Penyediaan fasilitas cold storage di layanan logistik menjadi bisnis yang menarik.

Bisnis cold storage di Asia Pasifik amat menawan karena didorong oleh kebutuhan pengiriman vaksin COVID-19 

Jakarta, TechnoBusiness Insights • Pengembangan vaksin COVID-19 telah meningkatkan permintaan terhadap layanan penyimpanan dingin (cold storage) di Asia Pasifik.

Baca Juga: Pasar Perkantoran Global 2020 Anjlok karena Pandemi

Apalagi, para ilmuwan memperkirakan vaksin tidak akan menjadi suntikan tunggal, melainkan suntikan tahunan seperti vaksin flu untuk menjaga keefektifannya.

Itu sebabnya, dibutuhkan cold storage dalam proses rantai pasok logistiknya, melengkapi kebutuhan untuk pengiriman produk-produk e-commerce.

Dalam laporan terbarunya berjudul “APAC Cold Storage Logistics”, Cushman & Wakefield (NYSE: CWK) mengungkap tren itu.

Baca Juga: 4 dari 5 Perusahaan Fintech di Asia Tenggara Siap Ekspansi


Perusahaan jasa properti komersial global asal Chicago, Illinois, Amerika Serikat, tersebut mengungkapkan bahwa sekitar 25% produk kesehatan peka terhadap suhu dan harus dipertahankan di sekitar suhu tertentu.

Sehingga, seluruh proses pengiriman produk kesehatan—bersamaan dengan obat-obatan, produk e-commerce, dan makanan-minuman—amat penting untuk diperhatikan.

Permintaan yang melonjak terhadap cold storage itulah yang membuat harga sewanya naik 50-100%, bahkan lebih, jauh lebih tinggi dibanding dry storage.

Baca Juga: Jumlah pengguna 5G Tahun Ini Sekitar 220 Juta Orang

Padahal, di Asia Pasifik, kapasitas cold storage-nya, menurut Global Cold Chain Alliance, masih sangat rendah dibanding di Amerika Serikat yang pada 2018 sudah mencapai 0,5 meter kubik per per kapita.

Agar kapasitas cold storage di Asia Pasifik per kapitanya sama dengan di Amerika dibutuhkan penambahan 411 juta meter kubik pasokan baru.

Itu berarti, kawasan ini harus membangun hampir dua kali lipat cold storage dibanding kapasitas yang ada saat ini.

Baca Juga: Penjualan Ponsel Pintar Global Kuartal 3/2020 Turun 5,7%

Itu juga berarti layanan cold storage di kawasan regional amat potensial untuk digarap.

%titleWalaupun biaya pembangunannya lebih mahal, karena membutuhkan pemasangan insulasi dan mesin pendingin, tetapi harga sewanya juga tinggi.

Oleh sebab itu, menurut Head of Research Business Development Services Cushman & Wakefield Singapore and Southeast Asia Christine Li, jika memungkinkan, tidak ada salahnya investor dan pengembang melirik potensi tersebut.

Layanan cold storage menjadi lebih menarik karena persyaratan yang khusus menjadikan penyewa cenderung membutuhkan waktu sewa yang lebih lama.


Baca Juga: Pengiriman Ponsel Pintar Global “Rebound” di Akhir Tahun

“Jangka waktu secara untuk fasilitas cold storage adalah 10-20 tahun, jauh lebih lama dibanding sewa gudang dry storage yang hanya tiga tahun, setidaknya seperti di Singapura,” kata Li.

Meski dipandang sebagai ceruk khusus, tapi ke depan layanan cold storage bisa berubah menjadi bisnis layanan yang mainstream.

“Sehingga, kecepatan investor menggarapnya akan menentukan seberapa besar potensi keuntungan yang akan diraihnya,” ungkap Li.

Teks: TechnoBusiness Insight

Data: Cushman & Wakefield, Desember 2020

Foto: Cushman & Wakefield

 

Simak berita-berita kami dalam bentuk video di kanal TechnoBusiness TVJangan lupa berikan atensi Anda dengan “like, comment, share, dan subscribe”.

LEAVE A REPLY

Masukkan komentar Anda di sini!
Please enter your name here