Serangan siber mengancam dalam praktik work from home.

Bekerja dari rumah telah menjadi budaya baru setelah kemunculan pandemi. Sayangnya, itu menjadi sasaran empuk serangan siber. 

Jakarta, TechnoBusiness ID • Trend Micro Incorporated (TYO: 4704, TSE: 4704), perusahaan penyedia solusi keamanan cloud global yang berpusat di Tokyo, memberi peringatan baru.

Baca Juga: Harga Bitcoin Pagi Ini Telah Tembus Rp519 Juta

Dalam laporan yang berjudul Turning the Tide, Trend Micro menyatakan pandemi telah mengubah pola kerja banyak orang dari semula di kantor menjadi dari rumah (work from home/WFH).

Tanpa disadari, WFH diyakini bakal menjadi sasaran empuk serangan siber yang secara khusus menargetkan jaringan internet atau WiFI di rumah-rumah.

Sebagaimana prediksi banyak analis, Country Manager Trend Micro Indonesia Laksana Budiwiyono mengatakan, orang-orang akan tetap WFH sekalipun upaya-upaya untuk mengatasi pandemi terus berlangsung.

Baca Juga: Wow, Tahun Baru 2021 Logo Kia Baru, Lho!


Karena itu, para penjahat maya juga tidak mau ketinggalan dengan diyakini secara diam-diam mereka akan melakukan serangan siber melalui jaringan-jaringan internet rumah.

Masalahnya, serangan siber itu tidak berhenti di jaringan internet-internet rumah. Tetapi, itu menjadi pintu masuk bagi para penjahat untuk melakukan serangan siber berikutnya, yakni mencuri data-data kantor yang nilainya lebih besar.

Tim sumber daya manusia, penjualan, dan jajaran eksekutif senior yang kemungkinan menangani data-data penting perusahaan berpeluang mengalami serangan siber lebih besar.


Baca Juga: SkyBridge Capital Luncurkan SkyBridge Bitcoin Fund LP

WFH diyakini bakal menjadi sasaran empuk serangan siber yang menargetkan jaringan internet di rumah-rumah.

Keyakinan itu memang baru perkiraan, tetapi selama pandemi berlangsung serangan siber di Indonesia terbukti cukup tinggi, bahkan yang paling tinggi di dunia.

Pada kuartal 3/2020, misalnya, Trend Micro mendeteksi Indonesia mendapat serangan siber berkaitan dengan COVID-19 berupa malware sebanyak 11.088 kali.

Dalam waktu yang sama, serangan siber berupa e-mail spam yang memanfaatkan isu COVID-19 juga yang tertinggi di Asia Tenggara dengan total 11.889 kali.

Baca Juga: Bibit Raih Pendanaan US$30 Juta dari Sequoia Capital India

Jadi, Laksana mengatakan, “Tim keamanan perlu melipatgandakan pelatihan kepada para karyawannya sebagai pengguna teknologi, memperkuat deteksi dan respons, serta mengontrol akses secara adaptif.”•

—Intan Wulandari, TechnoBusiness ID • Foto: Trend Micro

 

Simak berita-berita kami dalam bentuk video di kanal TechnoBusiness TVJangan lupa berikan atensi Anda dengan “like, comment, share, dan subscribe”.

LEAVE A REPLY

Masukkan komentar Anda di sini!
Please enter your name here