Kawasan perkantoran Jakarta

Pasar properti Jabodetabek tumbuh negatif jika dibanding tahun lalu akibat kuatnya pengaruh pandemi.

Jakarta, TechnoBusiness InsightsPasar properti Jabodetabek sepanjang 2020 tumbuh minus akibat kuatnya pengaruh pandemi COVID-19. Awalan yang baik dalam dua bulan pertama gagal mencetak pertumbuhan.

Baca Juga: Pandemi Dorong Kenaikan Harga Sewa Cold Storage

Gambaran anjloknya pasar properti Jabodetabek itu dikemukakan oleh perusahaan jasa properti komersial Cushman & Wakefield Indonesia di Jakarta pada Senin (28/12).

“COVID-19 telah menentukan gambaran umum pasar properti pada 2020. Pandemi tidak dapat disangkal telah berdampak negatif pada pasar properti Jabodetabek,” ungkap Managing Director Cushman & Wakefield Indonesia Lini Djafar. 

Pasar perkantoran di area dan di luar pusat bisnis distrik Jakarta menyumbang penyerapan negatif untuk pertama kalinya dalam 21 tahun terakhir (masing-masing minus 82.400 m2 dan 57.000 m2).

Baca Juga: 4 dari 5 Perusahaan Fintech di Asia Tenggara Siap Ekspansi


Terjadinya perampingan, relokasi, bahkan penutupan kantor di semua gedung perkantoran menyusul memburuknya kondisi bisnis telah memicu berkurangnya penyerapan ruang kantor di Ibu Kota.

Pasokan ruang perkantoran baru selama 2020 yang seluas 366.000 m2 pun lebih rendah dibanding periode tahunan sebelumnya. Akibatnya, tarif sewanya pun terkoreksi. 

Lalu, tak sulit untuk mengatakan pasar pusat perbelanjaan turut menyumbang anjloknya pasar properti Jabodetabek pada 2020. Pembatasan operasional selama pandemi jelas menjadi penyebabnya.

Baca Juga: Jumlah pengguna 5G Tahun Ini Sekitar 220 Juta Orang

Pandemi tidak dapat disangkal telah berdampak negatif pada pasar properti Jabodetabek.  

Cushman & Wakefield Indonesia menyebut tingkat hunian pusat perbelanjaan di Jakarta sebesar 77,1%, turun 4,0% dibanding tahun lalu. Padahal, pasokannya justru meningkat 1,3% menjadi 4,57 juta m2.

Dengan demikian, para pemilik pusat perbelanjaan di Jakarta memilih untuk tidak menaikkan tarif sewa dan biaya layanan (service charge) pada tahun depan atau setidaknya sampai pandemi terkendali.

Sementara itu, harus diakui, pandemi juga telah memengaruhi permintaan terhadap pasar kawasan industri di Jabodetabek. Meski ada pasokan baru, seperti dari Suryacipta Subang Smartpolitan, misalnya transaksi penjualan lahan kawasan industri turun.

Baca Juga: Penjualan Ponsel Pintar Global Kuartal 3/2020 Turun 5,7%

Cushman & Wakefield Indonesia memperkirakan transaksi penjualan lahan kawasan industri Jabodetabek selama 2020 hanya sekitar 150 hektare. Tapi, itu 53,3% lebih rendah dibanding transaksi tahun sebelumnya.

Pasar perhotelan, sama nasibnya seperti pasar pusat perbelanjaan dan perkantoran, menjadi subsektor properti Jabodetabek yang paling terdampak pandemi.

Walau begitu, tetap masih ada subsektor properti yang tangguh dari terpaan badai COVID-19, yakni subsektor hunian, terutama perumahan tapak.


Baca Juga: Pengiriman Ponsel Pintar Global “Rebound” di Akhir Tahun

Meski sempat tertekan di awal pandemi, pasar perumahan Jabodetabek tetap meningkat dengan pasokan yang bertambah 11.371 unit atau tumbuh 2,97% dibanding tahun lalu.

Pasokan hunian baru itu, menurut Cushman & Wakefield, didominasi oleh perumahan segmen menengah-bawah dan menengah dengan harga antara Rp800 juta hingga Rp1,5 miliar.

Pada 2021, berbekal tiga pendorong utama, antara lain pertumbuhan ekonomi nasional yang diprediksi mencapai 5%, dimulainya program vaksinasi COVID-19, dan diberlakukannya Omnibus Law, diharapkan mampu mendongkrak daya beli masyarakat terhadap properti.•

Teks: TechnoBusiness Insights

Data: Cushman & Wakefield Indonesia, Desember 2020

Foto: Pixabay

 

Simak berita-berita kami dalam bentuk video di kanal TechnoBusiness TVJangan lupa berikan atensi Anda dengan “like, comment, share, dan subscribe”.

LEAVE A REPLY

Masukkan komentar Anda di sini!
Please enter your name here