Perusahaan di Indonesia yang lumpuh (downtimes) selama 24 jam terkait keamanan siber tahun ini meningkat drastis.

Jakarta, TechnoBusiness Insights ● Tahukah Anda bahwa ternyata jumlah perusahaan di Indonesia yang “lumpuh” terkait keamanan siber tahun ini meningkat drastis dibanding tahun lalu?

Baca Juga: Cisco Raup Pendapatan US$12,4 Miliar pada Kuartal 2/2019

Berdasarkan laporan Cisco 2019 Asia Pacific CISO Benchmark Study yang dirilis di Jakarta, Rabu (27/11), jumlah perusahaan di Indonesia yang lumpuh (downtimes) selama 24 jam atau lebih terkait keamanan siber tahun ini mencapai 19%.

38% responden menerima lebih dari 10.000 peringatan ancaman siber per hari.

Jumlah itu naik signifikan dibanding tahun lalu yang hanya 8%. Tidak hanya itu, jumlah perusahaan di Indonesia yang lumpuh 24 jam terkait keamanan siber juga lebih banyak dibanding di tingkat global yang tercatat sebanyak 4%.

Studi yang melibatkan hampir 2.000 profesional keamanan siber dari seluruh kawasan Asia Pasifik mengungkapkan bahwa praktisi keamanan di Indonesia masih fokus pada hal lain.

Baca Juga: Cisco Akuisisi Luxtera Senilai US$660 Juta

Padahal, ancaman terhadap keamanan siber terus meningkat. Buktinya, 38% responden mengatakan mereka menerima lebih dari 10.000 peringatan ancaman per hari, sedangkan 31% responden lainnya mengaku menerima hingga 50.000 peringatan per hari.

Managing Director Cisco untuk Indonesia Marina Kacaribu (kanan) berbincang dengan Kerry Singleton, Cybersecurity Director Cisco untuk ASEAN.

Akan tetapi, jumlah perusahaan di Indonesia yang lumpuh terkait keamanan siber itu masih lebih sedikit jika dibandingkan dengan jumlah di kawasan Asia Pasifik yang mencapai 23%.

“Perusahaan-perusahaan di Indonesia sudah bekerja lebih baik dalam memulihkan peringatan ancaman yang diterima dibandingkan dengan rata-rata perusahaan di Asia Pasifik,” tulis laporan tersebut.

Baca Juga: E-commerce di Indonesia Tumbuh di Atas Rata-Rata Global

Hasilnya, jumlah perusahaan di Indonesia yang mengalami kerugian keuangan terkait keamanan siber telah menurun.

Perusahaan yang mengaku menelan kerugian biaya lebih dari US$1 juta akibat pelanggaran siber dalam satu terakhir tinggal 24%. Persentase itu tidak sampai separuhnya jika dibandingkan dengan 54% perusahaan tahun lalu.

Baca Juga: 61% Pembayaran “Mobile” Dunia Terjadi di Asia

“Ketika adopsi digital semakin berkembang di Indonesia, kami melihat kesadaran akan keamanan siber di kalangan bisnis makin meningkat,” ungkap Managing Director Cisco untuk Indonesia Marina Kacaribu.

Kesadaran terhadap keamanan siber itu dinilai penting karena keberhasilan ekonomi digital sebagian besar bergantung pada kemampuan perusahaan mengatasi risiko pelanggaran siber.

Teks: TechnoBusiness Insights

Data: Cisco

Foto: Pixabay, Cisco

 

LEAVE A REPLY

Masukkan komentar Anda di sini!
Please enter your name here