Pengeluaran untuk sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di Asia Pasifik dalam kurun 2018-2023 tumbuh 54%.

Singapura, TechnoBusiness Insights ● Pengeluaran untuk sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di Asia Pasifik tahun ini diperkirakan mencapai US$6,2 miliar.

Berdasarkan data IDC yang dilaporkan dalam IDC Worldwide Semiannual Artificial Intelligence System Spending Guide dan dirilis di Singapura, Jumat (18/10), pengeluaran itu naik hampir 54% dibanding tahun lalu.

Baca Juga: 2024, Pasar Pinjaman Online di Indonesia Capai Rp430 Triliun

Itu membuktikan bahwa industri-industri di kawasan ini telah mulai memanfaatkan kemampuan perangkat lunak AI secara agresif.

Karena itu, pengeluaran untuk AI diproyeksikan bakal meningkat menjadi US$21,4 miliar pada 2023 dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) 2018-2023 sebesar 39,6%.

 

Menurut Ritika Srivastava, Associate Market Analyst IDC Asia Pasifik, sistem AI yang diaplikasikan ke dalam industri beraneka macam, mulai dari chatbot untuk layanan pelanggan hingga untuk meningkatkan efisiensi operasional dan model bisnis.

Baca Juga: Pengiriman PC Global Hanya Tumbuh 1,1%

Pengeluaran anggaran untuk sistem AI di Asia Pasifik, tidak termasuk Jepang, akan dipimpin oleh industri perbankan (10,7%), diikuti oleh ritel (10,2%).

Perbankan menggunakan sistem AI untuk menganalisis dan menginvestigasi penipuan dan agen layanan pelanggan otomatis.

Pertumbuhan pengeluaran tahunan gabungan antara 2018-2023 untuk sistem AI tertinggi diterlihat dalam penelitian dan penemuan farmasi (pharmaceutical research and discovery) (lihat infografis).

Baca Juga: E-commerce Indonesia Tumbuh di Atas Rata-Rata Global

Perangkat keras menjadi area pengeluaran terbesar sistem AI tahun ini dengan hampir US$4 miliar. Pengeluaran itu mayoritas untuk server dan storage.

Sama seperti pengeluaran pada umumnya, China menguasai sekitar 71% pengeluaran untuk sistem AI di Asia Pasifik, dipimpin untuk keperluan pemerintah pusat/daerah dan industri ritel.

Negara-negara lain berperan jauh di bawah China. Korea menyumbangkan 5,4%, diikuti Australia 5,1%. “Tidak mengherankan China menjadi sumber utama investasi AI di Asia,” kata Dr. Christopher Marshall, Associate Vice President IDC Asia Pasifik.

Baca Juga: 61% Pembayaran “Mobile” Dunia Terjadi di Asia

Tencent, Baidu, dan Alibaba merupakan tiga dari sederet perusahaan swasta yang berperan agresif dalam peran pertumbuhan pasar AI di Negeri Tirai Bambu.

“Di tempat lain di Asia, meskipun eksperimen adalah hal biasa, penyebaran perusahaan AI masih relatif jarang,” ungkap Marshall.

Teks: TechnoBusiness Insights

Data: IDC

Grafis: TechnoBusiness Media

 

LEAVE A REPLY

Masukkan komentar Anda di sini!
Please enter your name here