Kerugian pelanggaran data melonjak selama pandemi COVID-19.

Kerugian pelanggaran data turut melonjak seiring dengan mengganasnya pandemi COVID-19.

Jakarta, TechnoBusiness Insights Seiring dengan merebaknya wabah virus COVID-19 yang dahsyat, virus keamanan data global juga tak kalah ganas menyerang korbannya.

Baca Juga: Indeks Keyakinan Perdagangan Digital Asia Tenggara: Optimistis

Bahkan, berdasarkan hasil studi Ponemon Institute yang disponsori IBM Security, diketahui bahwa selama pandemi inilah kerugian pelanggaran data mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Hasil studi yang dirilis pada Rabu (4/8) itu mengungkapkan bahwa kerugian pelanggaran data global saat ini rata-rata mencapai US$4,24 juta per insiden, kerugian terbesar dalam 17 tahun sejarah studi dibuat.

Baca Juga: Jumlah Pengguna Facebook Kuartal 2/2021 Capai 2,9 Miliar

Dari 500 perusahaan yang disurvei terungkap jika insiden keamanan menjadi lebih mahal dan sulit dikendalikan karena peralihan operasional yang drastis selama pandemi dengan biaya yang meningkat hingga 10%.




Memang pandemi mempercepat transformasi digital perusahaan, karyawan pun lazim bekerja dari rumah. Sayangnya, kecepatan itu tidak diimbangi dengan kemampuan mereka menghambat pelanggaran data.

Perusahaan-perusahaan yang menerapkan bekerja dari rumah mengalami kerugian pelanggaran data rata-rata sebesar US$4,96 juta, US$1 juta lebih besar daripada yang bekerja normal di kantor (US$3,89 juta).

Baca Juga: Jumlah Pelanggan J&T Express di Indonesia Capai 100 Juta

Meski industri kesehatan paling bergairah selama pandemi, kerugian pelanggaran data yang diderita juga melonjak. Kerugian pelanggaran data di industri itu mencapai US$9,23 juta per insiden, naik US$2 juta dari tahun sebelumnya.   


Menurut IBM Security, kredensial pengguna yang dicuri—paling umum (44%) adalah nama, e-mail, kata sandi—menjadi akar penyebab pelanggaran paling umum dalam penelitian ini.


Baca Juga: Jumlah Member Afiliasi Jakmall Capai 10.000 Orang

“Kerugian pelanggaran data yang lebih tinggi adalah kerugian tambahan lain untuk bisnis setelah peralihan teknologi yang cepat selama pandemi,” kata Chris McCurdy, Vice President dan General Manager IBM Security.


Tapi, adopsi AI, analitik keamanan, dan enkripsi adalah tiga faktor mitigasi teratas yang terbukti mengurangi kerugian pelanggaran data antara US$1,25-1,49 juta dibanding perusahaan yang tidak mengadopsinya.

Teks: TechnoBusiness Insights

Data: IBM Security, Agustus 2021

Foto: Pexels


Tekan “tombol lonceng” di sisi kiri layar Anda untuk mendapatkan notifikasi berita terbaru dari TechnoBusiness lebih cepat. 

Simak berita-berita kami dalam bentuk video di kanal TechnoBusiness TV. Jangan lupa berikan atensi Anda dengan “like, comment, share, dan subscribe”.

LEAVE A REPLY

Masukkan komentar Anda di sini!
Please enter your name here