Webinar "E-commerce Operations Asia Summit" yang digelar Global Supply Chain Council, Kamis (16/9).

Pasar logistik Indonesia amat potensial, tapi tantangan yang harus dihadapi “para pemainnya” juga banyak.

Jakarta, TechnoBusiness ID Pasar e-commerce Indonesia tumbuh pesat—yang menurut Google, Temasek, dan Bain melompat dari US$10 miliar pada 2018 menjadi US$32 miliar pada 2020.

Baca Juga: Indosat Ooredoo dan 3 Merger Jadi Indosat Ooredoo Hutchison

Angka itu diperkirakan akan terus melaju dengan akumulasi nilai pembelian produk dari e-commerce (gross merchandise value) pada 2025 mencapai US$83 miliar (CAGR 2020-2025 sebesar 21%).

Pasar e-commerce yang tumbuh subur itulah, berdasarkan data Kementerian Perdagangan, yang lantas mengerek nilai pasar logistik Indonesia dari US$177 miliar (2017) menjadi US$220 miliar (2020).

Baca Juga: Proses Pembukaan Rekening Bank Digital Terlalu Lama!

“Pasar logistik Indonesia masih berpotensi tumbuh seiring pertumbuhan e-commerce ke depan,” ungkap Jeffrey Bahar, Group Deputy CEO Spire Research and Consulting, dalam “E-commerce Operations Asia Summit”, yang diselenggarakan oleh Global Supply Chain Council (GSCC), Kamis (16/9).




Namun demikian, pertumbuhan pasar logistik Indonesia, terutama pengiriman last-mile untuk e-commerce, tidak maksimal karena masih memiliki sejumlah kendala.

Kendala-kendala itu, antara lain buruknya infrastruktur transportasi, kurangnya kesiapan fasilitas pergudangan, alamat pelanggan yang acap kali salah, besarnya transaksi cash-on-delivery (COD), dan lain sebagainya.


“Sebagai contoh, karena transaksi COD, kurir tidak bisa meninggalkan barang kiriman karena harus bertemu pembeli untuk menerima pembayarannya,” jelas Jeffrey.

Baca Juga: 81% Perusahaan Indonesia Akui Data Pelanggannya Rawan Bocor

Kalau tidak bertemu dengan pembelinya, ia melanjutkan, kurir akan membawa kembali barang kiriman tersebut sehingga akan memengaruhi kinerja seperti skor dan target pengirimannya.

Lalu, proses kepabeanan dan cukai yang tidak konsisten dan memakan waktu serta masalah klasik, yaitu biaya logistik yang relatif tinggi karena luasnya wilayah dan buruknya infrastruktur transportasi.


Jadi, kata Jeffrey dalam webinar yang dipandu oleh Executive Director GSCC Max Henry, dapat disimpulkan bahwa pasar logistik Indonesia memiliki potensi besar di masa depan, tapi tantangannya juga banyak.

—Purjono Agus Suhendro, TechnoBusiness ID Foto: Spire Research and Consulting


Tekan “tombol lonceng” di sisi kiri layar Anda untuk mendapatkan notifikasi berita terbaru dari TechnoBusiness lebih cepat. 

Simak berita-berita kami dalam bentuk video di kanal TechnoBusiness TV. Jangan lupa berikan atensi Anda dengan “like, comment, share, dan subscribe”.

LEAVE A REPLY

Masukkan komentar Anda di sini!
Please enter your name here