Perbankan digital sedang menjadi tren belakangan ini.

Oleh Eka Rivia Sakti | Konsultan Spire Research and Consulting

Spire Insights - Perbankan digital dan online telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir, tetapi pandemi telah memaksa adaptasi hal tersebut dalam skala besar. Menurut analisis Fidelity National Information Services, sebuah perusahaan jasa keuangan internasional, ada lonjakan 200% dalam pendaftaran perbankan seluler selama bulan April 2020. Lonjakan tersebut pun disertai penurunan 50% transaksi di cabang di bulan yang sama, menurut perusahaan data perbankan AS Novantas.

Baca Juga: Spire Research and Consulting Memiliki Empat Divisi Riset 

Bagaimana dengan kondisi di dalam negeri? Selama April 2020, kondisi industri perbankan di Indonesia cukup normal walaupun secara umum ekonomi diperkirakan akan menurun akibat pandemi COVID-19. Bank Indonesia juga menyatakan perlambatan ekonomi akibat virus Corona tidak akan berdampak pada perbankan nasional karena kondisi perbankan saat ini jauh lebih stabil dan kokoh dibandingkan krisis 1998.

Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso memastikan industri perbankan tetap terkelola dengan didukung oleh permodalan yang tinggi dan likuiditas yang cukup, meski ada tekanan yang dialami akibat perlambatan ekonomi.

Baca Juga: Spire Insights: Manisnya Peluang Bisnis Masker di Masa COVID-19

Dalam laporan “Visi Teknologi Perbankan 2020”, perusahaan-perusahaan konsultan mengamati bahwa berbagai perubahan di sektor perbankan telah diimprovisasi dan dipercepat oleh kondisi pandemi. Dengan begitu, tren yang telah kita lihat akhir-akhir ini seperti pembayaran touchless, peralihan dari transaksi di cabang, pinjaman digital, dan bekerja dari rumah akan menjadi kebiasaan baru yang akan melampaui pandemi, prediksi Accenture. Tantangan bagi lembaga keuangan adalah untuk berpikir jangka panjang serta terus memenuhi kebutuhan nasabah yang mendesak.




Menurut survei yang dilakukan oleh Maybank pada 2020, konsumen Indonesia sangat terbuka terhadap perbankan digital. Selama tiga tahun terakhir, penggunaan bulanan saluran perbankan digital di Indonesia telah tumbuh dua kali lebih cepat dari pasar negara berkembang Asia lainnya. Selain itu, 56% pelanggan non-digital mengatakan bahwa mereka kemungkinan besar akan menggunakan perbankan digital dalam enam bulan ke depan; ini adalah angka tertinggi kedua untuk negara berkembang mana pun di Asia, setelah Myanmar.


Baca Juga: Spire Insights: Bagaimana Tetap Produktif Selama Karantina?

Konsep perbankan digital di Indonesia telah dicetuskan sejak 5 tahun silam oleh PT Bank BTPN Tbk (BTPN). Ditandai dengan peluncuran Jenius pada Agustus 2016, BTPN memperkenalkan sebuah aplikasi yang memungkinkan calon nasabah mendaftarkan rekeningnya tanpa perlu mengantre di customer service. Terbukti, inovasi BTPN lewat Jenius mendapatkan respons positif terutama di kalangan generasi muda yang memiliki mobilitas tinggi.

Layanan perbankan digital pun terus bermunculan setelahnya. Sebut saja aplikasi Digibank dari DBS yang mengusung tema Bank Less Live More, layanan video banking di beberapa cabang BCA, fasilitas digital machine banking milik CIMB, dan Tabungan PermataME yang diselenggarakan oleh Bank Permata.


Baca Juga: Spire Insights: Dampak COVID-19 terhadap Sistem Bekerja Masa Depan

Kesempatan emas dalam hal digitalisasi perbankan di antaranya terdorong oleh pertumbuhan populasi profesional muda dari sekitar 1 juta orang pada 2017 menjadi 2,9 juta orang pada 2020. Penetrasi telepon seluler dan internet juga tidak boleh diabaikan dengan 64% orang Indonesia sudah menikmati kedua fasilitas tersebut. Selain itu, perkembangan teknologi yang semakin pesat seperti adanya e-KYC, pembayaran via QR code dan NFC turut serta berkontribusi terhadap digitalisasi bank lebih jauh lagi.

Namun, tak ada gading yang tak retak. Kendati prospeknya sangat cerah, bank juga harus mengelola risiko siber terkait karena kepercayaan nasabah adalah salah satu aset utama bank. Ancaman phishing masih merupakan salah satu risiko siber terbesar yang dapat menghantui nasabah di mana data nasabah dapat dicuri via website atau aplikasi tiruan dari suatu bank.



Baca Juga: Spire Insights: Dealing Government Affairs in Indonesia

Serupa namun tak sama dengan malware, di mana gadget yang digunakan nasabah bisa saja disusupi oleh virus yang mencoba mengorek data nasabah. Risiko sosial juga membayangi nasabah, mengingat aksi penipuan yang saat ini semakin kreatif di mana penipu akan mencoba untuk meminta nomor rekening, password, maupun kode verifikasi/OTP dari nasabah.

Dilihat dari aspek regulasi dan dukungan pemerintah, saat ini Indonesia juga masih perlu mengejar ketertinggalan dengan inovasi dan ide-ide yang terus berkembang sembari meningkatkan fungsi pengawasan agar digitalisasi perbankan dapat memberikan rasa nyaman dan aman bagi konsumen.


Baca Juga: Spire Insights: Perubahan Perilaku Konsumen Saat COVID-19

Beralih ke digitalisasi perbankan tentu saja membuka banyak peluang bagi bank sementara pada saat yang sama membuka bank terhadap tantangan keamanan siber sebagai risiko yang perlu diminimalisir. Saat ini, Indonesia berada di fase awal sehingga masih terlalu dini untuk melihat seperti apa perkembangan ke depannya. Dari sisi konsumen, penting bagi kita untuk terus beradaptasi agar tidak ketinggalan zaman serta tentunya tetap waspada terhadap berbagai risiko dan kelemahannya.•

Catatan: Artikel ini dibuat dan menjadi tanggung jawab sepenuhnya oleh Spire Research and Consulting. 

 

 

%titleSpire Research and Consulting merupakan perusahaan riset pasar dan konsultasi bisnis global, terutama di negara-negara berkembang. Perusahaan yang didirikan pada 2000 di Singapura ini kini memiliki kantor perwakilan di semua negara Asia Pasifik dan berkantor pusat di Tokyo, Jepang.

PT Spire Indonesia | Wisma BNI Lt. 25 Unit 8-10, Jalan Jend. Sudirman Kav. 1, Jakarta 10220, Telp/Faks: (021) 57945800 www.spireresearch.com

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Masukkan komentar Anda di sini!
Please enter your name here