TechnoBusiness Opinion
Jangan Sampai Pelanggan Pindah ke Toko Sebelah
Oleh Achmad Fakhrudin, Senior Vice President PT Multipolar Technology Tbk
TechnoBusiness Opinion ● Pernah mengalami aplikasi yang tiba-tiba lambat saat sedang dibutuhkan? Bagi pengguna, mungkin hanya terasa mengganggu. Tapi, bagi perusahaan, dampaknya bisa jauh lebih besar: transaksi tertunda, produktivitas terganggu, pelanggan kecewa, bahkan kepercayaan pelanggan bisa ikut menurun.
Di era digital, gangguan aplikasi bukan lagi sekadar persoalan IT. Ketika layanan digital menjadi bagian penting dari customer journey, setiap gangguan dapat langsung berdampak pada bisnis.
Karena itu, perusahaan perlu memiliki kemampuan untuk melihat apa yang terjadi di seluruh lingkungan IT, bukan hanya menunggu ketika masalah sudah dirasakan pengguna. Tantangannya, lingkungan IT saat ini semakin kompleks. Aplikasi dapat terhubung dengan cloud, microservices, API, database, hingga berbagail ayanan lainnya. Satu gangguan kecil di satu komponen bisa menimbulkan efek berantai ke layanan yang digunakan pelanggan.
Kondisi seperti ini membuat perusahaan membutuhkan cara pandang yang lebih menyeluruh terhadap lingkungan IT-nya. Salah satunya melalui observability. Berbeda dengan monitoring yang umumnya menjawab “apakah ada masalah?”, observability membantu perusahaan memahami “mengapa masalah terjadi, apa yang terdampak, dan bagaimana menanganinya?”
Dengan menghubungkan data dari aplikasi, infrastruktur, logs, metrics, dan traces, tim IT memiliki konteks yang lebih lengkap untuk memahami kondisi sistem secara menyeluruh. Kemampuan ini menjadi semakin relevan ketika dipadukan dengan AI. Anomali dapat lebih cepat dikenali, potensi akar masalah dapat dianalisis, dan tim dapat memperoleh insight yang membantu mempercepat pengambilan tindakan.
Hal ini menjadi salah satu pembahasan dalam seminar “Unlock Resilient Digital Operations with Elastic Observability & Dell Infrastructure” di Jakarta beberapa waktu lalu. Bagi saya, investasi pada observability bukan semata-mata tentang membuat pekerjaan tim IT menjadi lebih mudah.
Lebih dari itu, ini tentang bagaimana perusahaan membangun operational resilience–kemampuan untuk menjaga layanan tetap berjalan, merespons gangguan dengan cepat, dan meminimalkan dampaknya terhadap bisnis dan pelanggan.
Sebab, pelanggan tidak melihat kompleksitas di balik sistem kita. Mereka hanya melihat satu hal: apakah layanan yang mereka butuhkan tersedia dan bekerja dengan baik? Ketika layanan kita tidak tersedia, pelanggan tidak selalu menunggu sampai kita selesai mencari sumber masalahnya. Bisa jadi, mereka sudah menemukan “toko sebelah”.
Menurut Anda, seberapa cepat perusahaan seharusnya mengetahui bahwa sebuah gangguan IT mulai berdampak pada bisnis—sebelum pelanggan yang menyadarinya lebih dulu?●
