Setelah Facebook dan Google, kini giliran TikTok yang dicurigai menyalahgunakan data pengguna. Benarkah? 

California, TechnoBusiness ● Setelah raksasa jejaring sosial Facebook dan mesin pencari Google yang diduga memanfaatkan data pengguna, kini giliran TikTok yang dicurigai.

Baca Juga: Aplikasi Video Musik TikTok Ekspansi ke Pasar Indonesia

Kali ini, kecurigaan itu datang dari Angkatan Darat Amerika Serikat setelah anggota senat Partai Demokrat Chuck Schumer mengungkapkan kemungkinan yang terjadi.


Schumer, seperti diceritakan Sekretaris Angkatan Darat Amerika Serikat Ryan McCarthy pada Kamis (21/11), berpendapat bahwa bisa saja aplikasi video populer TikTok dimanfaatkan untuk merekrut remaja setempat untuk keperluan militer.

Karena itu, TikTok perlu diselidiki, kata Schumer. Ia pun mengirimkan surat kepada McCarthy pada 7 November.

Baca Juga: Pascaakuisisi GoPay, PayPal Akuisisi Honey US$4 Miliar



“Pakar keamanan nasional telah menyuarakan keprihatinan tentang pengumpulan dan penanganan data pengguna, alamat IP [internet protocol], data terkait lokasi, metadata, dan informasi pribadi sensitif lainya,” tulis Schumer seperti diberitakan Reuters.

Media tersebut juga mengungkapkan bahwa Schumer merasa prihatin dengan undang-undang China yang diduga mewajibkan perusahaan dalam negeri “untuk mendukung dan bekerja sama dengan pekerjaan intelijen yang dikendalikan oleh Partai Komunis China.”

Baca Juga: Jumlah Unduhan Aplikasi Keuangan di Asia Pasifik Melesat

TikTok, juga dikenal sebagai Douyin, diluncurkan oleh Beijing Bytedance Technology Co. Ltd. pada September 2016. Sejak diluncurkan, aplikasi itu amat digemari bukan hanya remaja China, tapi di seluruh dunia.●

—Philips C. Rubin, TechnoBusiness/PRN ● Foto: TikTok

 

LEAVE A REPLY

Masukkan komentar Anda di sini!
Please enter your name here