Connect with us

TechnoBusiness Insights

Mengapa 73% Karyawan Indonesia Bersedia Kembali ke Perusahaan Lama?

Ada beberapa alasan mayoritas karyawan di Indonesia bersedia kembali ke perusahaan sebelumnya.

Published

on

Seorang karyawan sedang menjalani proses wawancara untuk direkrut kembali oleh perusahaan lamanya.

Jakarta, TechnoBusiness Insights ID Ternyata 73% karyawan di Indonesia bersedia kembali ke perusahaan sebelumnya. Untungnya, 70% perusahaan yang sedang aktif merekrut karyawan juga menyatakan siap mempertimbangkan, bahkan melakukannya tanpa ragu.

Hal itu terungkap dari hasil survei Robert Wolters, perusahaan konsultan perekrutan profesional yang memiliki 31 kantor perwakilan secara global, yang dituangkan dalam laporan berjudul Boomerang Employees dan dirilis pada Selasa (28/11).

TechnoBusiness Insights: Pasar Pusat Data Modular Global 2023 Bernilai US$25,5 Miliar

Pertanyaan besarnya, mengapa hampir semua karyawan di Indonesia bersedia kembali ke perusahaan sebelumnya? Eric Mary, Country Head Robert Walters Indonesia, mengatakan ada beberapa alasan yang melatarbelakangi karyawan mau kembali ke perusahaan lama.

Advertisement

“Beberapa alasan itu, antara lain jika terdapat peluang untuk mendapatkan gaji yang lebih baik, peluang pengembangan karier, dan sistem kerja yang lebih fleksibel,” katanya. “Sebanyak 21% lainnya bersedia jika terjadi perubahan kepemimpinan atau struktur tim.”

Kembali ke perusahaan sebelumnya amat memungkinkan karena diketahui sebanyak 92% karyawan di Indonesia masih tetap menjalin hubungan baik dengan perusahaan sebelumnya. Bahkan, dalam dua tahun ini, 30% karyawan telah menghubungi perusahaan sebelumnya untuk mencari peluang kerja.

TechnoBusiness Insights: Waduh, Sebagian Insiden Keamanan Siber Justru Disengaja!

Harus Seimbang

Di satu sisi banyak karyawan yang bersedia kembali ke perusahaan lama, tapi di sisi lain perusahaan lama mesti memerhatikan satu hal: keseimbangan. Memang tak salah merekrut mantan karyawan alias boomerang employee untuk mengatasi kekurangan tenaga ahli (skills shortage) tertentu.

Advertisement

“Namun, harus ada keseimbangan. Pemberi kerja harus memastikan telah membuka peluang secara merata agar tak terjadi kesalahpahaman di dalam organiasi bahwa untuk mendapatkan promosi atau kenaikan gaji harus menjadi boomerang employee terlebih dulu,” ungkap CEO Robert Walters Toby Fowlston.

Teks: TechnoBusiness Insights ID

Data: Robert Walters, November 2023

Foto: Tima Miroshnichenko/Pexels

Advertisement