Sebagian besar masyarakat membaca berita dari media sosial.

Mayoritas masyarakat mengonsumsi berita dari media sosial—dan meneruskan tanpa membacanya secara lengkap terlebih dahulu. 

Jakarta, TechnoBusiness InsightsMayoritas masyarakat (73%) di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, mengkonsumsi berita dari media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan sejenisnya, bukan langsung berkunjung ke laman penerbitnya.

Baca Juga: Pasar Wearable Global 2021 Bakal Bernilai US$81,5 Miliar

Dalam studi yang dilakukan oleh Kaspersky baru-baru ini terungkap bahwa masyarakat yang mengonsumsi berita dari media sosial terbanyak berasal dari Gen Z (83%), lalu diikuti oleh Milenial (81%), Baby Boomers (70%), dan Gen X (62%).

Berita-berita yang mereka konsumsi memang sebagian besar berasal dari sumber-sumber tepercaya, tetapi ada pula yang sebaliknya. Sayangnya, masyarakat senang meneruskan berita dari media sosial tanpa memverifikasi kebenarannya terlebih dahulu.

Baca Juga: Nilai Penjualan E-commerce Global 2021 Dekati US$5 Triliun

Dalam survei yang juga dilakukan oleh Kaspersky pada November 2020 menyebutkan bahwa hampir 2 dari 10 (18%) responden mengaku membagikan berita tanpa memverifikasi kebenarannya.


Mereka yang membagikan berita tanpa memverifikasi kebenarannya terlebih dahulu juga berasal dari Gen Z (28%), diikuti Gen X (21%), dan Baby Boomers (19%). Yang menarik, Gen Milenial menyumbangkan persentase terendah (16%) dalam hal ini.

Baca Juga: Nilai Pasar Kopi Instan Global Capai US$34 Miliar


Beverly Leow, psikolog dari Mind What Matters, berpendapat bahwa masyarakat membagikan berita tanpa memverifikasi terlebih dahulu karena termotivasi ingin tampil sebagai netizen dengan informasi terkini dan berpengetahuan luas.

“Memverifikasi kebenaran masalah atau validitas informasi yang disajikan mungkin lebih memakan waktu dan membutuhkan lebih banyak upaya daripada menekan tombol ‘bagikan’ atau ‘mengirim kembali’,” ungkap Leow.

Baca Juga: Pendapatan Box Office Global 2020 Parah, Cuma US$12,2 Miliar


Bahkan, dari 1.240 responden, hanya 5 dari 10 responden di semua generasi yang menyatakan bahwa membaca berita secara lengkap terlebih dahulu sebelum membagikannya ke akun personal.

Untuk diketahui, pengguna internet di Asia Tenggara mencapai 400 juta orang setelah mendapat tambahan 40 jutaan pengguna baru selama 2020. Sebanyak 36% pengguna menghabiskan 1-2 jam lebih banyak untuk berselancar di platform online setelah lockdown.


Baca Juga: Apple Kembali Rajai Pasar Ponsel Pintar Global

Sebanyak 28% orang menambah 2-4 jam lebih banyak berselancar di platform online, dan sekitar 17%, menurut General Manager Kaspersky Asia Tenggara Yeo Siang Tiong, menghabiskan 4-6 jam untuk bersosialisasi secara online.•

Teks: TechnoBusiness Insights

Data: Kaspersky, Januari 2021

Foto: Pixabay

 

Simak berita-berita kami dalam bentuk video di kanal TechnoBusiness TVJangan lupa berikan atensi Anda dengan “like, comment, share, dan subscribe”

LEAVE A REPLY

Masukkan komentar Anda di sini!
Please enter your name here