-commerce pertama di Tanah Air yang menerapkan online to offline menjadi perusahaan omni-channel.

Baca Juga: Jumlah Pengunjung Lazada Anjlok Amat Dalam

“Sinergi ini akan membuat MatahariMall, dengan kecanggihan teknologinya, dan Matahari, dengan pengalaman ritel fesyennya, bekerja sama secara lebih efektif demi keuntungan pelanggan,” lanjut Wenas.

Matahari memiliki 155 gerai yang tersebar di 74 kota di seluruh Indonesia.

Vice President dan CEO Matahari Richard Gibson menambahkan, perusahaan mengembangkan kapabilitas omni-channel untuk memberi pilihan belanja bebas hambatan bagi pelanggan, baik online maupun offline, lewat Matahari.com ataupun gerai Matahari.

Sampai saat ini, Matahari yang dikelola PT Matahari Putra Prima (IDX: LPPF) memiliki 155 gerai yang tersebar di 74 kota di seluruh Indonesia. Selain Matahari, Matahari Putra Prima juga mengoperasikan supermarket Hypermart, Foodmart, dan lain-lain.

Hingga usianya yang menginjak 60 tahun sejak didirikan pada 24 Oktober 1968, Matahari telah mempekerjakan sebanyak 40.000 karyawan dengan melibatkan 850 pemasok lokal dan internasional.

Baca Juga: Ternyata Pria Lebih Gila Belanja

Selama itu peritel legendaris tersebut tentu sudah mengalami pasang surut. Kini, harapannya bisa tumbuh dengan konsep omni-channel di tengah beragam tantangan yang mesti dihadapi.

HADI KUNCORO
Group CEO PowerCommerce Asia

Apakah langkah MatahariMall itu tepat? Menurut pakar distribusi yang juga Group CEO PowerCommerce Asia Hadi Kuncoro, “Sangat tepat”.

Bahkan, sejak dulu Hadi percaya bahwa Indonesia yang luas dengan beragam karakteristik pasar amat cocok jika peritel memanfaatkan konsep omni-channel.

Akan tetapi, harus dipahami bahwa omni-channel amat kompleks, tak sesederhana O2O seperti yang dijalankan MatahariMall sebelumnya.

“Peritel harus mengintegrasikan antara point of sales, inventory system, dan lain sebagainya secara online,” kata Hadi. “Bahkan, customer relationship management di ritel offline dengan yang online juga harus terkoneksi.”

Lebih dari itu, susunan di gerai toko, sumber daya manusia, standard operating procedure (SOP)-nya pun mesti diintegrasikan. Untuk itu, kata Hadi, perlu proses change management secara menyeluruh.

Apakah itu akan dilakukan Matahari? Ataukah peleburan MatahariMall ke Matahari hanya kamuflase dari pembubaran e-commerce tersebut? Kita lihat perkembangan selanjutnya.

Baca Juga: Pasar Asia Berubah Setiap Hari

Yang pasti, penjualan konsolidasi Matahari selama sembilan bulan pertama 2018 mencapai Rp13,6 triliun, naik 3% dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencatatkan nilai Rp13,2 triliun.

Pendapatan bersihnya pun naik 3,0% menjadi Rp7,8 triliun dengan same store sales growth tercatat sebesar 4,4%. Laba bersihnya sekitar Rp1,5 triliun, ekuivalen dengan 11% penjualan.●

—Intan Wulandari, TechnoBusiness ID ● Foto: MatahariMall.com, TechnoBusiness Media Network

 

Valuasi Tokopedia Diprediksi Mencapai US$7 Miliar

Jakarta, TechnoBusiness ID ● Kini, valuasi PT Tokopedia, marketplace terbesar yang didirikan oleh William Tanuwijaya dan Leontinus Alpha Edison pada 2009, dikabarkan oleh Bloomberg telah mencapai US$7 miliar.

Nilai sebesar itu dicatatkan setelah Tokopedia berhasil mengumpulkan pendanaan tambahan senilai US$1 miliar dari beberapa investor, termasuk investor lamanya, SoftBank Group, baru-baru ini.

Baca Juga: Jumlah Pengunjung Lazada Anjlok Amat Dalam

Sampai saat ini belum ada pernyataan resmi dari Tokopedia maupun William sebagai CEO. Namun, dapat dipastikan bahwa pendanaan terbaru itu semakin mengukuhkan Tokopedia sebagai pemain e-commerce terbesar di Tanah Air.

Tokopedia berhasil meninggalkan rival-rival terdekatnya, antara lain Bukalapak, Shopee, Lazada, dan Blibli.

Tokopedia berhasil meninggalkan rival-rival terdekatnya, antara lain Bukalapak, Shopee, Lazada, dan Blibli. Jumlah pengunjung kuartalan bisa menjadi cerminan.

Merujuk pada data SimilarWeb dan iPrice Group yang telah dipublikasikan oleh TechnoBusiness Media pada pertengahan Oktober lalu, per kuartal 3/2018 Tokopedia sukses menarik 153,6 juta pengunjung per bulanan.

Baca Juga: Pesanan Harian Shopee Indonesia Mencapai 0,7 Juta

Jumlah itu jauh lebih banyak dibanding pemegang peringkat kedua, Bukalapak, yang hanya memiliki 95,9 juta pengunjung per bulan. Shopee milik Sea Limited asal Singapura berada di posisi ketiga dengan 38,3 pengunjung.

Lazada Indonesia, marketplace milik Alibaba Group Holdings Limited, yang tahun-tahun sebelumnya selalu nangkring di posisi teratas justru terhempas ke urutan keempat dengan 36,4 juta pengunjung.

Posisi Lazada hanya menang satu peringkat dari Blibli milik Global Digital Prima, anak perusahaan konglomerasi rokok Djarum, yang mengeruk 31,3 juta pengunjung.●

—Intan Wulandari, TechnoBusiness ID ● Foto: Tokopedia

 

Pesanan Harian Shopee Indonesia Mencapai 0,7 Juta

Singapura, TechnoBusiness ● Dalam laporan keuangan kuartalan Sea Limited (NYSE: SE), penyedia platform internet, e-commerce, dan digital content yang berbasis di Singapura, Shopee Indonesia berhasil memperoleh 63,7 juta pesanan dari konsumen selama kuartal 3/2018.

Induk Shopee yang semula bernama Garena Interactive Holding Limited itu menyampaikan bahwa lini e-commerce-nya tersebut memperoleh rata-rata 0,7 juta pesanan di Indonesia per hari. Angka itu sekaligus menempatkan Indonesia sebagai pasar terbesarnya.

Simak TechnoBusiness TV: Tiga “Senjata” HP Pasarkan PC Premium

“Kami sekali lagi mencapai pertumbuhan yang kuat pada kuartal ketiga 2018,” kata Forrest Xiaodong Li, Chairman dan Group CEO Sea, dalam pernyataan resmi perusahaan yang disampaikan kepada publik di Singapura, Selasa (20/11).

“Shopee mengunggah nilai barang dagangan kotor [gross merchandise value] dan jumlah pesanan kuartalan terbaik karena memperluas keunggulannya sebagai platform e-commerce terbesar di kawasan ini,” lanjut Li.

“Kami sekali lagi mencapai pertumbuhan yang kuat pada kuartal ketiga 2018.”

Kinerja yang baik Shopee juga didorong oleh keberhasilannya dalam menggelar festival belanja online “Shopee 11.11 Big Sale”.

Festival tersebut juga “Menetapkan rekor bersejarah bagi Shopee, membantu memperkuat reputasinya sebagai tujuan belanja online di wilayah ini,” kata Li.

Secara keseluruhan bisnis, pada kuartal 3/2018 Sea meraup pendapatan sebesar US$242,8 juta, naik 60,1% dibanding periode yang sama tahun lalu yang membukukan US$151,7 juta. Pendapatan itu 10,6% lebih besar daripada kuartal 2/2018.

Pendapatan terbesar Sea pada kuartal 3/2018 disumbangkan oleh lini hiburan digital, yakni sebesar US$144,6 juta, naik dari 7,4% dibanding setahun lalu (US$134,5 juta). Garena, penyedia gaming yang menjadi andalan Sea, telah berhasil mencetak pertumbuhan yang kuat.

Baca Juga: Jangan Terbujuk “Setan Diskon” 11.11

Permainan yang dikembangkan sendiri saja, Free Fire, baru-baru ini digunakan oleh lebih dari 200 juta pengguna di seluruh dunia. Pengguna aktif hariannya mencapai 27 juta, naik signifikan dibanding hanya 16 juta pengguna sebelumnya.

Pada Senin (19/11), Sea menandatangani letter of intent dengan Tencent untuk lebih serius menggarap pasar Indonesia, Taiwan, Thailand, Filipina, Malaysia, dan Singapura.

Sementara lini e-commerce Sea, yang bertumpu pada bisnis Shopee, pendapatan pada kuartal 3/2018 tumbuh 34,8% dibanding kuartal sebelumnya. Pendapatan itu disokong dari banyaknya penjual yang memanfaatkan paket iklan dan layanan bernilai tambah Shopee.●

—Michael A. Kheilton, TechnoBusiness ● Foto:  Shopee

Ternyata Pria Lebih Gila Belanja

TechnoBusiness Insight ● Anda masih berpikir bahwa wanita merupakan sosok yang “doyan belanja”? Anggapan itu mulai sekarang sebaiknya dibuang jauh-jauh.

Data yang dirilis iPrice Group, agregator belanja online milik pribadi yang berbasis di Kuala Lumpur, Malaysia, selama festival belanja online Single Day di Indonesia pada 11 November lalu menunjukkan kaum prialah yang justru lebih gila belanja.

Baca Juga: Jangan Terbujuk “Setan Diskon” 11.11

Dari 500.000 pengunjung website iPrice dan pencari melalui Google Search di Indonesia selama 10-11 November 2018 diketahui 55% konsumen Single Day merupakan laki-laki, 45%-nya wanita.

Persentase Pencari Promo Single Day 2018

iPrice menduga hal itu didorong oleh banyaknya promo barang-barang elektronik dan gadget seperti laptop, perlengkapan komputer, ponsel pintar, dan lain-lain.

Selain barang-barang elektronik dan gadget, yang paling banyak dicari adalah promo tiket.

 

Promo yang Paling Dicari

Untuk pencarian tiket, sepertinya maskapai penerbangan murah AirAsia ketiban berkah.

iPrice menyebut “promo AirAsia’, “AirAsia 11.11”, dan “AirAsia” menjadi kata kunci (keyword) yang paling banyak dicari selama Single Day. Itu bisa jadi dipicu oleh promo kursi gratis maskapai asal Malaysia tersebut.

Untuk diketahui, AirAsia menawarkan 5 juta kursi gratis kepada pelanggan dalam pemesanan selama satu minggu sejak 11.11.

Trafik pengunjung e-commerce mulai naik sejak jam 10 malam pada 10 November. Padahal, kala hari biasa trafik antara jam 9 malam sampai 4 pagi justru menurun.●

Teks: TechnoBusiness Insight

Data: iPrice Group

Grafis: TechnoBusiness (Cover), iPrice Group (Dalam)

 

Padiciti dan BukopinetJalin Kerja Sama Bisnis

Jakarta, TechnoBusiness ID · Padiciti.com, penyedia layanan akomodasi online di bawah naungan PT Indo Corpora Investama, anak usaha PT Kresna Graha Investama Tbk. (IDX: KREN), hari ini menandatangani kesepakatan kerja sama bisnis dengan Bukopinet.

Bukopinet merupakan anak usaha PT Bank Bukopin Tbk. (IDX: BBKP) yang melayani pembayaran online (Payment Point Online Bank) sejak 2007. Saat ini, Bukopinet memiliki 30.000 agen atau loket yang tersebar di seluruh Indonesia.

Baca Juga: Omzet Single Day Alibaba “Salip” Canton Fair

“Kini, PadiCiti memiliki 500.000 pelanggan di Tanah Air dan regional Asia.”

Kerja sama kedua perusahaan memungkinkan masyarakat membeli tiket kereta api dan pesawat terbang, baik domestik maupun mancanegara, melalui jaringan-jaringan Bukopinet tersebut.

Bagi Indo Corpora, menyediakan tiket perjalanan bukanlah hal baru. Perusahaan tersebut telah memasarkan tiket kereta api secara online sejak 2012 dengan nama Paditrain. Dari Paditrain itulah kemudian berkembang menjadi Padiciti.

Menurut pendiri dan Direktur Utama Indo Corpora Investama Budi Santoso Asmadi, Padiciti telah berkembang menjadi travel e-commerce platform. Tidak hanya business to customer, Padiciti juga melayani business to business dan corporate account.

“Kini, PadiCiti memiliki 500.000 pelanggan di Tanah Air dan regional Asia,” ungkap Budi kepada media dalam acara penandatanganan kerja sama di Jakarta, Selasa (13/11).·

—Anwar Ibrahim, TechnoBusiness ID · Foto: Padiciti.com