Oleh Binti Nur Azizah | Konsultan Spire Research and Consulting

Spire Insight ● E-commerce, kata yang sudah tidak asing lagi terutama untuk generasi millennial pengguna gadget dan internet. E-commerce merupakan singkatan dari electronis commerce, diartikan sebagai aktivitas transaksi jual-beli barang, servis atau transmisi dana atau data dengan menggunakan elektronik yang terhubung dengan internet. Transaksi e-commerce ini bukan lagi hal baru di tanah air, bahkan perkembangannya terbilang sangat pesat. Selama kurun waktu 4 tahun terakhir, e-commerce di Indonesia mengalami peningkatan hingga 500 persen. Riset terbaru Google dan Temasuk dalam laporan e-Conomy SEA 2018 menunjukkan bahwa ekonomi digital Indonesia tahun ini mencapai US$27 miliar atau sekitar Rp391 triliun. Angka tersebut menjadikan transaksi ekonomi digital Indonesia berada di peringkat pertama untuk kawasan Asia Tenggara dengan kontribusi sebesar 49 persen.

Baca Juga: Kekuatan Iklan dan Efektivitasnya

Perkembangan E-commerce yang begitu pesat di Indonesia didukung oleh berkembangnya internet. Survei dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mengungkap bahwa lebih dari setengah penduduk Indonesia kini telah terhubung ke internet. Indonesia saat ini memiliki 132,7 juta pengguna internet atau 51,8 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Sekitar 10 persen yang pernah melakukan belanja online, atau sekitar 15 juta orang. Dengan demikian, kebutuhan belanja secara offline masih sangat besar. Tetapi tidak dipungkiri bahwa angka 10% ini mengambil pasar toko offline.

Bisa dilihat dari beberapa ritel besar yang tutup di Indonesia. Sepanjang tahun ini, HERO setidaknya telah menutup 32 gerai retailnya setelah sebelumnya menutup 26 gerai Hero Supermarket. Bahkan, penutupan gerai retail di bawah naungan HERO ini telah terjadi sejak beberapa tahun lalu.  Pada 2018, gerai yang dimiliki HERO berjumlah 445 yang terdiri atas 82 gerai Giant Ekspres, 57 Giant Ekstra, 3 Giant Mart, 32 Hero, 270 Guardian, dan 1 gerai IKEA. Angka ini turun dibandingkan 2017 di mana perusahaan memiliki 449 gerai.  Pada 2015, jumlah gerai HERO sempat menyentuh angka 610. Penyusutan terjadi pada gerai makanan, seperti Giant dan Hero. Di sisi lain, gerai kecantikan dan perawatan Guardian justru tumbuh dalam beberapa tahun terakhir. Penurunan ini dapat dipengaruhi oleh factor pergeseran kebiasaan belanja masyarakat dari offline ke online.

Baca Juga: Spire Research and Consulting Memiliki Empat Divisi Riset

E-commerce berkembang secara pesat dikarenakan bebeapa hal. Indonesia memiliki jumlah penduduk yang banyak dengan karakter yang konsumtif, hal ini mendorong pergerakan ekonomi terutama disektor perbelanjaan. Meningkatnya jumlah pengguna internet dan smartphone di Indonesia, sehingga akses untuk berbelanja online lebih mudah dan dapat dilakukan dimanapun dalam hitungan menit. Munculnya pelaku bisnis online secara pesat, hal ini dikarenakan bisnis online sangatlah mudah dibandingkan dengan membuka bisnis offline yang mengharuskan pelaku bisnis melakukan izin dan sewa tempat. Jangkauan yang luas dari layanan e-commerce hingga ke berbagai daerah di Indonesia merupakan factor yang mendukung perkembangan e-commerce, pembeli dan penjual dapat berinteraksi tanpa adanya Batasan geografis. Untuk kemudahan bertransaksi, e-commerce didukung oleh berkembangnya system pembayaran di Indonesia. Pembayaran dapat dilakukan dengan cash, kartu kredit, cicilan, transfer, virtual account, serta beberapa system pembayaran dari fintech. Infrastrurkur yang terus dibangun dan lebih baik memudahkan pengiriman barang ke konsumen dari berbagai daerah di Indonesia.

Baca Juga: Menganalisis Nasib Industri Baja Nasional

Perkembangan e-commerce diiringi dengan pergeseran minat belanja masyarakat dari offline ke online. Pergeseran minat belanja tersebut dikarenakan beberapa hal diantaranya belanja online dapat menghemat waktu dan tenaga, tersedia banyak promo, pilihan pembayaran yang sangat bervariasi, varian barang yang lebih lengkap, dan bisa membandingkan harga. Selain itu, kemacetan di kota- kota besar juga menjadi penyebab pergeseran minat belanja masyarakat dari offlien ke online. Dengan duduk manis dirumah dan menikamti secangkir kopi, masyarakat dapat berbelanja barang yang disuka tanpa harus meninggalkan hunian dan keluarga.

Toko offline memang mengalami penurunan terutama untuk retail besar yang menjual kebutuhan sehari- hari seperti makanan. Namun demikian, kebutuhan untuk toko offline tidak akan pernah berhenti. Kebutuhan itu akan selalu ada, karena beberapa masyarakat masih membutuhkan interaksi secara langsung untuk mendapatkan pengalaman mengenai barang yang dibeli dan hal ini tidak bisa didapatkan secara online. Toko offline harus mampu berinovasi lebih untuk menarik konsumen datang ke toko, misalnya melalui customer experience yang lebih baik dan pelayanan lebih yang diberikan ke palanggan melalui one stop services seperti yang dilakukan Transmart. Karena, trend saat ini orang cenderung menghabiskan weekend bersama dengan keluarga. Harga yang kompetitif dengan online dan promo yang bervariasi juga dapat menjadi pilihan untuk menarik konsumen.● SPONSORED CONTENT

Catatan: Artikel ini dibuat dan menjadi tanggung jawab sepenuhnya oleh Spire Research and Consulting. 

Spire Research and Consulting merupakan perusahaan riset pasar dan konsultasi bisnis global, terutama di negara-negara berkembang. Perusahaan yang didirikan pada 2000 di Singapura ini kini memiliki kantor perwakilan di semua negara Asia Pasifik dan berkantor pusat di Tokyo, Jepang.

PT Spire Indonesia | Wisma BNI Lt. 25 Unit 8-10, Jalan Jend. Sudirman Kav. 1, Jakarta 10220, Telp/Faks: (021) 57945800 www.spireresearch.com

 

LEAVE A REPLY

Masukkan komentar Anda di sini!
Please enter your name here